Sebentar dia di dalam, setelah bayar di kasir lalu keluar.
Hujan turun dengan deras.
Dia bungkus ranselnya, ada laptop di dalam tas.
Dia ambil jas hujan dari dalam jok motor, dari kejauhan si tukang parkir setengah teriak, “mau kemana? Masih hujan”
Dipakainya jas hujan, diambilnya uang pecahan dua ribuan.
Ia kepalkan uang di tangan, supaya gak kehujanan.
Mesin dinyalakan.
Motor mundur pelan, cari celah di antara motor lain yang neduh karena hujan.
Tiga tukang parkir tetap duduk di bawah kanopi toko sebelah, mungkin takut basah.
Satu tukang parkir terlihat mendorong punggung temannya, “ambil sana”, mungkin itu isyaratnya.
Tapi semenit hampir lewat, tak ada satupun tukang parkir yang mendekat.
Dia mengarahkan motor ke jalan raya, menyelipkan si dua ribu di sela box motor sambil bergumam dalam hati. “Bukan rezekimu”, membayangkan tukang parkir itu di depan wajahnya.
Dari sana dia belajar, mungkin sesuatu sudah ditakdirkan untukmu. Tapi jika kamu malas atau bahkan takut menjemputnya. Ya, bukan rezeki.
Seperti pepatah latin, audentes fortuna iuvat, keberuntungan menyertai mereka yang berani.
Di liburan lebaran ini, Mall Ciputra Citra Raya Tangerang ngadain book fair, kalo dari banner nya sih kita bisa liat kalo book fair ini hasil kerja sama dengan dinas terkait pemerintahan kabupaten Tangerang. Tangerang Gemilang.
Di book fair itu, saya dapat satu buku. Yang buat menarik tentu judulnya, Guru Posting Berdiri, Murid Update Belari. Secara ketebalan, gak tebel - tebel amat kok, cuma 272 halaman, tapi insha Allah ilmunya banyak. Banyak info menarik yang sayang banget kalo saya baca tanpa saya tulis atau ketik; di antaranya tentang karakteristik gen-Z dan plus minus masing-masing generasi dalam dunia pendidikan, tentang minimnya minat baca orang Indonesia yang secara peringkat berada di peringkat dua terbawah tapi ajaibnya salah satu kota di Indoesia ada di peringkat ke-5 kota tercerewet di dunia maya, 15 postingan per detik.
Dan tulisan ini, sesuai judul besar akan menulis tentang tiga jenis guru. Tulisan ini dimuat oleh penulis dalam buku Guru Posting Berdiri, Murid Update Belari, di halaman 92 dengan judul bab Bagain II : Kesederhanaan Pembelajaran Kebenaran Pendidikan, subbab Tiga Menguak Guru. Penulis sendiri menyadur materi tentang tiga jenis guru ini dari buku Louanne Johnson (2015) dengan judul Teaching Outside the Box: How to Grab Your Students by Their Brains, subbab Are You Teaching Material?
Sebagai seorang guru, saya merasa penting untuk membagikan tulisan singkat ini, dengan sasaran pembaca guru pada khususnya, sebagai bahan intropeksi untuk diri kita sendiri, "guru seperti apakah saya ini?"
Selamat membaca,
Umiyathiya~
TIGA MENGUAK GURU
Pak Budi Poniam, rekan saya di kampus memperkenalkan saya pada buku Teaching Outside the Box: How to Grab Your Students by Their Brains karya Louanne Johnson (2015). Saya baru selesai membaca bab kedua, berjudul Are You Teaching Material?.
Di bab tersebut guru dikategorikan menjadi tiga, yakni super, excellent, dan good. Sebenarnya ada kategori lain, yakni mediocre dan terrible teachers. Mediocre teachers tampaknya menggambarkan guru yang biasa-biasa saja. Di sekolah, mengajar seadanya (persiapannya sangat minim) lalu pulang. Sedangkan terrible teachers tampaknya mengacu pada guru yang mengajar dengan sangat buruk, misalnya, yang tidak peduli dengan siswa sama sekali.
Kedua kategori terakhir tidak dibahas di dalam buku ini dengan alasan bahwa guru yang mediocre dan terrible tidak bisa ditolerir. Kata Johnson, "Teachers come in three basic flavors - super, excellent and good. (Of course, there are the mediocre teachers and sadly, terrible teachers . But teaching poorly is not acceptable or excusable, so such practices are not included in this discussion)." Saya akan mencoba mengelaborasi apa yang dimaksud dengan super, excellent dan good teachers.
Super Teachers
Super teachers adalah orang yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk mendidik dan mengajar. Setiap waktu di dalam hidupnya didedikasikan untuk profesinya. Tidak semua guru bisa menjadi super teachers. Hanya mereka yang punya energi (fisik, emosi dan mental) yang tinggi yang bisa melakukan sangat ini.
