Manusia
Suatu waktu kita pura-pura sibuk. Memainkan banyak peran sampai lupa 'baju'. Lalu tetiba saja,
ada suara bertanya "siapa kalian?"
"manusia." kompak kita menjawabnya.
"oh, pantas saja" ujar suara.

#dc comics#dc#batman#tim drake#batfam#dick grayson#dc fanart#bruce wayne#batfamily





seen from United States
seen from Sweden
seen from China
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Macao SAR China
Manusia
Suatu waktu kita pura-pura sibuk. Memainkan banyak peran sampai lupa 'baju'. Lalu tetiba saja,
ada suara bertanya "siapa kalian?"
"manusia." kompak kita menjawabnya.
"oh, pantas saja" ujar suara.
Refleksi Luka
Akhir-akhir ini, aku kerap mencoba lari dari realita, menembus batas maya, dan ku redupkan pelan-pelan cahaya.
Aku diambang kebingungan yang luar biasa. Mengharapmu ada disisi sehingga bisa mengaburkan lamunanku. Tapi, sialnya aku kehilangan sisiku yang lain. Membuatku makin rindu akan dirimu, dan satu waktu yang paling ku tunggu, pulang.
Kemudian, dalam masanya senja merayu mentari untuk perlahan bergilir dengan rembulan, aku ditempatkan Tuhan diantara orang-orang penuh cahaya, menghalau niatku berlari dari realita itu. Sehingga aku duduk (diantara mereka), seolah yang paling bersalah.
Hijrah. Rupanya itu jawabannya.
Sebagaimana yang diingatkan oleh ‘pemilik ruang imaji’ tentang pernyataan Rumi bahwa “Luka adalah tempat cahaya memasukimu”
Aku salah, iya. Tak seharusnya aku lari, dan meredupkan semua cahaya. Tak semestinya aku mengharap kegelapan sehingga bisa berserah sendirian. Aku tersadarkan, bahwa aku, sejatinya sedang dalam dekap Tuhan paling erat, bahwa aku, sedang disentil oleh-Nya untuk membiarkan cahaya-cahaya itu merasuk meski lewat luka.
Sekali lagi, hijrah. Itu jawabannya.
Hijrah memang tidak mudah, karena butuh kesiapan untuk melepaskan hal-hal nyaman yang selama ini kita rasakan. Tapi, Allah mencipta kita di dunia bukan hanya untuk bertahan hidup, melainkan juga untuk bertumbuh menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Kita harus terus memperbarui, meningkatkan, menambah integritas ibadah kita.
Sebab hijrah, berarti kita siap meretas batas nyaman kita, siap berpindah dari yang buruk ke yang lebih baik.
Namun, seseseorang kerap tak sadar bahwa dirinya sedang dalam proses menuju sesuatu. Itu sebabnya, tak harus bersusah mencari kesendirian untuk menjadi baik, kita akan selalu butuh ruang lain yang lebih luas dan ramai sehingga bisa belajar, serta saling mengingatkan.
Hijrah takkan lepas dari kesiapan kita berjuang. Dan betapa kita perlu untuk tetap berproses, agar menjadi lebih baik, jauh lebih baik, dan seterusnya, dan seterusnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin celakalah ia, Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, rugilah ia. Barangsiapa hari ini lebih baik daripada kemarin, beruntunglah ia.”
Aku merasa lebih baik setelah lebur dalam sepinya malam, sesaat setelah menikmati sejenak hiruk-piruk jalanan dengan suara-suara bising kendaraan.
Ya, itulah hidup. Tak melulu kita selalu menetap disatu titik, melainkan kita perlu berpindah ke titik lainnya, untuk dapat menatap lebih luas semesta, untuk dapat mengenal Sang Pencipta, untuk menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan paling sulit di muka bumi ini “Sudahkah kau temukan siapa dirimu sebenarnya?”.
Kemarilah, duduklah sejenak, biar ku bacakan puisi sebagai dekapku hari ini.
HAI, KAMU ! oleh : W.S. Rendra
Luka-luka di dalam lembaga, intaian keangkuhan kekerdilan jiwa, noda di dalam pergaulan antar manusia, duduk di dalam kemacetan angan-angan. Aku berontak dengan memandang cakrawala. Jari-jari waktu menggamitku. Aku menyimak kepada arus kali. Lagu margasatwa agak mereda. Indahnya ketenangan turun ke hatiku. Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
Jakarta, 29 Pebruari 1978 Potret Pembangunan dalam
Aku kembali, dan tidur dengan amat baik malam ini.
ditulis dari hati, sekaligus untuk menuntaskan janji.
Bandung, 14-15 April 2016
-aisyahfadh