14 hour shift? No problem. #smiles #hugsforMom #takeyoursontoworkday #gratefulplateful #rememberwhyyoustarted #raisondetre
seen from China
seen from Spain
seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from Argentina
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Germany
seen from Germany
seen from Nepal

seen from United States
seen from Italy
seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
14 hour shift? No problem. #smiles #hugsforMom #takeyoursontoworkday #gratefulplateful #rememberwhyyoustarted #raisondetre
#MothersDayBalloon #MothersDayCards #DontForgetMom #MothersDay2017 #Walmart7240 #TeddyBearBalloons #HugsForMom #AmericanMoms (at Walmart Neighborhood Market Rowlett)
Hugs for Mom - not just for Mothers Day!!! When you want to let Mom know how much you care, the Hugs for Mom gift basket delivers your sentiments in style! This wooden picket fence planter is filled with gifts that make Mom feel special. The Mothers Are Forever inspirational book will say you love her for years to come. Send Mom a hug with the Hugs for Mom gift basket! Ceramic Picture Frame (holds a 3x5 photo) Refreshing Body Glistening Spray Poured glass votive candle Bath Sachet with Bath Salts Ms Grace lemon cookies Hemmingway green tea Wildflower Honey Wooden Picket Fence Planter 'Mothers Are Forever' Book of Inspirational Thoughts #hugsformom #anytimeofyear #notjustformothersday #weshipforyou #clicklinkinbio #forher😍 #herbirthday #justbecause #shewill❤️it #hugsforherbirthday #hugsallyearround #linkinmybio‼️ #clicklinkinmybiotoorder #giftsforalloccasions (at Charlotte, North Carolina)
Terima kasih, Mama
Mama, terima kasih banyak..
Untuk "Dek, mana buku yang ada tulisan kamu-nya? Dipesen aja buruan." Mengingat dulu Mama sukanya ngomong: "Buat apa jadi penulis? Mending cari kerjaan lain."
Untuk "Nanti ya Jeanne (nama Tante), lo bakal liat kalo lo ke toko buku nanti, pasti salah satu bukunya Esti dipajang di situ. Bangga dong lo sama anak gue." yang sampai saat ini hanya bisa ku-amin-kan :")
Untuk "Dek, ada kabar apalagi dari kampusnya?" yang terkadang tidak benar-benar kuacuhkan, tapi sekaligus selalu jadi pengingat bahwa aku punya tanggung jawab di masa depan yang syukurlah masih bisa kuperbaiki.
Untuk "Kamu bagusan waktu kurus kemaren lho, Dek." yang kuanggap sebagai bentuk halus dari "Kamu diet, gih."
Untuk "Dek, Mama janji kamu bakalan balik lagi ke sana." yang sedikit lagi tertepati.
Untuk "Esti sama Doddy mah udah nggak pernah minta uang lagi sama Mama." yang mampu menyejukkan sampai ke pelosok-pelosok hati.
Untuk "Yang penting kamu jaga diri, jangan menyalahgunakan kepercayaan Mama." setiap kali aku bermaksud menambah masa nginep di rumah seorang teman di lain tempat.
Untuk "Dek, ccc III udah mulai lho. Siapa tahu bisa mengobati kerinduan kamu nonton konser mereka di sini." sewaktu jarak memisahkan kita seada-adanya.
Untuk "Nggak usah diganti uangnya. Kamu kayak minjem uang sama yang bukan Mamanya aja, deh."
Untuk "Horeeeee!!!"-mu yang cukup lebay untuk menjawab pesan "Mamak, anakmu ini akhirnya pulang, mak." dariku.
Untuk "Jangan gampang nyerah, Dek! Mama aja waktu pertama kali banyak salahnya kok. Kamu pasti bisa!!!", ketika aku bilang "Mama, masakan aku kali ini kurang mateng dan kurang bumbu :|"
Untuk menjadi penyemangat yang cukup lebay. Orang bilang Ibu adalah penyemangat nomor satumu. Bagiku, kau yang paling beda. Kau yang paling lebay, Mama. *ngilang*
Untuk tidak pernah membatasi pertemananku, karena telah cukup percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri.
Untuk tidak pernah melarangku pulang malam meski dengan syarat, karena percaya bahwa aku telah cukup dewasa.