Mereka bukan hanya tepat waktu, tapi senantiasa datang lebih awal dan pulang lebih sore. Kegiatan belajar mengajar dirancang sesempurna mungkin. Setiap waktu kosong digunakan untuk belajar hal baru (yang bisa digunakan untuk kepentingan mendidik). Mereka membimbing berbagai kegiatan kesiswaaan, memberikan pelajaran tambahan bahkan ketika harus mengorbankan waktu pribadi. Ketika harus mengorbankan kepentingan pribadi, mereka pun melakukannya dengan senang hati.
Tidak semua guru memiliki energi seperti ini. Juga, tidak semua guru memiliki sistem pendukung (keluarga, lingkungan sekitar) yang memungkinkannya fokus 100% pada kegiatan mendidik. Saya terbayang bahwa seorang super teacher hidupnya berfokus pada sekolah dan kegiatan mendidik. Nyaris 100%. Tentu saja, saya salut pada guru semacam ini, namun juga bisa memahami bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi guru semacam ini.
Excellent Teachers
Excellent teachers adalah guru yang mencintai pekerjaan mereka. Kegiatan mendidik tetap menjadi prioritas yang cukup utama. Mereka menghabiskan waktu yang cukup untuk merancang kegiatan belajar-mengajar yang menarik. Ketika memberikan asesmen kepada siswa, mereka benar-benar memperhatikan progres siswa. Sesekali mereka berkorban, misalnya untuk mendampingi siswa untuk kegiatan ekskursi. Apabila diperlukan, mereka akan menyediakan waktu untuk berdialog dengan siswa-siswa yang membutuhkan. Namun, guru yang seperti ini, tidak akan terlalu ngoyo, apabila memang ada keperluan pribadi yang perlu didahulukan.
Good Teachers
Good teachers adalah guru yang akan memenuhi tanggungjawabnya dengan baik. Mereka tetap merancang kegiatan dengan baik, memenuhi tanggungjawabnya ketika mengajar, memastikan bahwa siswa berproses dalam belajar, dan mendampingi siswa sesuai tanggung jawabnya. Namun, mereka punya batasan yang sangat jelas antara kehidupan profesional dan personal. Setelah jam sekolah usai, mereka akan sibuk dengan hobi mereka, keluarga dan teman-teman mereka, mungkin sedikit lupa dengan apa yang terjadi di sekolah.
Menurut Johnson, kita bisa memiih menjadi guru yang super, excellent atau good. Tidak ada pilihan yang lebih baik. Pilihan ini sangat tergantung dari kekuatan personal, relasi dengan orang yang disayangi, target profesional, dan prioritas pribadi. Menurut Johnson:
"Sometimes teacher confess that they feel a bit guilty for not having the energy to be a super teacher. I tell them- and I am absolutely sincere- that there is no shame in being an everyday good teacher. Not everybody can be a rock star and needs to be ... I may a biased, but I believe that an everyday good teacher is still a hero"
Tentu saja, pengkategorian guru menurut Johnson tidak saklek dan kita sendiri bisa membuat kategori lainnya apabila diperlukan. Namun, dengan membaca kategori guru di atas, kita bisa berefleksi untuk melihat kita di posisi yang mana dan ingin di posisi mana. Bain dengan menjadi guru super, excellent ataupun good, kita bisa tetap berkontribusi untuk pendidikan dan lingkungan. Asalkan bukan guru yang mediocre atau terrible.
:: Guru Posting Berdiri Murid Update Berlari : Transformasi Pendidik Zaman Kerumunan Virtual ::
Hari ini, Sabtu 10 April 2021, kurang dari dua hari menuju Ramadan jika ia jatuh di hari senin atau kurang dari tiga hari jika ia jatuh di hari selasa. Dan hari ini, ia dan adiknya pergi ke rumah makan dalam rangka ‘menyambut’ Ramadan karena sang adik harus pergi lagi ke kota tetangga dan baru akan kembali h-10 hari Raya.
Sore itu mereka berdua pergi, sengaja memilih waktu sore karena ingin menikmati sedikit angin malam, yang penting sebelum jam 9 sudah di rumah. Itu aturan tak tertulis.
Selepas makan tepat dengan waktu maghrib. Ia bertanya kepada pramusaji dimana mushola terdekat dan sang pramusaji mengarahkan untuk belok kiri selepas pintu masuk lalu kiri lagi, dan mushola wanita ada di kanan. Kiri, kiri, kanan, ingatnya.
Sampailah mereka di suatu ruangan, disambut dahulu oleh tempat wudhu, lalu ruangan sholat seadanya, cukup untuk menampung 4-6 orang jika dijejalkan tapi saat itu hanya ada dua sajadah terbentang; kanan dan kiri, dan satu mukena yang standby, berwarna hijau.
