◾Ijen yang Gigih◾ Ijen memang bukan jalur pendakian tersulit dan terlama yang pernah saya alami. Tapi Ijen, dengan segala kejutannya, mengajarkan saya banyak hal tentang kegigihan. Tengah malam itu, bersama banyak pengunjung domestik dan asing, saya mengejar waktu sebelum subuh untuk sampai di puncak. Di bawah gemintang yang semarak dan angin gunung yang kencang, kami berjalan di atas tanah menanjak berpasir dan licin. Fokus pada pijakan kaki membuat kami lupa pada kantuk. Tidak sekali dua kali kami kepayahan dan habis napas. Bahkan saya pun merasa mual di tengah perjalanan. Beberapa orang harus menyerah dan memilih "ojek troli" yang ditarik dan didorong oleh dua hingga tiga pengojek khas ijen untuk sampai ke atas. Satu setengah jam dilalui untuk sampai puncak, dan setengah jam lagi untuk turun ke bawah melewati jalanan berbatu dan curam untuk sampai ke kawah. Lelah ditengah dingin yang menggigit. Tapi tak urung untuk membuat berhenti. Saya jadi yakin, tiap pejalan di Ijen punya kegigihan yang kuat karena satu tujuan yang ingin mereka dapati; menyaksikan langsung si fenomenal Blue Fire. Ijen juga menjadi khas dengan para penambang belerangnya. Bapak -yang saya lupa namanya-, setiap hari harus naik ke puncak dan menambang belerang, yang baunya menyengat dan asapnya pedih jika mengenai mata. Setiap hari, sebanyak tiga kali, membopong sekitar 80-90kg belerang. Terdengar mustahil, tapi sang Bapak punya kegigihan yang kuat karena satu tujuan yang ingin beliau dapati; keberkahan rezeki. Secara umum pun kita menyadari, tiap-tiap insan di dunia juga gigih dalam menyembah-Nya untuk satu tujuan; kasih sayang dan keridhaan Sang Maha Pengasih. Para pendaki, para penambang belerang, dan akhirnya tiap manusia pasti punya alasan untuk tetap gigih menjalani hidupnya; cita-cita. Jadi, sudah sekuat apa cita-cita kita untuk membuat kita gigih meraihnya? #selfreflection #selftought #traveling #solotraveler #ijencrater #banyuwangi #HelloBanyuwangi #wonderfulindonesia (at KAWAH IJEN)














