Sudah hampir dua tahun semenjak diri mendedikasikan hari-hari untuk belajar dunia literasi. Niatnya udah bulet, tapi praktiknya gak gampang euy! Kadang khilaf satu bulan gak baca, karena emang godaan buat males itu nikmat banget. Tapi ya gitu, puasnya bukan main kalo udah selesai beresin buku, baca, bikin review, nulis, terus lanjut cari judul baru.
Tambah lagi selepas banyak kegiatan di luar, ikut rapat, nugas, terus rapat lagi, dan masih sempet baca lagi. Wih rasanya udah menang banyak.
Tapi kemudian, sesaat melintas dipikiran: 'untuk semua rutinitas itu, bagian mana yang kamu lakukan untuk orang lain?'
I found myself trapped in my own world. Berpikir bahwa kita udah ngelakuin banyak hal untuk orang lain, nyatanya kita hanya melakukannya untuk diri kita sendiri, lagi, lagi, dan lagi, tanpa jeda.
Buat orang introvert macam saya sih, ini udah jadi makanan sehari-hari."Gak ada yang salah ketika gue seharian di kamar!" Tapi, orang di luar sana gak mau tahu soal kamu introvert ataupun apa, yang 'harus' bagi mereka adalah gimana kita bisa balance antara diri dan lingkungan luar. Emang sih, kita gak bisa selamanya fokus pada perasaan kita sendiri tanpa peduli yang orang lain rasakan, ya gak?
Karena siapa yang tahu, satu rangkulan kita bisa buat orang lain gagal bunuh diri.
Banyak orang di luar sana kesulitan meyakinkan diri bahwa dia layak ada di bumi ini, gak sadar kalo mereka deserve to live better. Mereka kesulitan memahami keadaan dirinya, kesulitan memaknai hidup, memaknai lingkungan, sulit menangkap maksud dari segala hal yang ada di sekelilingnya. Pikiran mereka jauh melampaui diri mereka sendiri. Mereka pikir dunia membencinya, dunia menghujatnya, mereka pikir dia yang paling buruk, paling hina, sehingga mereka pikir orang-orang mencacinya, mengolok dirinya.
Kita tak pernah tahu apa makna di balik senyumnya. Kita tak pernah tahu pergolakan batin yang sedang terjadi dalam dirinya. Kita tak pernah tahu keputusan-keputusan bodoh yang sedang dipikirkannya. Kita tak pernah tahu apa yang harus kita lakukan untuknya.
Tapi, kita bisa selalu melihat orang lain sebagai apa yang patut mereka terima. Sebuah senyuman, sebuah pujian, sebuah pelukan, rangkulan, sautan, genggaman, atau bahkan sesederhana pengertian untuk tidak menyakiti hatinya.
Atas semua yang kita lakukan untuk diri, mari sisakan ruang untuk sekadar menyadari bahwa ada orang lain di sekeliling kita yang juga pantas menerimanya.