ADAM: I failed the kitchen safety course today
MILLY: Why? What happened?
ADAM: Well one of the questions was “In case of a fire what steps would you take?”
MILLY: And?
ADAM: Well, apparently, “FUCKING LARGE ONES” isn’t an acceptable answer

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Russia

seen from Türkiye
seen from Japan

seen from Maldives

seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from Angola
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from China
seen from Netherlands

seen from United States
ADAM: I failed the kitchen safety course today
MILLY: Why? What happened?
ADAM: Well one of the questions was “In case of a fire what steps would you take?”
MILLY: And?
ADAM: Well, apparently, “FUCKING LARGE ONES” isn’t an acceptable answer
“Think fast. Die young. Leave a sexy corpse.”
Nick, probably
Bandung, Aku Rindu
Bandung, untuk kesekian kalinya memberikan kenangan yang baik, bahkan kali ini yang terbaik! Karena semua mengenang lewat instagram, maka aku memilih untuk mengenangnya di sini terlebih dahulu.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bilangan waktu mengubah banyak hal, tapi ada beberapa yang melekat sejak dulu, bahkan saat pertama kali bertemu. Salah satu, salah dua, salah tiga, salah banyak, adalah kamu. Banyak? Iya, karena kamu terlalu rakus mengambil porsi di dalam ingatanku, juga perasaanku. Betapa bersamamu adalah hal yang indah, mungkin terindah. Bersamamu aku belajar menjadi dewasa, belajar tentang kehidupan meski yang kita lalui tidak seserius yang terlihat. Ada banyak ingatan hingga akhirnya berujung dengan senyum-senyum sendiri padahal bukan hal lucu. Ada juga hal-hal sedih dan itu tak perlu ditangisi. Menyebalkan, antara kenangan dan ekspresi tidak berjalan beriringan, terlalu emosional. Karena kadang kenangan terlalu berharga untuk dibagikan bersama orang lain, cukup diri ini yang merasakannya, begitu kata suara hatiku tiba-tiba menyeletuk.
Dulu katanya sesudah kita berpisah, kita akan menjadi sesuatu, sekecil atau sebesar apapun itu, untuk diri juga orang lain. Bagiku ada hal lain yang jauh lebih penting, menyadari bahwa kita pernah saling jadi bagian kehidupan masing-masing itu akan terdengar lebih manis dibanding menjadi sesuatu. Dengan begitu, aku merasa dihargai dan dianggap ada di sisimu.
Akan terlalu panjang jika terus kutuliskan, entah kapan selesai euforia ini. Benar kata Dilan, rindu itu berat dan kali ini aku tak sanggup. Bawa aku kesana lagi, berkali-kali lagi pun aku mau, asal dengan mereka.
Berdoalah dan Percayalah
Ramadhan kemarin, aku dan beberapa orang temen SMA abis pada bikin acara santunan anak yatim dan itikaf bareng di Depok. Pagi hari sesudah salat Subuh kita ngeriung di pinggir danau, karena masjidnya deket danau. Saling share, bertukar kabar, nanya kabar teman-teman yg lain yg ga sempat dateng, ngobrol-ngobrol ringan karena kita jarang banget meet up kayak begitu. Sampai salah satu temen ada yg nanya ke temen yg udah nikah, kenapa kok masih bisa ikutan kita-kita itikaf yg notabene kita masih pada sendiri. Akhirnya dia cerita, sharing pengalaman dia. Kita semua langsung fokus sama pembicaraan kali ini, aku juga gitu. Karena aku belum pernah dapet cerita kenapa sih dia bisa begitu. Kayak lagi dengerin dosen yg isi kuliahnya 3 sks. Kelas persiapan nikah dadakan kali ya kalo bisa diistilahkan.
Temen aku ini, sebutlah Ukhti N. Tinggal di Bekasi, suaminya adalah imam tetap di salah satu masjid BUMN di Jakarta. Suaminya jarang pulang karena selain kerja, beliau harus stay disana dan pulang 3 hari sekali. Temenku ini gak masalah sama suaminya yg harus jarang pulang. Dia ikhlas. Kemudian salah satu dari kita nanya ke dia, “N, kamu kok masih bisa sih ikut kita itikaf? Suamimu kok bisa ngijinin?”
“Iya, alhamdulillah suami aku ngijinin aku kalau mau pergi-pergi. Asal bilang dulu ke dia, telpon, kabarin. Nanti dia bakal nanya pergi sama siapa aja, kemana, mau ngapain, pulang jam berapa, alasannya harus jelas. Alhamdulillah aku dapat suami yg baik banget, pengertian sama aku. Dia juga gak worry kalo aku pergi sama kalian karena suami aku tau kalian gimana orangnya. Gak bakal macem-macem.”
“Aku mau bagi sedikit pengalaman aku. Dulu sebelum aku nikah, aku sering banget berdoa. Berdoa ke Allah mau suami yang pengertian, yang baik, yang sayang sama aku. Alhamdulillah itu semua terkabul. Aku juga pernah berdoa mau suami yang gak ngelarang aku kalau nanti aku mau ketemu kalian. Alhamdulillah terkabul juga. Aku juga pernah berdoa, yang ini aku berdoa hanya sekilas aja, ga maksud bener-bener pengen banget, aku pengen punya suami yang imam masjid. Karena waktu itu aku lagi liat tayangan imam masjid yang suaranya bagus banget. Alhamdulillah juga terkabul tanpa disangka-sangka. Aku aja gak nyangka doaku yang itu dikabulkan oleh Allah. Emang kekuatan doa tuh bener-bener manjur. Tinggal kitanya aja yang mau memperbaiki diri. Karena kalau kita berdoa minta ini itu tapi ga memantaskan diri, gak memperbaiki diri, sama aja bohong. Kita perlu dan wajib yakin sama kekuatan doa, doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang akan mendengar doa kita, Dia yang akan mengabulkan doa-doa baik kita. Kayak aku ini misalnya, aku berdoa pengen punya suami yg imam masjid, alhamdulillah dikabulkan Allah. Padahal aku cuma selintas aja dipikiran. Saran aku, kalau kalian ngeliat ada yang baik, ada yang sholeh, berdoa sama Allah, minta supaya dapat suami yang baik kayak gitu, yang sholeh kayak gitu. Berdoa karena sifatnya bukan karena orangnya. Kita gak pernah tau doa-doa baik kita yang mana yang akan terkabul, kita juga gak tau akan sama siapa jodoh kita kelak. Baiknya kita berdoa diberikan yang terbaik untuk kita, bukan baik menurut kita.”
Dari percakapan pagi itu aku mulai sadar, bahwa yang kita perlukan adalah percaya sama kekuatan doa baik sambil memperbaiki diri. Hasilnya bakal sia-sia kalo kita minta jodoh yang baik, yang sholeh, tapi kitanya sendiri masih apalah-apalah. Semua itu harus imbang, mau dapet yang baik baik ya coba memperbaiki diri. Egois rasanya kita minta yang baik tapi kita ga mau berusaha untuk memperbaiki diri.
Semoga tiap doa-doa baik kita didengar Allah dan kembali ke kita dengan bentuk yang paling indah..
#BeingMaryJane finale starts NOW!