Sebuah Surat Kecil untuk Pemkab Rembang beserta Jajarannya
Dengan hormat, perkenankan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan! saya Prajana Paramita Sari Puspita, seorang mahasiswi IPB departemen Arsitektur Lanskap semester 4 (2013) yang berasal dari REMBANG, kota garam tercinta. Senang rasanya bisa berdialog lewat surat digital, meskipun tidak bertatap muka dengan Bapak/Ibu/Sdra/i yang terhormat, di seberang sana. Semoga Allah senantiasa melindungi dan merahmati kita semua. AMIN
Bukan apa-apa, saya menulis surat ini hanya sekedar cerita dan sharing informasi saja kok, so tidak perlu takut karena surat ini bukan surat kaleng yang isinya ancaman bom #apadehmit. Pertama-tama saya ingin memperkenalkan HKRB kepada Bapak/Ibu/Sdra/i. Apa itu? Himpunan Keluarga Rembang di Bogor, sebuah keluarga yang dibangun berlandaskan asas kekeluargaan dan kemiripan nasib *jarang pulkam, satu rasa-sama rata. Beranggotakan lebih dari puluhan pelajar putra-putri Rembang bahkan mencapai ratusan, begitupun prestasi yang diraih dengan bukti koleksi piala di atas kulkas kontrakan saya #eh.
Bapak/Ibu/Sdra/i yang terhormat, saya sekedar menginfokan bahwa dalam waktu dekat ini, HKRB kembali mengikuti sebuah ajang kompetisi yang bergengsi tahun ini, yaitu FBBN "Festival Bunga dan Buah Nusantara 2013". Sebuah event perdana sebagai ajang publikasi, notifikasi, dan pamerisasi bunga dan buah khas lokal daerahnya masing-masing antar OMDA se-Indonesia. Event ini diselenggarakan berkat kerjasama antar komponen petinggi negara IPB, BUMN, dan Kementan. Persiapan dilakukan sejak 2 bulan yang lalu panitia oleh Himagron dibantu om-om dan tante-tante dari EO. Acara ini berlangsung tanggal 19 Mei 2013 mengelilingi Kebun Raya Bogor, start mulai jam 7 - jam 10 yang akan dibuka langsung oleh Menteri Pertanian Indonesia. Event ini juga akan diliput oleh 6 stasiun televisi SCTV, Antv, Trans 7, Trans tv, Metro tv, TV one, dan Green Tv. Pada intinya acara ini dibangun meng-copy acara festival-festival fashion keren di seantero dunia, real-nya di Indonesia ya mirip Jember Fashion Carnival.
Bapak/Ibu/Sdra/i yang terhormat, mungkin masih teringat sekitar seminggu yang lalu seorang mahasiswi pendek berkerudung (Ida Cck) terlihat sering mondar-mandir, bolak-balik sambil membawa map putih di tangannya. Ya, itu adalah salah satu anggota keluarga kami (HKRB) yang sedang berjuang menginformasikan kabar gembira ini kepada Bapak/Ibu/Sdra/i sekalian. Sekaligus meminta bantuan dari para pemegang kebijakan untuk turut mendukung event ini demi kemajuan Rembang bersama. Sayangnya, salah satu keluarga kami itu justru malah semakin dibingungkan dengan alur birokrasi yang berbelit-belit. Target sebenarnya hanya 3 dinas saja, namun semakin melebar ke dinas-dinas yang lain yang notabennya memang tidak berkaitan langsung dengan event ini. Stuck, kami meninggalkan berkas proposal, surat pengantar, surat dukungan langsung dari MENTERI PERTANIAN Bapak H.Suswono, dan BUMN Pak Dahlan Iskan serta lampiran rundown acara saat hari-H. Ida Cck akhirnya pulang ke Bogor setelah rela meninggalkan bangku kuliah sehari demi mengantarkan map putih kepada Bapak/Ibu/Sdra/i sekalian, dengan harapan membawa hasil yang setimpal dengan pengorbanannya hari itu. Tapi dia membawa pulang kekecewaan.
Dalam benak kami, Rembang itu mempunyai potensi bunga dan buah lokal yang bagus apabila dipublikasikan secara besar2an berskala nasional. Seperti siwalan dan kawis yang menjadi icon kabupaten ini. Memang sih waktu saya browsing kata "Kawis" yg keluar Rembang, namun ada yang nyelip sebuah website Pekalongan yang mulai membudidayakan Kawis untuk kuliner mereka. Sebenarnya, dalam festival ini bukan hanya sekedar untuk pamer, namun sebagai ajang pemilikan HAKI, pematenan produk lokal, agar sesama daerah tetap menghormati komoditas masing-masing, tanpa rebutan. Akan sangat sayang sekali apabila publikasi kita kalah saing dengan daerah lain. Dalam konsep ini, karnaval HKRB sekalian mengenalkan art perform tong-tong klek, dan pastinya akan sangat meriah. InsyaAllah.
Jadi sebenarnya begini loh, kami sebagai mahasiswa pertanian yang berasal dari Rembang ketika ada event besar seperti ini pasti tertarik dan ingin ikut meramaikan dengan ornamen bunga buah khas Rembang. Ketika kami mencapai puncak antusiasme, masalah dasar finansial menahan semangat kami yang pada akhirnya kita malah jadi pesimis dan malas. Kita berharap banyak dari Bapak/Ibu/Sdra/i yang para pemegang kebijakan, ayoklah kita sama-sama bareng-bareng memajukan Rembang jangan melihat berapa banyaknya biaya yang kita keluarkan, tetapi feedback yang didapatkan dan peluang besar untuk membesarkan nama Rembang. Mumpung masih ada mahasiswa-mahasiswa yang tergerak, masih ada mahasiswa-mahasiswa yang peduli, serta mahasiswa-mahasiswa yang semangat untuk membawa nama baik daerah tercinta.
Bapak/Ibu/Sdra/i yang terhormat, seekor burung rajawali tidak akan terbang tinggi bila ada ketimpangan pada salah satu sayapnya. Biarpun sayap yang kanan membentang lebar, namun yang kirinya masih terlipat rapi Sang Rajawali itu tidak akan pernah muncul di dirgantara. Semoga sebuah surat kecil ini tidak menyurutkan semangat para mahasiswa-mahasiswa di manapun kalian berada untuk selalu membawa nama almamater Kabupaten kita, karena kita adalah putra-putri daerah tanah gersang, bau garam. Siapa lagi kalau bukan kita? Maju terus tanah garam-ku tercinta!
Demikian surat ini saya tulis, tidak perlu dibalas karena saya hanya sekedar memberi info dan sharing cerita. Sebelumnya mohon maaf apabila terdapat salah kata dan kalimat yang menyinggung. Dan saya sampaikan terimakasih karena telah membaca surat ini sampai akhir. Sekian
-Prajana Paramita Sari Puspita-