Jurnal Hexagonia-1
Bismillah. Hai Tumblr, nice to write you again! Setelah kemarin berhasil menamatkan perkuliahan di Bunda Cekatan, kini aku melangkah kembali ke Bunda Produktif. Rasanya di satu sisi senang dan bersemangat untuk memulainya, namun di sisi lain cukup sedih karena banyak teman-teman seangkatan di regional yang memilih beristirahat sementara.
Perkuliahan di Bunda Produktif ini cukup unik. Jika di kelas Bunda Cekatan, para mahasiswa diminta memilih bidang yang ingin ditekuni, sekarang kami diminta menunjuk satu bidang yang digemari. Para mahasiswanya diminta untuk menuliskan passion-nya masing-masing. Apa itu passion? Passion, kata Bunda Septi, adalah hal yang membuat kita berbinar-binar jika melakukannya. Meski badan sudah lelah, tapi jika diminta untuk melakukan itu maka kita akan menyambutnya dengan senyum sumringah.
Aku kemudian membuat daftar beberapa hal yang aku suka: memasak, menulis, komunikasi, traveling, pendidikan, sustainable living, dan keluarga. Jika di kelas sebelumnya, aku memilih manajemen, kini aku dengan mantap memilih komunikasi. Awalnya aku ingin memilih bidang kuliner atau memasak, namun kadang aku suka malas mengerjakannya. Aku pun suka traveling, tapi jika dibandingkan dengan komunikasi, sepertinya aku selalu menyukai bidang yang satu ini. Apapun yang berkaitan dengan komunikasi menjadi favoritku.
Setelah menentukan passion, kami diminta untuk membuat desain rumah dengan bentuk heksagon. Tidak ditentukan berapa luas tanahnya, yang penting bentuknya adalah heksagon. Aku kemudian menamai bangunan ini Hexacomm. Kepanjangan dari “Hexagon Communication”. Sebagai pencinta komunikasi dan penduduk hexagonia, aku berencana untuk membuat media di negeri tersebut. Syukur-syukur bisa menjadi pemilik media terbesar di Hexagonia, hehe..
Teringat saat kuliah di tingkat akhir, aku pernah mengikuti seminar tentang rencana paska kuliah (career plan). Kala itu, setiap peserta seminar diminta menuliskan cita-cita saat mereka akan meninggalkan bangku perkuliahan. Karena cita-citaku adalah menjadi pemilik media terbesar di Indonesia, aku kemudian menuliskan rencanaku setelah lulus kuliah adalah: menjadi menantu Aburizal Bakri. Simpel saja, karena saat itu Pak Bakrie adalah pemilik media terbesar di Indonesia. Pikiranku melayang kepada sosok wanita pemegang kendali media. Ia akan menebarkan konten-konten positif dan mengedukasi masyarakat melalui media yang dimilikinya. Namun, jalan takdir berkata bahwa aku harus menempuh jalur sebagai birokrat.
Karenanya, sejak Ibu Septi mengumumkan bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam membangun Hexagon City, saat itu pula aku bertekad untuk menjadi pemilik media yang mampu menebarkan manfaat bagi Hexagon City. Inilah tempat di mana media tersebut dibuat.
Ps. Furniturnya memang masih sedikit, aku masih malas menambahkan furnitur. Baru dibangun, pintu, jendela, dan sedikit kendaraan. Mungkin nanti, seiring perkembangan media, aku pun akan mencicil furnitur.
Ps2. Ini link rumahku: https://home.by.me/en/project/prizkiarlita/hexacomm
Silahkan mampir dan mari ngemil bersama :)














