[Refleksi] IG Live Perdana
IG live perdana sepertinya tidak berjalan dengan cukup baik. Setidaknya tidak sebaik yang aku bayangkan. Rencana, materi yang udah disiapkan tidak tersampaikan secara menyeluruh. Rasanya terlalu banyak hal yang ingin aku bagikan tapi malah jadi ngalor ngidul gak karuan. Maunya banyak diskusi, banyak interaksi sama audiens, ujung-ujungnya terlalu sibuk sok tahu dan sok pintar. Sepertinya aku terlalu ingin terlihat mengesankan, yang justru berakhir dengan aku terlihat amat bodoh dan membosankan.
Harusnya IG live itu dibuat supaya bisa berinteraksi dengan pendengar. Mereka bisa merespon dan bertanya. Itu yang membuat IG live hidup. Kalau hanya sekedar membagikan materi satu arah, apa bedanya dengan seminar. Hey, ini bukan seminar. You are not an expert. Please stop acting like one.
IG live ini di satu sisi membuatku begitu bersemangat. Aku lupa betapa senangnya aku bisa membagikan sesuatu yang aku tahu kepada orang lain, membuat mereka menyadari hal baru. Ya, aku menikmatinya. Tapi di sisi lain, aku semakin membandingkan diriku dengan yang lain. Semakin takut dengan apa yang akan orang lain katakan tentang diriku. Tentang kesotoyanku. Mereka bisa begitu leluasa berbagi, begitu menyenangkan, begitu insightful. Kenapa aku tidak bisa menjadi seperti mereka?
Kemudian aku berpikir, apa yang bikin Anas dan Grace bisa begitu berkembang? Apa yang membuat mereka begitu leluasa berbagi, begitu empati, begitu menginspirasi? Ya, karena mereka berangkat dari pengalaman hidup mereka. Tulisan-tulisan Anas kebanyakan adalah refleksi hidupnya. That's why kenapa banyak tentang perempuan, kaum minoritas, pasangan, personal process, dll. Itulah struggles dalam hidupnya. Itu yang ia perjuangkan sampai saat ini. Gracepun banyak share tentang parenting dia dengan anaknya. Gak heran ia bisa sangat berempati terhadap perasan ibu. She’s there. Aku tidak akan bisa menyaingi pengalaman hidup mereka itu. Kalau aku mau "ikutin" mereka, aku tidak akan bisa karena pengalamanku tidak sama dengan mereka. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa berkembang. Aku tetap bisa berkembang, dengan caraku.
Aku rasa salah satu yang membedakanku dengan mereka adalah pengalamanku dengan anak panti asuhan. Walau aku tidak bisa bilang kalau aku expert tapi setidaknya aku terpanggil di bidang itu. Sampai saat ini aku sangat yakin kalau tujuan hidupku adalah menolong anak panti asuhan dan anak-anak yang memiliki isu attachment. Aku tahu karena aku mengalaminya. Aku bisa merasakan apa yang anak-anak itu rasakan. Setidaknya secara garis besar karena tentunya aku tidak mungkin tahu dengan persis perasaan mereka.
Jika Anas dan Grace bisa berbagi pengalaman mereka dan memberkati banyak orang, itu pula yang dapat aku lakukan. Berbagi pengalamanku untuk memberkati banyak orang. Ya, masalah anak panti asuhan atau attachment mungkin bukan topik yang umum tapi itu yang bisa aku lakukan. KONSISTEN. Itu yang perlu aku lakukan. Dan jadi diriku sendiri.









