Gudang LXXXIII
tanpa seorang istri atau suami,
ada anak yang datang dalam hidupku.
tak berjenis kelamin aku ini; sebab batu,
mustahil tergiur oleh godaan laknat mata bulat
milik manusia
milik penguasa
juga tukang bakso, milik tukang bakso.
kelaparan, selalu menyelip di celah sempit
antara telunjuk dan jari manis
saat kau mengarahkan mataku
untuk melihat nafsu-laju lalat
oleh makanan busuk yang kaubuang dua jam lalu.
tetap melulu, awan itu putih.
seraya di bawah, manusia asyik melombakan
nasib mereka
pada sebuah kertas berangka-angka.
lalu jadi mengerti benar aku:
di pinggir sungai, punggungku kauusap-usap kesal
sembari membayangkan cinta yang dipagar selera makan
kerjaan rendah: sehelai piton mencoba mirip dengan gajimu
kemudian kekalahan pelan-pelan mengendusmu.
kaca rumah seseorang kupecahkan.
duajam siang-suntuk kauhabiskan
untuk merenung
di pinggir sungai.
aku, digenggam, dan jadi amarahmu.
manusia: kapan kalian
bisa istirahat?















