"Mas, Umi ngajakin salat id sama makan-makan lebaran hari pertama besok di rumah Umi Abi. Kita ikut, ya. Tahun lalu kan, di rumah Ayah Ibu kamu. Gantian, ya." kataku kepada suamiku usai bersantap sahur. Di awal pernikahan, kami memang sepakat kalau bakalan selang-seling lebaran hari pertama tiap tahun di rumah orang tuaku, lalu di rumah orang tuanya.
"Kita tunggu sidang isbat dulu nanti malam, ya, Dek. Kan belum pasti hari rayanya besok atau lusa." suamiku menanggapi.
Benar juga. Hanya saja, orang tuaku bisa dipastikan akan melaksanakan salat id besok. Dari dulu, di kampung kami memang menerapkan sistem hisab untuk menentukan awal bulan kamariah. Sementara suamiku dari kecil dididik orang tuanya untuk ikut sistem pemerintah, menunggu keputusan sidang isbat. Dulu, kupikir perbedaan ini tidak akan terlalu berarti dalam kehidupan pernikahan kami. Dalam hati, aku berdoa agar hasil sidang isbat sama dengan hisab: besok hari raya.
Selepas berbuka, Umi menelepon lagi.
"Jangan lupa ke sini besok pagi, ya. Kalau takut telat, sekalian aja nginap di sini malam ini." titah Umi.
"Insyaallah, Mi." jawabku diplomatis.
"Telah diputuskan melalui sidang isbat bahwa Idulfitri di Indonesia adalah lusa." suara reporter televisi itu menyita perhatianku.
Aku mencari suamiku dan kusapa dengan lembut. "Mas…."
"Iya, kenapa, Sayang?" Jawaban dan tatapan matanya yang teduh membuat kata-kata yang ingin kusampaikan tersangkut di tenggorokan….