Tampaknya suatu kesalahan telah aku lakukan. Di kemudian hari aku akan dihukum. Aku berencana untuk lari. Kesalahan yang kuperbuat tidaklah rumit. aku hanya melempar pisau kepada seseorang.
"Kau telah melempar Pisau itu ! Sidik jarimu sudah ketahuan"
Bentak polisi itu kepadaku. aku tidak bisa berkutik. Benar , aku lah yang melempar pisau itu. Apakah aku salah melempar pisau ?. Aku digiring oleh Polisi tersebut untuk dimasukan ke penjara. di saat aku berjalan, pisauku yang lainya jatuh. Aku menoleh ke arah pisau itu. Ia kaku dan tak bergerak, Siapakah yang salah ? , Apakah si pelempar ? atau si Pisau. Mungkin si Pelempar yang bersalah. Pisau itu diam dan tak berbuat apapun.
Mungkin aku harus menjadi pisau. Tiba2 aku ingin mengkakukan tubuhku. Tubuhku terasa kaku , dan kakulah diriku , Polisi itu bingung
"HEIIII !!!!! , Jangan berpura2 kau, besok kau akan menjalani rekontruksi pembunuhan"
Aku tetap kaku. Tubuhku seakan berat. Akupun diangkat oleh beberapa polisi. Mereka menendang, menyiramku, aku tetap pada pendirianku , yaitu Kaku. Hingga benda tumpul itu mengenai kepalaku.
"Aku....... Siapakah aku??" kegelapan , hanya itu yang kulihat. Sang Polisi heran dengan diriku yang tak bergerak.
Polisi pun berkata "Anak ini tidak bisa bergerak tapi dia lupa siapa dirinya, Apa mungkin ia hilang ingatan",
Aku tertidur, Bangun2 , aku sudah ada di tempat kejadian perkara. Tiba2 aku bisa bergerak tetapi tanganku sangat lemas. Matahari yang bisu itu memancarkan sinar terik. Polisi itu berkata
"PEGANG PISAU ITU !", bentak polisi itu. Tanganku masih bergetar dan tak kuat memegang pisau itu. Polisi itu segera merampas pisau itu. "Lihat aku melempar", Polisi itu melempar pisau tersebut , dan menancap pada sebuah batang pohon. Aku seperti mendengar Pohon itu menangis.
"Kau melempar seperti itu kan ? Seperti lemparanku kan ?" , Tanya Polisi itu kepadaku. Tiba2 sang Komandan polisi itu berteriak "TANGKAP DIA !", polisi yang melempar pisau itu ditangkap , Ditengah kekacauan itu aku berjalan ke arah pohon tersebut , kucabut pisau itu dengan tangan lemas, aku menangis dan memeluk pohon itu, "Maafkan diriku"