Merujuk pada definisi, meja itu “perkakas yang mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya dan berkaki sebagai penyangganya”
Aku penasaran, bila kaki nya patah dan tidak mampu menyangga, apakah meja itu akan disebut meja? Atau kah lebih tepat kita menyebutnya perkakas yang mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya? apa mungkin disebut meja rusak?
Dalam keseharian, kita akan menyebutnya meja rusak, betul kan? Tapi kembali, bila merujuk pada definisi, apakah lazim kita menyebutnya sebagai meja - bila tanpa kaki/tidak mampu menyangga?
Maksudku bukan membahas meja sebetulnya, aku hanya mencari perumpamaan/sesuatu yang dapat menggambarkan apa sesuatu yang kupikirkan. Bodo amat dengan meja. Jujur.
Lalu apa yang kau pikirkan, Saki?
Berbagai peristiwa terjadi, dari temanku mengadakan acara pertunangan, kakak kelasku saat SMA resmi menikah, kakak tingkatku melanjutkan studinya ke Belanda, Hanum (keponakanku) yang memutuskan mengikuti ekskul memanah supaya bisa memanah orang jahat (ini betulan loh, dia visioner kan?), hingga kandidatku - seorang android engineer; direkrut oleh klienku untuk posisi mid engineer.
--- berbagai peristiwa terjadi, tapi aku tetap belum mampu menjawab pertanyaan pederhana ini; Kamu siapa?
Aku bisa menjawab begini;
Halo, namaku Syifa, tapi aku lebih suka dipanggil Saki. Pekerjaanku sebagai associate consultant/sales/recruiter/or anything u name it. Sedari lahir, aku sudah tingal di Bandung - sederhananya ya karena orangtua ku tinggal di Bandung.
Betul kan? iya betul, tapi entahlah, aku tidak merasa puas dengan jawaban itu. Aku membutuhkan jawaban yang bisa menggambarkan diriku lebih dalam lagi. Sedalam apa memang, Sak? Samudra? atau palung mariana?
Aku hanya ingin bisa mengenal diriku, bukan hanya dari identitas sosial yang melekat (nama, keluarga, teman, pekerjaan, dll) saja, tapi aku ingin mengetahui aku seutuhnya.
Kalau kalian ingat, aku pernah menulis dengan tajuk; Tidak Ada Originalitas di dalam Syifa Sakinah Hidayat. Inti dari tulisan itu adalah, aku ini bisa menjadi berbagai versi - tergantung dari sudut pandang yang melihat/mendefinisikannya.
Nah kini, yang aku ingin ketahui adalah, Syifa Sakinah Hidayat atau aku - dalam sudut pandangku sendiri.
Ya sudah pasti. Tulisanku terlampau berantakan, padahal intinya, aku ingin mengetahui diriku sendiri dan mendefinisikan aku dari sudut pandang aku sendiri.
Who Are You? - akan menjadi sebuah tulisan, sebagai upayaku mengetahui aku.
Isi tulisannya akan sangat membosankan, dipenuhi ambiguitas dan ketidakpastian. Akan terlihat bahwa aku tidak mengetahui aku.
Kalau nanti aku dalam dua minggu, tidak ada tulisan dengan tajuk Who Are You?, artinya aku kesulitan mendefinisikan siapa aku.
Ya begitu. Lalu, apa kaitannya dengan kasus meja? Ya hanya mirip. ha.
Tidak penting kan? Memang.