Saat tiba di ruangan itu, ia lihat sudah ada dua orang yang baru saja selesai sholat dan sedang bergegas untuk meninggalkan ruangan. Ia masuk sebentar untuk menyimpan bawaan, lalu kembali ke tempat wudhu. Sebelum wudhu, dari tempat wudhu ia melirik bahwa yang selesai sholat ternyata tiga orang, bukan dua orang, dua orang sudah menunggu di luar satu lagi masih merapikan mukena di dalam. Satu paruh baya, satu ibu muda, dan satunya lagi mungkin anak seusia sekolah SMA atau SMP? Sekitar itu, kita sebut aja anak ini sebagai X. Mungkin mereka kerabat, pikirnya, karena ketiga-tiganya tidak berhijab. Dari balik maskernya, ia melemparkan senyum kepada mereka, entah mereka membalas senyum itu atau tidak karena mereka pun memakai masker.
Selesai wudhu, ia menunggu adiknya selesai sholat, karena mukena yang ia bawa sedang dipakai adiknya. Terlalu riskan memakai mukena umum di tempat umum dalam masa ini, pikirnya. Dari tempatnya menunggu ia bisa mendengar dan melihat ada orang lain yang sedang wudhu. Dua orang, dan salah satunya anak sekolah itu, X. “Lah, sholat lagi?”, pikirnya dalam hati. X berwudhu dengan membelakanginya. Ia perhatikan X itu baik-baik. Posturnya ideal, jangkung mungil, pakaian yang X kenakan pun bisa dibilang mungil, atau bahkan terlalu mungil? Ia harus membuang pandangan ketika X agak kesulitan mengusap kaki, ketika agak menunduk baju mungil dan rok mungilnya saling tertarik ke arah berlawanan.
Setelah adiknya selesai sholat, ia kenakan mukena yang ia bawa dari rumah itu. Sajadah sebelah kanan yang sebelumnya kosong sudah terisi oleh salah satu dari dua orang yang tadi berwudhu. Ia mengambil posisi di sebelah kiri. Dua sajadah yang terbentang sudah terisi, sekarang X yang menunggu giliran untuk sholat.
Orang di sebelah kanan sudah selesai sholat terlebih dahulu ketika ia baru saja menginjak raka’at entah ke berapa. Tidak melirik, tapi sudut matanya menangkap sesosok dengan mukena hijau berdiri di sebelah kanannya, menggantikan orang yang baru saja selesai sholat tersebut.
Salam terucap, sholat selesai. Sedikit dia menoleh ke kanan, sosok itu sedang berdiri, memakai mukena hijau, dan itu X. Ujung jempol kakinya agak tersingkap, tapi X mencoba menutupi sebisanya. Si mukena hijau terlalu kecil untuk postur X yang jangkung, pikirnya. Ia perhatikan diam-diam, entah grogi karena mukena kekecilan atau karena sadar diperhatikan, X sempat salah di posisi duduk di rakaat kedua, hendak berdiri sebelum waktunya. Ia kagum dengan semangat X untuk belajar.
Sebelum melepas mukena, ia selipkan doa singkat, semoga Allah bantu dan kuatkan anak ini, X, untuk sebisa dan semaksimal mungkin menutup apa yang harus ditutup, menjalankan apa yang harus dijalankan, dan menjauhi apa yang harus dijauhi. Singkat.
Setelah itu, keluar dari ruangan itu, sebagian pikirannya masih tentang X. Dalam kepalanya ia mencoba merangkai kemungkinan yang mungkin, berprasangka baik. Walau tak dipungkiri, di awal sekali ia sempat berpikiran buruk, “apa orang ini gak salah ruangan? apa benar orang ini muslim? Jangan-jangan cuma modus mau ambil sesuatu” dan segera semuanya dianulir dengan ucapan istighfar, “ya Allah maafkan hamba”, ucapnya.
Banyak pertanyaan bermunculan kemudian.
“Apa X bukan anak atau kerabat dari dua orang yang tadi pertama sholat?”
“Kalo belum sholat, kenapa X gak antri ambil wudhu? kan tempat wudhu sebelumnya kosong? malah menyilakan kami duluan untuk wudhu juga sholat dan bahkan menyilakan orang yang terakhir datang untuk sholat?”
“apa X malu pada kami yang tidak memakai pakaian semungil dia?”
Pertanyaan terakhir itu yang membuat ia sendiri tersadar. Ya Allah.
“apa X malu pada kami yang tidak memakai pakaian semungil dia? Atau segan? Sehingga X menyilakan kami dahulu untuk wudhu juga sholat?”
Sejenak ia berpikir, jika ia ada di posisi X mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Ia akan wudhu juga sholat terakhir. Ia kagum dengan rasa malu yang X miliki. Semoga Allah menitipkan rasa malu yang membawa iman.
Dalam hati ia semakin kencang berdoa, “Yaa Allah, bimbinglah orang itu”.
Dan bimbinglah kami semua untuk selalu berprasangka baik dan mendoakan yang terbaik. Karena doa yang baik tak akan sekalipun merugikan, baik untuk yang didoakan juga yang mendoakan.
Move. Even this universe and galaxy always extend and move. Even the smallest part of the cells in your body always move. Move, even if the failures beat you again and agaian. Move, if you stop, you’re the loser!