Helen merupakan orang keturunan murni Belanda yang tinggal di Hindia Belanda tepatnya di daerah Ciwidey. Ayahnya merupakan seorang pengusaha sukses di sana. Keluarga Helen tidak pernah memandang rendah terhadap pribumi. Suatu hari, Helen bertemu dengan Sukanta di pekarangan rumahnya. Helen terkejut ternyata Sukanta fasih berbahasa Belanda, orang pribumi pertama yang bisa berbahasa Belanda yang dia temui. Sukanta berparas rupawan dan beretika baik. Helen jatuh cinta. Namun, sulit bagi warga Belanda untuk berhubungan dengan warga Pribumi. Tapi Helen tetap ingin bersama Sukanta. . Novel ini berlatar di Indonesia tepatnya di kota Bandung dan sekitarnya saat Belanda masih menduduki negara kita. Seperti yang kita tahu, Belanda pada saat itu memang sangat memandang rendah kepada warga pribumi. Maka tidak heran kalau percintaan antara warga Belanda dan pribumi sangat ditentang. . Di buku ini tidak hanya menggambarkan kisah cinta Helen dan Sukanta saja. Digambarkan pula bagaimana keadaan di Hindia Belanda pada saat itu. Tahun-tahun sebelum dan sesudah Jepang meng-invasi ke Indonesia, dan nasib warga Belanda yang tinggal di Indonesia. . Bahasanya juga disesuaikan dengan bahasa pada saat itu, ketika Ciwidey jadi Tjiwidey, Jalan Riau jadi Riouwstraat dan logat Belanda yang dipakai saat berdialog. Terasa sekali suasana Hindia Belanda-nya. . Quote favorit : "Sebuah perang selalu tidak menyenangkan, yang ada hanyalah penderitaan" - hal 351 . Semoga negara dan dunia kita aman dan dijauhkan dari peperangan. . Helen dan Sukanta • Pidi Baiq • 340 hal • Sparks Joy!! 🥰 . #ikarireads #reviewbuku #helendansukanta #pidibaiq #novelromansasejarah #novelpidibaiq #reviewnovelromance #gocengchallenge21 #bookstagram #bookstagramindonesia https://www.instagram.com/p/CKaUzYhg1Ps/?igshid=qhomznye5y9w











