1 Januari 2026, sebenarnya apa yang kita rayakan?
note: recycling old writing to welcome 2026 :)
Tanggal 1 Januari ditetapkan sebagai permulaan tahun oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM untuk mengenalkan kalender Julian yang berdasar pada pergerakan matahari, menggantikan kalender Romawi yang diperkenalkan Kaisar Romulus pada masa romawi kuno di abad ke 8 SM.
Pada abad pertengahan, terjadi berbagai perubahan penanggalan akibat fluktuasi pengaruh gereja, namun pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII kembali menetapkan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun baru, yang berlaku hingga hari ini.
Penanggalan 1 Januari menyimbolkan permulaan, sebagaimana asal namanya, Dewa Janus, yang memiliki dua wajah sehingga memungkinkannya untuk menengok ke depan dan ke belakang, penegasan simbolis pada waktu yang berlalu dan yang akan datang.
Perayaan tahun baru secara historis dapat ditelusuri sejak masa Babilonia kuno.
Sekarang pertanyaannya, apa yang membuat tahun baru cukup penting sehingga harus dirayakan, atau paling tidak diperingati.
Baik dalam sudut pandang filosofis maupun fisika teoritis, ucapan Happy New Year sebenarnya tidak populer, beberapa memandangnya tidak berdasar sebab waktu itu relatif, bahkan ilusif. Mengapa merayakan sesuatu yang dasar pembuktian eksistensinya saja masih menjadi topik diskursus.
Bagi masyarakat Muslim, diksursus mengenai peringatan tahun baru tidak berhenti di situ, tetapi meluas pada pembahasan aqidah, dan setiap tahun tidak pernah berhenti diperdebatkan.
Jika hendak dijadikan subjek kontemplasi, apalah arti 1 Januari, hanya pergantian detik ke detik sebagaimana mestinya, yang kebetulan pada satu titik pergantian detik tersebut jatuh pada titik awal orbit revolusi bumi terhadap matahari selaras dengan kalender Gregorian, yang karena besarnya pengaruh gereja terhadap perkembangan peradaban pada abad pertengahan maka seluruh dunia ikut mengadopsi hingga hari ini.
Lalu, jika memang tidak signifikan dipandang dari perspektif manapun, mengapa dan untuk apa diperingati?
Realitas terbagi dalam dua dimensi pengukuran yakni ruang dan waktu. Dimensi ruang bisa dipersepsikan oleh indra sehingga pemaknaannya tidak serumit memaknai waktu yang abstrak.
Sebagai konsekuensi dari abstraknya waktu, manusia membutuhkan hulu dan hilir, titik awal dan titik akhir yang cukup konkret agar parameter-parameter "keberhasilan" menjalani waktu bisa diaplikasikan. Manusia membutuhkan batasan waktu yang jelas agar ia dapat melihat sejauh mana ia telah mengusahakan hidupnya dalam periode waktu itu. Tahun menjadi satuan pengukuran paling pas, tidak terlalu panjang pula tidak terlalu singkat.
Pergantian tahun sesungguhnya tidak lebih dari sekadar momentum. Ketika berbicara momentum, maka kita berbicara pergerakan dan akibat dari gerak. Signifikansi sebuah momentum terletak tidak pada momentum itu sendiri, melainkan pada pemaknaan terhadap momentum tersebut.
Momentum tahun baru adalah tentang evaluasi ketercapaian resolusi dan perumusan resolusi-resolusi baru. Tahun baru adalah tentang refleksi diri, apa yang dialami, apa yang dirasakan, dalam kurun waktu satu tahun yang telah diizinkan Allah untuk kita jalani.
Tahun sebagai satuan waktu memudahkan manusia untuk melihat hidupnya dari sudut pandang orang ketiga, menyusun timeline waktu yang sudah dilalui dan ditargetkan untuk dilalui dalam garis linear yang titik akhirnya adalah misteri paling besar dalam eksistensi seorang manusia.
Momentum tahun baru adalah tentang melatih diri untuk melakukan evaluasi yang objektif terhadap diri sendiri dan apresiasi yang berdasar pada kasih sayang untuk diri sendiri. Banyak orang merasa evaluasi dan apresiasi adalah dua konsep yang eksklusif terhadap satu sama lain, ibarat himpunan, maka tidak ada irisan. Evaluasi berarti keras dan objektif, apresiasi berarti lembek dan berbasis emosi yang sudah pasti akan subjektif.
Bagi saya, hidup itu adalah tentang menyelaraskan evaluasi diri dan apresiasi diri. Ketika hidup rasanya berjalan begitu-begitu saja tanpa ada loncatan yang sifatnya signifikan (read: securing the dream job, settling down, getting married, having children), maka sangat mudah bagi 'evaluasi' untuk memukul KO 'apresiasi, uppercut punch tepat di diafragma-lah kira-kira (hiks).
Namun hidup ini jika dihidupi dengan sungguh-sungguh, dengan atau tanpa loncatan nan jauh dan tinggi, maka hidup sudah sangat pantas mendapatkan apresiasi. Soal sungguh-sungguh atau tidak, kita sendiri yang tahu persis. Membiasakan rasa malu jika tidak hidup dengan sungguh-sungguh ketika merenungkan waktu yang sudah berlalu harus dijadikan norma dan standar, agar seorang manusia memiliki sudut pandang adil dalam melakukan refleksi diri.
Menjalani waktu itu adalah tentang mendefinisikan syukur. Kita sering dengar orang bilang, bahagia itu sederhana. Lantas, bagaimanakah bahagia yang sederhana itu.
Bahagia itu sederhana karena sesungguhnya kita sudah dianugerahi rezeki yang berlimpah bersama dengan setiap hembus nafas kita. Kita yang perlu mengenali tiap-tiap anugerah yang tidak terhitung jumlahnya itu. Maka bahagia itu memang sederhana, karena ada bersama basis keberadaan dan kemanusiaan kita, sesederhana kita ada, menghirup oksigen bersama miliaran manusia lain di muka bumi ini.
Waktu adalah akumulasi kesempatan yang bergerak linear hanya ke depan dan tidak dapat berulang, untuk kita agar terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik seiring pergantian detiknya, menjadi manusia yang lebih berilmu, lebih berempati, lebih bersyukur, lebih manusia, lebih menghamba pada Tuhannya.
Waktu hanyalah kendaraan bagi nyawa untuk memiliki bentuk sehingga manusia yang dianugerahi nyawa bisa memahami untuk apa dia dipinjami waktu. Untuk apa dia ada di sini. Apa makna eksistensinya.















