Puasa Bagi Penyandang Diabetes
Bagaimana jika penyandang Diabetes Melitus (DM) ingin berpuasa? Pastikan dulu bahwa kadar gula darahnya stabil dalam tiga bulan terakhir. Pemeriksaan bisa melalui tes darah yang disebut HbA1c (Hemoglobin A1c test) di laboratorium. Bila hasilnya kurang dari 6%, artinya kadar gula darah cukup stabil, sehingga termasuk aman untuk berpuasa. Selain itu, penyandang DM juga harus bisa memastikan bahwa asupan kalorinya terpenuhi dalam satu hari, tidak kurang, namun juga tidak lebih.(1)
Lalu apa untungnya bagi penyandang DM jika berpuasa?
Pola makan yang lebih teratur dan asupan kalori yang relatif sama dari hari ke hari akan membuat kadar gula darah yang biasanya naik-turun akan menjadi lebih stabil.
Bagaimana cara pengaturan makan pada penyandang DM?
Komposisi diet yang seimbang dalam satu hari bagi penyandang DM adalah karbohidrat (KH) 60%, protein 25%, dan lemak 15%. Pembagian porsi makan saat berbuka hingga sahur terdiri dari porsi makan saat sahur 50%, setelah tarawih 10% dan maghrib 40% dari total kebutuhan kalori per hari.
Berikut penjelasan tentang komposisi makanan bagi penyandang DM
Asupan KH bisa didapat dari nasi, kentang, roti, dan buah. Sedangkan asupan protein bisa didapat dari hewani seperti daging ayam, ikan atau sapi dan bisa pula protein nabati dari tahu dan tempe. Selain itu lemak bisa didapat dari minyak, mentega, susu dan makanan sumber KH dan protein.
Kunci pola makan atau diet penyandang DM adalah pengaturan jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Jenis makanannya bebas dan tidak ada yang harus dipantang. Namun kebutuhan kalori setiap orang, tergantung dari usia, jenis kelamin, berat badan, dan aktivitasnya. Untuk mengetahui kebutuhan kalori per hari, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter ahli gizi. Atau untuk gampangnya, secara kasar dapat dibuat suatu pegangan sebagai berikut untuk pasien kurus 2300-2500 kkal, pasien berat normal 1700-2100 kkal, dan untuk pasien gemuk 1300-1500 kkal.(2)
Pola makanan yang benar bagi penyandang DM
Saat berbuka, Anda boleh minum teh manis dengan gula diet, atau makan salad buah, jus atau smoothie pisang-stroberi, atau ta'jil, seperti kurma atau kolak pisang dengan gula diet. Setelah itu minum obat, jika memang harus mengonsumsi obat dari dokter, karena obat harus dikonsumsi 30 menit sebelum makan besar.
Setelah sholat magrib, Anda bisa menyantap hidangan utama, yang terdiri dari 100-150 gram nasi, sayuran, protein hewani seperti daging 50-60 gram, dan protein nabati 50 gram.
Usai tarawih, antara pukul 21.00-22.00, sebaiknya makan camilan yang mengenyangkan misalnya sandwich, singkong rebus, atau ubi rebus. Dengan jadwal makan seperti ini, diharapkan kalori masuk secara bertahap sehingga keseimbangan gula darah tidak akan melonjak drastis.
Pada saat sahur, selain hidangan utama seperti nasi dan lauk-pauk, jangan lupa menyantap buah. Hindari ketan dan mie instan, juga sayuran yang mengandung gas seperti kol. Penyandang DM cenderung mengalami gangguan pada saluran cernanya yaitu lambung. Sehingga jika mengonsumsi makanan yang bergas bisa menyebabkan aliran makanan ke lambung tersendat dan perut terasa mual.
Pada penyandang DM berat yang sudah menjalani suntikan insulin, sebelum mulai berpuasa sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter agar insulinnya diganti dengan kombinasi antara short dan intermediate-acting. Karena biasanya insulin yang dipakai sehari-hari adalah long-acting, yang baru bereaksi maksimal 10 jam sesudah disuntikkan. Namun penyandang DM berat yang memakai suntik insulin biasanya tidak dianjurkan untuk berpuasa.
# Tips Puasa Bagi Penyandang DM :
Sebelum memulai puasa, cerdas memilih makanan rendah glikemiks.
Periksa kadar glukosa darah Anda lebih sering dari biasanya. Pemeriksaan gula darah bisa dilakukan sebelum berbuka dan dua jam setelah berbuka, sebelum tidur, sebelum sahur, tengah hari dan sesuai kebutuhan.
Ketika berbuka, makanlah dalam jumlah kecil, dan hindari makan makanan manis atau berlemak.
Saat buka puasa, perbanyak minum air dan hindari minuman manis yang terlalu banyak atau berkafein.
Jika penyandang DM menggunakan insulin, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter karena mungkin harus diubah dari yang biasanya gunakan. Perubahan jadwal, jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi disesuaikan dengan dosis obat dan insulin.
Pembatalan puasa bisa dilakukan jika terjadi tanda-tanda hipoglikemia atau kadar gula kurang dari 60 mg/dl.
Apakah itu hipoglikemia ?
Hipoglikemi atau kadar gula darah rendah merupakan salah satu kendala utama bagi penyandang diabetes mellitus (DM) dalam menunaikan ibadah puasa. Gejalanya seperti sakit kepala, pusing, keringat dingin, berdebar-debar, hingga pingsan.
Hipoglikemi terjadi karena asupan makanan yang kurang. Biasanya muncul di sore hari setelah hampir seharian berpuasa. Bila mengalami gejala-gejala hipoglikemi atau kadar gula darah di bawah 60 atau 70, sebaiknya segera berbuka karena itu bisa membahayakan kesehatan.
Hasil studi EPIDIAR (Epidemiology of Diabetes and Ramadhan) menunjukkan terjadinya peningkatan risiko hipoglikemi selama puasa Ramadan sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Hipoglikemi di bulan Ramadhan meningkat 4,7 kali lipat pada panyandang DM tipe 1 (3–14 kejadian/100 individu/1 bulan) dan 7,5 kali lebih sering (0,4–3 kejadian/100 individu/1 bulan) pada penyandang DM tipe 2.(3)
“Jika dapat mengelola diabetes dengan baik maka penyandang diabetes dapat menjalankan ibadah puasa secara normal.”
Soegondo S, Soewondo Pradana, Subekti I. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Edisi kedua. Balai Penerbit FKUI,Jakarta, 2011.
Waspadji S, Sukardji K, Octarina M. Pedoman DIet Diabetes Melitus. Sebagai panduan dietisien/ahli gizi dokter, mahasiswa dan petugas kesehatan lain. Edisi pertama. Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2007.
Salti I, Bénard E, Detournay B, Bianchi-Biscay M, Le Brigand C, Voinet C, Jabbar A; EPIDIAR study group. A population-based study of diabetes and its characteristics during the fasting month of Ramadan in 13 countries: results of the epidemiology of diabetes and Ramadan 1422/2001 (EPIDIAR) study. Diabetes Care. 2004 Oct;27(10):2306-11.