Emak - Emak Pembelajar
Setiap manusia dituntut untuk melakukan yang terbaik di tiap peran kehidupannya. Sebagai hamba Allah, sebagai warga negara, sebagai anak, sebagai pekerja, sebagai siswa, begitu pula sebagai orang tua. Sebagai seorang ibu. Karena setiap amanah yang sudah kita terima, yang telah kita iyakan akan dimintai pertanggungjawaban. Itu jelas. Karena Allah sendiri yang menyatakan bahwa ada hari penghitungan, ada hisab, ada pembalasan. Dan tugas kita, adalah sebaik-baiknya menyelesaikan setiap amanah dalam rangka menyiapkan laporan pertanggungjawaban yang memuaskan.
Salah satu cara untuk belajar menjadi ibu yang amanah adalah dengan berilmu. Ya, saya merasa amat banyak sekali pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang ibu. Dan saya merasa amat kerdil, karena sungguh yang saya ketahui masih amat sedikit. Apatah lagi yang sudah saya amalkan😢 Semoga Allah mengampuni.
Dan salah satu upaya saya untuk jadi berilmu tersebut adalah dengan mendaftar sebagai member Institut Ibu Profesional. Yah walaupun belum pasti diterima juga sih hehe karena pendaftaran belum dimulai, kuota terbatas dan peminat yang amat membludak 😅 Saya sepenuhnya serahkan kepada Allah apakah takdir saya berlabuh di IIP atau tidak. Walaupun dalam hati amat amat amat ingin😭
Proses menuju kelas matrikulasi (kelas resmi untuk mengikuti perkuliahan) cukup panjang. Awal mendaftar, kami “ditampung” di grup bernama foundation. Beberapa waktu kemudian mengisi form untuk memasuki grup pramatrikulasi sebagai pembekalan dan latihan menuju kelas matrikulasi. Hingga akhirnya resmi masuk kelas matrikulasi jika Allah mengizinkan hehe. Hal ini dilakukan demi mengakomodasi minat calon member yang amat banyak. MaasyaAllah ya semangatnya buibu inii.
Nah kurang lebih sejak awal bulan lalu saya memasuki kelas pramatrikulasi. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, kelas pramatrikulasi adalah kelas persiapan, pembekalan, simulasi menuju kelas matrikulasi yang sebenarnya. Dalam kelas ini kami diberikan materi dari mak mak (di IIP sapaannya mak 😂) fasil tentang hal-hal yang menunjang kelas berikutnya seperti pembuatan dan penggunaan gmail, gdrive, gdocs, blog dan sharing tentang aliran rasa fasilitator untuk menyimak cerita fasilitator dalam membersamai member, dalam memfasilitasi kelas belajar, untuk melatih empati member bahwa fasilitator telah mengorbankan banyak hal untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya. Setidaknya itulah value yang saya dapat dari materi aliran rasa fasilitator.
Mengenai pembuatan gmail, gdrive dan gdocs saya sudah menuliskannya disini . Sementara disini saya akan lebih banyak mengungkapkan tentang refleksi diri saya saat berada di kelas pramatrikulasi dan mengikuti segala alur prosesnya.
Pertama kali saya melihat interaksi dalam grup, yang mana beberapa hari awal selalu ketinggalan diskusi, hingga chat menumpuk ratusan 😭 sempat terbersit dalam hati, “ini emak-emak semangat bener ya” instead of “ambisius bener” hahahha maaf ya mak mak. Tapi saya teringat perkataan dosen sewaktu kuliah, “what’s wrong with ambitious?” (Jadi jangan lempar saya pake high heels yah mak, jadi ambisius ga salah koook). Ambisius terhadap apa? Terhadap target penyelesaian tugas, terhadap aktif dalam diskusi, terhadap gercep menolong rekan yang kesulitan. Wow banget kan? Membuat saya terkesiap terbangun, “Heyyy, bukan waktunya lagi buat santai-santai leyeh-leyeh” hahahahah. Yaaaa, mak satu ini terlampau suka let it flow, selow kaya di pulau santai kaya di pantai. Tapi melihat interaksi supermom d grup ini membuat saya alert, bahwa saya harus mengikuti ritmenya, ritme yang tak boleh santai. Sebab menuntut ilmu harus serius, harus mengencangkan ikat kepala, harus fokussss. Pembelajaran pertama yang saya peroleh di grup tersebut.
Kedua, I’m so amazed dengan materi yang diberikan. Ketika makemak yang beragam range usia harus belajar bersamaan tentang digital technology. Yang sudah berumur mengalami sedikit kesulitan, yang muda dan terbiasa sudah jelas so easy. Di saat kewajiban deadline di depan mata, diskusi saling memberi solusi membuat saya terkagum. Tolong menolong dalam hal kebaikan ternyata benar-benar dapat dilakukan kapanpum dimanapun.
Ketiga, saya merasa amat keciiiilll, amat jauuuhhh ilmu dan kapasitas diri dalam mengatur waktu, prioritas dan sebagainya. Melihat betapa banyak working mom on public sector yang masih stay tune menyimak diskusi, ikut terlibat aktif dan tepat waktu mengerjakan tugas. Saya merasa sangaaat lalai dan kufur atas nikmat waktu. Allahummaghfir.
Dan disini saya belajar tentang totalitas fasilitator, totalitas para admin, totalitas para member tentang passion dan tanggung jawab, tentang breaking mental block. Ada yang merasa minder namun akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya. Ada yang merasa blank terhadap materi namun akhirnya mampu submit tugas pula. Ada yang sibuk namun tetap excellent di semua tugasnya.
Tentang CoC, Code if Conduct, kesepakatan belajar, kontrak belajar yang selalu berusaha ditepati oleh setiap pihak. Taat prosedur, terlibat aktif, berbagi. Aah maasyaaAllah. Saya benar-benar belajar banyak hal.
Benar bahwa kita tak boleh merasa “pintar” dan sombong akan kemampuan diri. Sebab di tempat baru, pada setiap orang baru selalu ada pelajaran yang dapat diambil, selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Semoga Allah mencatat pahala atas menuntut ilmu ini. Aamiin













