Waktu.
Sejak empat puluh delapan menit yang lalu, aku dikejutkan oleh informasi berpulangnya salah satu senior yang kukenal semasa SMA, tidak terlalu dekat, namun kami saling mengenal, terlebih almh memang sosok yang terkenal di SMAku. Otakku mengaitkan kepulangannya dengan apa yang baru-baru ini diraihnya, ya, belum lama ini almh baru saja lulus dan sudah diwisuda. Lagi, aku teringat, almh di hari sebelumnya, mengunggah sesuatu pada instastory-nya, isinya tidak terlalu kulihat. Hingga salah satu kawanku, memberikan capture-an dari unggahannya itu di grup obrolan Line, dan ya, unggahan itu berisikan kalimat perpisahan. Lalu kawanku itu berpesan pada kami yang berada di grup seperti ini,
“Klo ada temen maneh yg kaya gini perhatiin ya, jangan dianggap sepele”
Entahlah, rentetan informasi yang baru kudapat, juga pesan kawanku itu, cukup menyita perhatianku, padahal aku harus menyelesaikan transkrip wawancara. Tapi tak benar rasanya kalau aku melanjutkan rencana mengerjakan transkrip dengan perhatian yang teralihkan seperti ini.
Otakku seolah dibombardir dengan kata ‘waktu’. Seluruh umat manusia selalu diburu sang waktu, entah apa yang kita lakukan, sebentar atau lama, waktu tak akan menunggu. Seperti halnya ujian yang durasinya enam puluh menit, maka ujian itu akan berhenti pada menit keenam puluh juga. Tapi saat ujian itu, ada yang merasa waktu berjalan sungguh cepat, sedang, tapi ada juga yang merasa sangat lama. Yang merasa enam puluh menit berlalu sangat cepat mungkin disibukkan dengan berpikir jawaban yang tepat untuk soal ujian. Lain halnya yang merasa enam puluh menit berlalu sangat lama, mungkin ia sudah pasrah dan memilih mengerjakan asal saja. Kemudian yang merasa enam puluh menit berlalu dengan tidak terlalu cepat atau lama, mungkin terlampau cerdas dalam mengerjakan setengah soal, dan soal yang tidak bisa dikerjakan, dipasrahkan saja pada Tuhan. Entahlah, banyak kemungkinan.
Cepat, sedang, dan lama adalah persepsi, yang nyata adalah kita diberikan waktu yang sama, satu hari itu dua puluh empat jam, satu minggu itu tujuh hari, satu tahun itu sekian hari, dan perhitungan waktu lainnya. Artinya, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan waktunya. Nah, pembedanya adalah, cara dalam pemanfaatan waktunya, ada yang menyelesaikan satu harinya dengan berselancar di dunia maya, olahraga, bermalas-malasan, mengerjakan tugas, dan sebagainya.
Lalu bila setiap manusia diberi kesempatan yang sama, seharusnya kematian setiap manusia pun sama?
Tidak.
Kesempatan yang sama, tapi batas yang berbeda. Ya, aku menolak mengatakan bahwa kematian adalah pertanda bahwa setiap orang mendapat kesempatan yang berbeda. Kematian adalah batas, sama halnya dengan kelahiran. Kelahiran adalah batas kehidupan individu di rahim, untuk kemudian melanjutkan kehidupan di dunia. Kelahiran, kematian, adalah batas tuk menuju fase kehidupan selanjutnya, yang dalam berbagai keyakinan itu memiliki pemaknaannya masing-masing.
Waktu dapat diprediksi, karena dia terus berjalan, tapi tidak dengan batas. Besok jam 11.00, stasiun televisi akan menayangkan film kesukaan si A. Tapi tidak ada yang tahu, apakah si A besok dapat menonton film itu atau tidak. Saat si A tidak dapat menonton film A, apakah waktu berhenti? tidak.
-----
Refleksi dari alur pikir di atas adalah;
apa aku sudah memanfaatkan waktuku dengan baik? ketika orang lain di pagi hari tadi mengerjakan tugas kuliahnya, sedangkan aku hanya berbaring di kasur sembari memainkan ponsel, apa itu artinya aku sudah memanfaatkan waktuku dengan baik?
Tidak melulu membandingkan diri dengan orang lain itu buruk, karena ya, kita berada di lintasan waktu yang sama dengan orang lain. Yang buruk adalah, menjadikan prestasi orang lain sebagai standar dan akhirnya digunakan tuk mendefinisikan diri sendiri.
Aku merasa, masih lalai dalam memanfaatkan waktu, masih mageran, lamban dalam mengerjakan pekerjaan, dan selalu merasa hari esok selalu ada. Padahal siapa yang tahu, kapan waktu akan menyusuri jalan menuju batas itu.
Masih banyak hal yang ingin kucapai, segudang pengetahuan yang ingin kupahami, dan ribuan orang yang ingin kukenal. Untuk itu, ayo Sak, jadikan ini sebagai pengingat, motivasi, dan jalan awal tuk selalu memanfaatkan waktu dengan baik, selalu sabar, menjalin hubungan yang baik dengan banyak orang, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Doakan aku kawan-kawan!
















