Menyongsong Peradaban Fitrah di Usia 22 Kabupaten Sumbawa Barat
Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) merayakan ulang tahunnya yang ke-22 pada tanggal 20 November 2025. Perayaan ini diadakan di depan gedung Graha Fitrah yang terletak di Kemutar Telu Center (KTC). Berbagai pertunjukan menarik disiapkan untuk menandai momen spesial ini, dihadiri oleh berbagai tamu undangan, termasuk Gubernur Nusa Tenggara Barat dan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah pembentukan KSB. Semarak perayaan ini tidak hanya terbatas pada acara seremonial, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan tingkat kabupaten yang disambut antusias oleh masyarakat. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun turut berkontribusi dalam suksesnya setiap acara yang digelar. Di usia yang ke-22, KSB terus berkomitmen untuk menghadirkan inovasi dalam pelayanan publik yang bermanfaat bagi masyarakat. Sejak awal berdirinya, KSB dikenal dengan tagline “Kabupaten Fitrah,” yang memiliki makna mendalam dan diambil dari ajaran al-Qur’an. Istilah ini mengundang banyak pertanyaan di kalangan masyarakat tentang arti dan tujuan penggunaan istilah tersebut. Fitrah, menurut Buya Hamka, adalah kondisi asli manusia yang lahir dalam keadaan murni, yang mengakui adanya kekuasaan Tuhan. Konsep ini menunjukkan bahwa fitrah bersifat potensial, yang dapat berkembang tergantung lingkungan, terutama pengaruh dari orang tua. Keyakinan akan adanya Tuhan merupakan bagian dari fitrah yang tertanam dalam diri setiap manusia. Zakiah Daradjat menjelaskan bahwa fitrah manusia adalah wadah yang dapat diisi dengan keterampilan dan kemampuan yang sejalan dengan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, penggunaan istilah “Fitrah” dalam konteks KSB mencerminkan nilai-nilai kesucian dan kebersihan dalam pemerintahan, di mana para pemimpin diharapkan dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan membawa konsekuensi penting, yaitu konsep berkah. Para ulama mendefinisikan berkah sebagai tambahan kebaikan yang melimpah. Dengan demikian, tagline “Kabupaten Fitrah” bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga simbol yang kuat dalam menjalankan pemerintahan di KSB. Setiap pemimpin diharapkan tidak melupakan pentingnya bersyukur dan tunduk kepada Tuhan dalam menjalankan tugasnya. Pesan yang dapat diambil dari perjalanan KSB selama 22 tahun adalah pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah dalam membangun KSB sebagai Kabupaten Fitrah. Dr. KH. Lalu Zulkifli Muhadli, sebagai pendiri KSB, memiliki visi untuk membangun daerah ini berdasarkan nilai-nilai Islam yang kokoh. Dengan latar belakangnya sebagai ulama dan intelektual, Kiayi Zul merumuskan konsep Kabupaten Fitrah dengan harapan terbentuknya peradaban yang unggul. Konsep Kabupaten Fitrah yang dicanangkan oleh para pendiri KSB harus tetap diingat dan tidak dilupakan oleh generasi mendatang. Pembangunan fisik yang mengesampingkan aspek spiritual dan intelektual tidak akan membawa kemajuan yang berarti. Oleh karena itu, masyarakat Sumbawa Barat perlu fokus pada peningkatan literasi pendidikan dan kecerdasan intelektual. Sayangnya, gerakan literasi di KSB masih perlu ditingkatkan. Komunitas pecinta literasi dan para pejuang literasi belum mendapatkan perhatian yang cukup. Gerakan literasi harus menjadi prioritas, karena ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat dan menciptakan peradaban yang lebih baik. Akses terhadap buku dan ruang baca di KSB perlu diperhatikan dengan serius. Aktivitas membaca tidak hanya harus terbatas di sekolah, tetapi juga harus diperluas ke setiap desa, kelurahan, dan bahkan tingkat RT. Jika ini bisa direalisasikan, maka KSB akan semakin dekat dengan visi menjadi Kabupaten Fitrah yang berlandaskan pada peradaban yang unggul. Dengan semangat perayaan ulang tahun ke-22, diharapkan KSB bisa terus maju dan berkembang, menjadi kabupaten yang diberkahi dan memenuhi harapan masyarakat. Semoga KSB menjadi daerah yang tidak hanya dikenal dengan pembangunan fisiknya, tetapi juga dengan kecerdasan dan keunggulan spiritualnya. Baca selengkapnya di Batuter.Com
