Untuk senyum yang bahkan aku tahu bahwa di baliknya tersimpan cukup banyak luka tertahan.
Untuk pelukan yang selalu terbuka lebar bagi siapapun, dan mata yang tidak pernah memandang.
Untuk kecukupan akan kebutuhan-kebutuhanku sehari-hari.
Untuk perhatian yang tidak akan pernah ada habisnya.
Untuk doa yang tidak mengenal jeda.
Untuk kesabaran dan ketabahan tanpa batas.
Untuk masakan-masakan lezat tanpa banding.
Untuk ketangguhan dalam menjadi seorang perempuan dan single fighter.
Maaf aku kerap menyakitimu baik sengaja maupun tidak. Maaf untuk air mata yang sebagian besarnya karena ulahku. Maaf masih belum bisa membahagiakanmu dengan kerja kerasku sendiri. Maaf, aku bukan anak yang mampu mengungkapkannya secara langsung.
Tapi aku menyayangimu meski gerak-gerikku sedang seperti tak acuh.
Selamat hari istimewamu. Aku selalu menyayangimu meskipun bukan pada hari Ibu. Aku ingin merayakan salah satu hari istimewamu bersama-sama, sampai ke berpuluh-puluh tahun lagi. Semoga Tuhan mendengar doa pendek ini.
Seperti yang anda ketahui cinta ibu sepanjang jalan. Ibu memberikan segala yang ia punya untuk kepentingan anaknya. Mengharukan sekali melihat si ibu dalam video ini menukar kalungnya dengan sepatu dan bagaimana ia kalang-kabut mengantarkan sebuah pensil anaknya yang ketinggalan.
Ah, jadi ingat, dari dulu saya tidak suka sekolah. Ketika masih TK, saya seringkali iri melihat anak-anak yang lain ditunggui oleh ibu mereka, sedangkan saya tidak. Saya sering ngambek, menangis dan marah pagi-pagi karena mama tidak bersama saya di sekolah. Ketika masuk SD, kalau ibu telat menjemput saya seringkali mengganggu pelajaran kakak saya yang berbeda tiga tahun. Dia akan izin keluar kelas lalu menelpon mama lewat wartel dekat sekolah. Atau bahkan mengantarku pulang dengan ojek, tentu saja mama yang membayar saat sudah sampai rumah.
Ketika SMP, aktivitas saya meningkat dan banyak berorientasi pada pertemanan. Urusan sekolah juga sering menyita waktu saya. Di saat seperti itu mama dengan senang hati menyediakan bekal dan menambah uang saku saya. Mama begitu perhatian ketika saya tak lagi bisa menghabiskan sepanjang hari bersamanya. Kala masuk Sekolah Menengah Atas baru-baru ini, saya memilih sekolah yang lebih jauh jaraknya dari rumah. Tentu saja mama yang paling tahu, segala ramalannya benar. Saya sering sakit dan stress. Ada beberapa elemen dalam highschool-life yang membuat saya tertekan. Beberapa kali saya minta pindah ke sekolah yang dikepalai oleh ayah saya, namun tentu saja tidak dikabulkan karena saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya. Dengan segala perhatian dan kasihnya pada saya, mama terus mendorong saya untuk maju.
Saya tidak lagi membantu mama mencuci piring, menyapu, mengankat jemuran dan hal-hal semacam itu. Mama mengerjakan semuanya. Mama tidak marah melihatku hanya berdiam diri di kamar. Mama menyiapkan makanan, gizi dan vitamin untuk saya. Mama melengkapi perlengkapan saya, membelikan apapun yang saya butuhkan. Mama tidak mengeluh mengompres panasku, menyuapiku, memijat badanku ketika tiba-tiba saya sakit seperti kemarin.
Bersyukur, nak, kamu sakit ada yang ngrawat. Kalau mama yang sakit, siapa coba yang ngrawat?
Kalimat itu menyentil ulu hati saya. Saya memang jarang melihat mama kesakitan, tapi saya tahu mama sering sakit. Mama sering memakai koyo. Mama juga pernah menjalani terapi. Tapi saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mama. Suatu saat nanti, semoga, saya bisa merawat mama...