Bunda Tatty, Ibu Biasa dengan Jiwa Luar Biasa (pahlawan kemanusiaan)
“Di salah satu sisi dunia, ada beberapa orang yang merajut asa memperbaiki negeri. Sementara di sisi dunia yang lain terdapat beberapa orang yang secara membabibuta merusak negeri” (Bunda Tatty Elmir)
Air matanya mengalir, napasnya terisak sesak. Saat beliau menceritakan betapa banyak anak Indonesia yang terancam bahaya pornografi. Bicaranya tercekat, saat memaparkan betapa banyak anak Indonesia yang harus putus sekolah karena tak punya biaya lagi. Emosinya memuncak, saat rasa kecewa menghampiri ketika kami hampir menerima sponsor dari perusahaan rokok dan perusahaan perusak generasi bangsa untuk event yang sedang kami siapkan. “Masih banyak sponsor lain yang baik, Dompet Dhuafa misalnya” katanya. Rasa bangganya mengalir, senyumnya merekah saat mengemukakan keindahan alam dan budaya Indonesia, dengan penuh pengharapan agar kami melestarikannya, menjaganya.
Namanya Bunda Tatty Elmir. Bunda, kami menyapanya. Ratusan anak ideologis yang lahir dari rahim Forum Indonesia Muda. Kawah Candradimuka hasil olah pikir dan olah rasanya lebih dari satu dekade lalu. Saat beliau merasa bahwa ia harus ikut serta memperbaiki negeri sebab di luar sana ada banyak pihak yang secara membabi buta merusaknya. Forum Indonesia Muda didirikannya pada tahun 2003, berbekal bantuan rekan-rekannya yang juga peduli dengan masalah dalam negeri dan ingin terlibat memberi solusi. Bunda dan suaminya, Pak Elmir Amien memikirkan bagaimana upaya paling efektif namun konkret untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, masalah pendidikan, masalah kesehatan, masalah sosial di Indonesia. Hingga keputusan pun berlabuh bahwa yang harus mereka bina adalah pemudanya, pemuda Indonesia. Jiwa muda yang masih penuh idealisme, jiwa muda yang penuh semangat, jiwa muda yang berani menantang dunia. Pembinaan bertajuk Forum Indonesia Muda (FIM) pun berdiri, dengan berbagai suka dukanya. Forum yang menghimpun lebih dari seratus pemuda dari Sabang sampai Merauke di tiap batch pelatihannya. Hingga kini sudah lebih dari seribu alumni tersebar di berbagai belahan negeri, senantiasa berusaha menjadi orang baik dan berbuat untuk kebaikan lingkungannya. Senantiasa berupaya menjadi hero jaman now.
FIM menghancurkan pemikiran oportunis egois pemuda. Kemudian menanamkan nilai-nilai yang disebut tujuh pilar karakter (integritas, cinta kasih, kebersahajaan, totalitas, solidaritas, keadilan, keteladanan) dan tujuh pilar kepemimpinan (mengenal diri, komunikasi, akhlak, kekuatan belajar, pengambilan keputusan, manajerial, pengorganisasian) melalui teknik pelatihan yang profesional dan sentuhan psikologis “dari hati”. Sebuah nasihat bijak berkata, segala yang dari hati akan sampai ke hati. Mungkin itulah sebabnya, dari sekian banyak alumni hampir semuanya mencintai Bunda dan berharap untuk terus terlibat dalam proyek kebaikan yang Bunda lakukan, mulai dari ide hingga donasi . Sekian banyak alumni yang selalu terasa hangat kala bersua, merasa mempunyai satu alasan, bahwa latar belakang kami sama, latar belakang pola pikir FIM. Lebih dari seribu alumni yang di daerahnya masing-masing membuat karya dan menebar manfaat. Entah sudah ada berapa ratus rumah belajar berdiri, berapa banyak anak miskin tersantuni dan terbina, berapa banyak warga terberdayakan perekonomiannya.
Bunda Tatty mengambil langkah yang amat strategis. Pemuda dari berbagai daerah yang dibinanya, kemudian dikembalikan ke daerah asal dengan bekal yang memadai untuk menebar manfaat. Menimbulkan multiplier effect yang begitu besar. Dan saya optimis bahwa dari pembinaan yang beliau lakukan, telah banyak orang baik yang kemudian terbentuk. Serta yang lebih mengharukan, ketika seorang terbantu karena alumni FIM, tentulah Bunda Tatty kebagian “jatah” pahalanya. MaasyaAllah. Bunda Tatty, pahlawan masa kini yang mengambil cara strategis, efektif dan berdampak.
Bunda Tatty. Beliau hanyalah seorang perempuan biasa, yang amat lembut. Namun kelembutannya adalah kelembutan yang mampu menyentuh hati anak-anaknya agar senantiasa menjadi orang baik. Beliau adalah seorang ibu biasa. Namun seorang ibu yang jiwanya amat kuat, yang selalu menguatkan anak-anaknya untuk terus menyuarakan kebaikan dan tak gentar menghadapi musuh perusak bangsa. Beliau hanyalah hamba Allah biasa, namun tekadnya begitu kuat untuk menabung amal jariyah. Sebagai bekal menuju perjalanan abadi kelak.














