Berbicara kesuksesan di dunia dan juga sukses di akhirat, bukanlah sesuatu yang asing untuk di dengar.
Ustadz ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebut beliau Ustadz Yusuf Mansur. Beliau pebisnis, motivator, ustadz pula. Bukan main. Kesuksesan di dunia nya saat ini menurut saya sudah besar. Bagaimana tidak? Beliau bisa membuka lowongan pekerjaan untuk masyarakat luas.
Apakah dengan pencapaian kesuksesannya di dunia malah menjadikan dirinya lupa akan kampung akhirat? Tidak. Sama sekali tidak. Justru kesuksesannya di dunia menjadikan beliau takut kepada Allah. Sebab apa? Kesuksesan pun adalah ujian. Semakin dekat kah kepada Allah atau semakin menjauh.
Seimbang. Kata yang menurut saya pas untuk beliau. Beliau dunia nya dapat, akhiratnya juga tetap di laksanakan (baca: ibadah) -Sekalipun kita tidak pernah tahu kematian seperti apa yang kita rasakan walaupun sukses di dunia dan tetap beribadah sebagai persiapan kehidupan nanti. Dunia yang di dapat, beliau jadikan untuk kebermanfaatan umat. Akhiratnya pun tidak tertinggal. Dhuha, tahajud, sedekah, solat,zakat,dzikir,solawat kepada Nabi saw dan ibadah-ibadah lainnya. Bukankah itu seimbang?
Saya menilai karena ketulusan beliau dalam menulis, dalam berdakwah, dan lain-lain. Terlihat saya terlalu melebihkan ya? Menurut saya tidak. Sebab saya belajar darinya bagaimana menjadikan "Dunia di tangan, Akhirat di hati". Dan dari beliau juga saya belajar untuk selalu beroptimis,bermimpi besar, bersemangat, tidak melupakan Allah,berprinsip "Allah dulu, Allah lagi, Allah terus" dan lain-lain.
Guru saya pernah bilang, yang kurang lebih begini "orang islam itu harus kaya, supaya bisa sedekah".deg. benar juga apa kata guru saya. Di antara kita juga pasti sering melihat bagaimana kondisi umat islam saat ini.
Namun tetaplah kuat. Allah pasti akan menolong kita, Allah pasti akan menolong agamaNya. AllahuAkbar.
Saya akan tutup dengan rumus hidup yang masyhur di antara kita, "Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain".
*Ps: semoga bisa ketemu beliau ya Allah