kak giza penasaran deh how to deal with orang yg gabisa merasa bersalah, gaada perasaan gaenakan, dan gapunya empati?
Kayanya ini waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu. Akan kuberi judul:
Kemalasan Emosional
Ada satu hal yang aku pelajari dari dosen psikologi yang mengampu mata kuliah manajemen potensi diri bahwa menjadi manusia yang bertanggung jawab itu artinya sadar bahwa kita selalu punya kendali atas diri kita, keputusan kita, pemikiran kita, ucapan kita, dan respon kita, serta menyadari konsekuensinya.
Ini hanya silogisme sederhana, sesederhana "kalau aku begadang maka aku bangun telat, kalau aku bangun telat maka aku akan terlambat ke kampus" tapi biasanya mereka justru berargumen:
"Kalau kamu ga begini, aku ga akan begitu"
Dalam penyelesaian masalah, itu ucapan paling kekanakan yang aku paling nggak respect. Karena itu bentuk tidak bertanggungjawab, tidak dewasa. Padahal dia punya kendali kok untuk memutus rantai sebab-akibat itu tanpa perlu bergantung ke orang lain.
Ternyata di dunia ini ada orang-orang yang memiliki kemalasan emosional to realize and aware atas perilakunya. Maunya ditanggung-jawabin orang atau nyalahin waktu. Dia terlalu bodoh untuk memahami silogisme sebab-akibat sederhana seperti contoh di atas. Dia selalu enggan disalahkan ketika dia bahkan punya andil atas kesalahan total yang dilakukan bersama.
How to deal with them?
Aku belajar dari Siti Maryam untuk diam. Butuh beberapa bulan untuk memperoleh kebijaksanaan ini. Sebelumnya aku juga pernah tidak bijaksana dengan terus menerus menegurnya sambil berharap dia bisa merasa tindakannya fatal.
Tapi kamu akan sadar, menegur mereka tuh sia-sia karena mereka harus punya kecerdasan emosional dulu buat ngerti bahwa mereka bisa salah. Jangan pernah sekalipun berdebat sama orang yang playing victim, itu sama dengan memberi mereka bahan untuk semakin ngerasa dirinya adalah korban. Ketika dia salah, dia akan mengkambinghitamkan kamu, padahal jelas kamu yang banyak dirugikan dari berbagai segi. Dia hanya mengambil keuntungan darimu saja.
Tapi aku punya harga diri. Pada akhirnya aku memilih untuk 100 % tidak berurusan lagi dengan orang itu karena sudah mengenal karakternya. Aku mengaku salah dan tidak bijak, karena mengingatkan lewat ketikan bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Tapi membiarkan diriku dikatain macam-macam oleh dia, kepada orang baru yang bahkan gak paham konteksnya, nggak bisa aku terima juga. Entah ya, mungkin dia merasa egonya akan terpenuhi saat dia menggiring opini orang lain untuk menganggap rendah aku dan mengembalikan harga dirinya. Tapi aku yakin, orang-orang yang mendengar opininya 'cukup waras' untuk menilai seberapa tidak konsisten tindakan orang itu dengan ucapannya sendiri. Dan aku tidak merasa perlu melakukan klarifikasi kepada orang-orang ini.
Benar bahwa aku dirugikan, baik materi maupun jasa. Tapi mungkin itu harga yang harus aku bayar untuk mengetahui karakter asli seseorang. Walaupun kadang masih speechless, ending-nya bisa jadi sekocak dan sebodoh ini. Jauh berbeda dari akhir yang kuharapkan selesai dengan tidak membenci.
Aku tidak benci, tidak juga dendam. Hanya terlalu takut berurusan dengan orang yang belum selesai dengan Rabb-nya. Ada yang nggak beres dari orang ini sampai-sampai dia tidak memahami bahwa jauh lebih penting bertaubat dibandingkan 'membersihkan' nama baik di hadapan manusia.
Aku juga jadi ngerti, betapa self-awareness itu pijakan kita untuk membangun framework dalam kehidupan. Takkan ada self-growth tanpa self-awareness.
Self-awareness kalau udah ajeg, bakal mendorong kecerdasan emosional lainnya kek empati, regulasi emosi, mengartikulasikan perasaan, decision making, komunikasi asertif, dikotomi kendali, self-control, self-mastery, growth mindset, dsb.
Ini selaras dengan apa yang Allah bilang tentang Ibadurrahman di surat Al-Furqan (25) : 63
وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَ رْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَا طَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَا لُوْا سَلٰمًا
Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, "salam,"
Tau nggak, "haunan" (هَوْنًا) di ayat itu maksudnya adalah self-awareness yang berketuhanan (bertauhid). Jadi mencakup self-awareness as human being, sekaligus self-awareness juga tentang siapa dia di hadapan Rabb-nya, apa tujuan hidupnya, dsb.
Bisa aja orang dari luarnya tampak humble, ramah, rendah hati, tapi hakikatnya dia tidak '"haunan". Bisa juga kita lihat orang yang tampak judes, keras kepala, tapi sebenarnya dia sangat "haunan". Dia sangat mengenal dirinya dan Rabb-nya dan paham harus ngapain. Dan rendah hati tuh bukan klaim ke diri sendiri, itu Allah yang ngasih predikat, jadi kita juga jangan sok-sokan ngerasa udah "haunan".
Orang yang haunan tuh fokusnya udah bukan lagi biar tampak baik di hadapan manusia. Tapi:
Dia cuma pengen disayang Allah (menjadi ibadnya sang Rahman)
Dia cuma pengen selamat dan menyelamatkan (qōlū salāmā)
Jadi yang disebut "ibadurrahman" tuh cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya, dan cerdas spiritualnya. Dan basic dari semua kecerdasan itu adalah haunan, kesadaran diri, pengenalan dan pemahaman tentang diri, lingkungan, dan Allah.
Takkan pernah ada yang namanya "selesai dengan diri sendiri" kalau kamu nggak pernah coba "beresin sesuatu yang bermasalah dengan Rabb-mu".
Mudah-mudahan kita tidak menjadi ujian bagi orang lain karena kebodohan emosional kita. Mudah-mudahan dari apa-apa yang telah menguji kita, kita dapat mengambil pelajaran serta menginternalisasinya agar melahirkan kebijaksanaan.
— Giza, sekali-dua kali bertemu orang yang menjadi ujian di hidupnya, hakikatnya mah pembelajaran dari Allah










