Suatu hari, bukan hari ini
Hey, suatu saat akan ku beritahu kau semuanya, bukan hari ini. Yaa.. bisa besok, lusa, minggu depan atau bahkan beberapa tahun kedepan tapi yang jelas bukan hari ini. Silahkan hari ini kau bisa panggil aku dengan sebutan apapun, pengecut mungkin. Yang kutahu untuk sesorang yang takut atau tidak berani mengungkapkan sesuatu karena hal yang ‘mungkin’ tidak logis dan tak beralasan itu bisa disebut dengan ‘pengecut’. Sampai detik ini aku memang masih belum bisa jujur tentang bagaimana perasaanku. Kau tahu mengapa? Baiklah, akan kuberitahu. Namun sebelumnya maaf kalau kau tak terima dengan alasanku dan maaf kalau aku tak bisa memberitahumu semuanya karena jauh di dalam diriku saat inipun masih penuh dengan tanda tanya, mengapa? sejak kapan? bagaimana? mengapa harus kau? Hhhh.. terlalu benyak pertanyaan dalam benakku saat ini, tapi tenanglah akan kuberitahu kau jawaban yang ku tahu dari salah satu pertanyaan itu, tentang mengapa aku belum bisa jujur padamu.
Masih membutuhkanmu, itulah alasan utamaku. Aku masih sangat membutuhkanmu, ingin terus mengetahui kabarmu, saling bercerita, mendengarkan ceritamu, walaupun ceritamu yang kudengar melulu tentangmu dan dia, ah tak apa, bagiku saat ini hal itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah aku masih bisa bersamamu. Terdengar menyedihkan ya sepertinya? Hey.. dengarkan aku baik-baik, percayalah hal itu benar-benar tidak seberapa dibandingkan perasaanku dari kemarin yang mati-matian aku simpan rapat hingga detik ini dan sampai hari itu tiba :).
Ragu, iya kamu fikir aku sudah yakin dengan perasaanku ini? Aku jelas masih menunggu keajaiban Tuhan untuk menjawab semua pertanyaan-pertaannyanku dengan segera. Aku berharap bahwa selama ini aku salah, bukan rasa yang aku kira selama ini, melainkan perasaan yang lain, yang jelas lebih wajar. Aku berharap kita akan selalu berteman, bersahabat seperti orang-orang lain tanpa harus menghapus maupun mengendalikan perasaan ini. Sayangnya perasaan ini terlalu berlebih jika aku sebut dengan rasa pertemanan. Dan yaa, aku masih takut untuk menyebut ini dengan CINTA. Bagaimana aku bisa memberitahumu nanti? “Hey, aku memiliki perasaan kepadamu, tapi aku tak tau apa” apakah kau akan membantuku menjawab dengan mengatakan hal yang ingin kudengar? atau bahkan sebaliknya? tidak-tidak.. aku masih belum siap dengan semua jawabanmu. Maaf.
Belum siap meninggalkanmu. Andaiku bisa berkata yang sejujurnya. Entahlah apa yang akan terjadi pada kita ketika hari itu tiba. Ada sedikit keyakinan dalam dirku bahwa akulah salah satu orang diantara kita yang akan mengungkapkan semuanya, hanya menunggu waktu dan tangan Tuhan yang akan menuntun kita. Dan ketika saat itu tiba, ada sedikit keyakinan dalam diriku juga mungkin salah satu diantara kita akan meninggalkan atau bahkan ‘saling meninggalkan’.
Kau mungkin tidak terlalu mengenalku, namun aku amat sangat mengenal bagaimana diriku. Saat hari itu tiba, jika Tuhan tidak merubah hati dan fikiranku, sudah jelas aku akan meninggalkanmu. Hari itu akan menjadi puncak dari segalanya. Dan kumohon jika hari itu tiba, hari dimana bukan hari ini, jangan pernah menyalahkan, mengkhawatirkan apalagi mengasihaniku. Karena itu tidak akan menebus apapun. Ah ya jangan menyalahkanku juga ya, biarkan semuanya kita serahkan pada yang Maha Mengatur. Maaf kalau hari itu aku terlambat atau terlalu cepat mengatakan. Hari itu aku hanya ingin saja. Tanpa ada alasan mungkin, tanpa ada rencana, tanpa ada perhitungan dan rumus-rumus, hahahahaha. Entah kapan. Semoga kita beruda masih bisa bertememu dengan hari itu dan melewatinya dengan atau tanpa air mata (:
Balikpapan, 05 Juli 2017.