Rumah
Rumah…
Aku rindu tempat-tempat yang pernah kusebut rumah.
Barangkali seperti kata orang, ketika kita sempat tumbuh di tempat lain, yang berubah bukan hanya koordinat geografis, tapi juga struktur batin kita. Sebab keseharian kita disusun ulang. Cara kita bangun pagi, cara kita berjalan, bahkan cara kita diam. Semuanya menyesuaikan dengan lanskap baru.
Di sana, kita tidak hanya tinggal. Kita juga menjadi.
Menjadi seperti apa aku di tempat lain yang pernah kusebut rumah, mungkin tidak bisa sepenuhnya kubawa bersamaku ke tempat pertama yang kusebut rumah. Tempat yang secara historis membesarkanku.
Barangkali, ini adalah konsekuensi dari bertumbuh. Kita kehilangan kemurnian satu “rumah”. Kita tidak lagi utuh di satu tempat saja. Kita menjadi mosaik. Tersusun dari berbagai ruang, waktu, dan pengalaman yang tidak selalu bisa disatukan rapi.
Bahwa rumah tidak lagi harus berupa satu titik tetap. Ia bisa menjadi sesuatu yang kita bawa dalam cara kita berpikir, dalam ingatan tentang siapa kita dan pernah menjadi seperti apa kita di tempat-tempat itu.
Dan kita tidak pernah benar-benar diminta untuk memilih di mana kita menjadi paling “aku”.










