Tomoe hanya tersenyum kecil mendengar candaan teman-temannya yang masih begitu excited di asrama mereka yang begitu kompak—meski tiga tahun sudah mereka bersekolah di Hogwarts. Hufflepuff berisi orang-orang yang menurutnya begitu manis dan menyenangkan. Ia bisa melihat beberapa seniornya yang melempar pandangan tidak enak ke meja-meja di sebelahnya, mengisyaratkan betapa minder dan kalah saingnya mereka; mungkin senior-senior itu tengah bermasalah dengan anak asrama lain. Tapi itu wajar, bukan?
Tapi yang membuatnya geli adalah mengenai betapa insecure-nya para rakun kecil yang saat ini mengerubunginya bagai lebah pada madu. Mereka seolah tak pernah puas dengan satu kata saja yang ia lontarkan, dan dia harus melanjutkan beberapa kalimat lagi untuk kemudian teman-temannya melanjutkan pembicaraan mereka sendiri dan meninggalkan Tomoe dengan dunianya.
Bukannya dia tidak suka atau bagaimana. Dia justru merasa senang dengan kebersamaan mereka. Tapi dua puluh empat jam tujuh hari setahun bersama orang-orang yang sama? Tidakkah mereka ingin memberikan sedikit ruang bagi privasi Tomoe dan hobi muggle yang didapatnya dari sang Ayah dalam melukis? Setiap sketsa yang dibuatnya menuai rasa kagum dari orang-orang yang melihat sekaligus heran mengenai mengapa sketsa-sketsa itu tak dapat bergerak. Tapi justru itu yang dimanfaatkan Tomoe dan dia menyukai setiap reaksi yang didapat dari orang-orang yang melihat hasil sketsanya—tak terkecuali Dumbledore yang girang.
Sayang, lukisan bukan sesuatu yang cukup. Dan sifat teman-temannya yang masih berpegang teguh mengenai asrama membuatnya geli. Tomoe butuh orang-orang berpikiran maju, yang mau menembus dinding persepsi kuno itu dan mencintai Hogwarts secara keseluruhan.
Seperti yang dilakukan Dmitriy si kembar bungsu dari Gryffindor yang justru semakin hari semakin membebaskan dirinya terjun ke ruang perkumpulan manapun yang ia sukai. Ia membuat tim Quidditch Gryffindor berada di puncak kejayaan trofi tahunan, membuat gadis-gadis Ravenclaw menghela nafas kagum ketika ia melambai ke arah mereka, tertawa dalam diskusi konyol senior-senior Tomoe—karena mereka berbeda tahun, tak mungkin bagi Tomoe untuk ikut serta dalam diskusi aneh mengenai troll yang seharusnya diajari berenang tersebut. Bahkan pemuda bertampang sok cool itu bisa meraih hati ular-ular kecil berhati tinggi dan menjadikan mereka ‘pengikut’ yang setia. Jika saja Dmitriy berniat menggunakan kesetiaan itu untuk hal yang salah, Tomoe yakin bahwa Dmitriy akan menjadi Dark Lord kedua setelah You-Know-Who.
Sial bagi Tomoe yang tidak mungkin bergaul dengan Dmitriy layaknya ia bergaul dengan teman-teman tahun yang sama. Perbedaan jadwal angkatan dan sibuknya anak-anak di tahun keenam membuat keduanya jarang bertemu. Bertemu pun, Dmitriy dan Tomoe dengan segala geng yang mengerubungi mereka hanya akan mempersulit perbincangan.
Kemudian tatapan Tomoe menemukan Matryosha saat upacara seleksi asrama. Gadis kecil itu terlihat begitu takut-takut di dalam asramanya sendiri. Dengan titelnya sebagai Mirthfall, anak-anak Ravenclaw hanya akan mempertinggi kedudukan mereka dalam hal intelektualitas—Tomoe bisa melihat sorot bangga pada mata tiap anggotanya.
Tapi bagaimana dengan Matryosha sendiri?
Tanpa menoleh pun, Tomoe tahu (dan berani taruhan) bahwa Hatheas dan Dmitriy yang ‘menguasai’ menara Gryffindor merasa bangga dengan adiknya—lagi-lagi bangga. Perasaan satu itu dirasakan oleh banyak orang, dan justru membuat Tomoe merasa muak. Tidakkah mereka mempertimbangkan pilihan nurani Matryosha sendiri? Tidakkah mereka melihat bagaimana raut gadis malang tersebut yang jelas ingin pergi kemanapun kecuali disana?
Sedetik kemudian iris biru itu bersirobok dengan iris hitamnya, dan Tomoe tahu bahwa waktunya untuk membuat ruang privasi sendiri telah tiba.
Di dalam ruangan itu, hanya ada ia dan Matryosha.