Persimpangan 20-an Part #23: Dating Apps
Itu adalah kalimat andalanku sejak aku memutuskan untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi kencan daring yang marak di kalangan teman-temanku. Aku selalu menyapa orang lain dengan kalimat tersebut.
Awalnya sungguh sangat terasa canggung. Tetapi, seperti salah satu penggalan lagu, if we never try how will we know?
Jadilah aku memberanikan diri untuk terjun dalam aplikasi ini. Aku bertekad untuk menjadikan ini sebagai salah satu bagian dari usahaku menemukan teman hidup sampai surga.
Ah, gaya betul sok-sokan bawa surga?!
Jujur, aku memutuskan begini bukan tanpa pertimbangan. Mengingat kembali diriku yang kesehariannya hanya berkutat pada pekerjaan, rasanya sulit untuk bisa mengalokasikan diri dan waktu khusus hangout atau sekedar bertemu dengan teman-temanku.
Senin sampai Jumat selalu bekerja dari pagi sampai sore, bahkan tidak jarang aku pulang kantor hampir tengah malam. Sungguh, aku merasa kurang waktu istirahat sehingga akhir pekan selalu kuhabiskan dengan me-time di kamar. Itu kulakukan demi mengisi tangki energiku yang mudah habis saat berkumpul bersama orang lain. Apalagi kumpul-kumpul tanpa tujuan yang jelas.
Seringkali aku berpikir, lantas kalau kehidupanku seperti ini, bagimana caranya aku bisa menjemput teman hidup itu?
Sebetulnya tidak ada yang mendesakku untuk segera menemukan pasangan. Respon orang tuaku terhadap hal ini sangat santai. Katanya, mereka selalu mendoakan yang terbaik dan akan mengikuti bagaimana kesanggupanku dalam menerima orang lain. Di lain sisi, aku pun sadar dengan usiaku yang sudah melebihi seperempat abad beserta karakterku dan kriteriaku yang cukup menantang itu butuh usaha tersendiri untuk bisa menjemput rezeki yang satu ini.
Aku percaya kalau jodoh itu rezeki yang sudah ditentukan. Tetapi, rezeki itu tidak akan datang cuma-cuma kan?
Sebagai manusia, aku merasa harus berusaha juga untuk menjemput dengan cara yang baik. Selain belajar ilmu-ilmu terkait hubungan dengan lawan jenis, parenting, kedewasaan emosional, dan lainnya, aku merasa perlu mempelajari karakter orang ini juga. Orang yang nantinya menjadi salah satu pilihan terbesarku dalam hidup. Lalu, tidak bisa tiba-tiba nanti akan aku terima begitu saja tanpa ada chemistry. Kalau sudah begini, kemungkinannya antara kembali melihat lingkungan terdekat (anggaplah kamu sudah pernah mengenalnya, jadi untuk mengenal lebih dalam tidaklah sesulit dengan orang baru) atau mengenal orang lain yang benar-benar asing.
Untuk kembali melihat lingkungan terdekatku, sejauh ini lebih tidak ada harapan. Semua teman dekatku perempuan dan jumlahnya bisa dihitung hanya dengan satu jemari. Kebanyakan dari mereka juga belum memiliki pasangan. Lagian, manusia itu dinamis. Perubahan itu hal yang wajar dan tidak dapat dihindari. Berapa banyak temanku yang dulunya anak lembaga dakwah dengan 'alimnya, senyumnya yang ramah, tingkah lakunya yang sopan, sekarang sudah berubah menjadi anak bar yang hobinya minum alkohol dan main perempuan?
"Eh kalo lo punya temen cowo yang sekiranya bisa klop sama gue, bisalah dikenalin ya?"
"Ah elu mah boro-boro. Gue aja belom kebagian! Gue dulu lah ahaha"
"Ya semoga ketika gue menemukan seseorang itu, gue inget lo duluan ya, bukan diri gue sendiri. Tapi kemungkinannya kecil sih kaya gitu hahaha"
Lalu, untuk berkenalan dengan orang baru? Why not?
Semenjak aku terjun dalam kegiatan peer support grup di salah satu platform media kesehatan mental, aku menemukan kenyamanan baru dalam berinteraksi dengan orang asing. Bagi sebagian orang, kenalan dengan orang asing yang kita tidak tau kondisi hidupnya dan latar belakangnya seperti apa itu cukup menakutkan. Mungkin, orang-orang yang beranggapan begitu belum tau ya, betapa menyenangkannya saling bertukar cerita dan membicarakan banyak hal secara rinci dengan orang asing tanpa adanya stigma atau anggapan tertentu, yang mengikuti suara mayoritas. Ketulusan orang lain tuh terasa sekali dalam ruang percakapan. Inilah yang mendorong aku untuk lebih berani menghadapi orang asing dengan berbagai macam sikap dan sifatnya di luar sana. Tidak kupungkiri, pasti ada saja yang kelakuannya bikin heran geleng-geleng kepala.
Jadi, keduanya sama aja toh? Sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Tapi aku percaya, kalau aku terus berusaha jadi orang baik, aku akan bertemu orang baik juga dimanapun dan kapanpun. Termasuk dalam kasus dinamika kisah cintaku kali ini.
Tidak lama kemudian, aku tidak sengaja menjatuhkan smartphone yang sedang kugenggam. Kaget tiba-tiba benda ini bergetar.
Aku buru-buru mengambilnya untuk memeriksa notifikasi.
Dia adalah Abe, lelaki kesekian yang match denganku. Jika dilihat dari profilnya, dia jauh dari kriteria idamanku.
Eh sebentar. Tidak sebegitunya juga sih, buktinya dia tidak merokok dan tidak pernah minum-minum (berdasarkan profilnya ya, semoga saja dia tidak salah memasukkan informasi).
Hari ini adalah hari ke-9 kita masih terus saling berbalas pesan melalui aplikasi kuning ini. Jujur, ini rekor paling lama untukku sepanjang penggunaan aplikasi!
Entah sampai kapan kita akan bertahan untuk terus melanjutkan kisah, aku tidak mau berekspektasi lebih.