Ini sudah hampir memasuki bulan ke-18 kami. Aku tahu, hubungan kami belumlah seberapa untuk begitu sering dibicarakan. Hanya, ini yang ingin sekali aku katakan: aku dibuat Tuhan tak bisa berhenti untuk mengucap syukur, atas lelaki pilihanNya, dan kepada siapa aku telah dipercayakan.
Siapa yang masih suka menulis diary?
Eh, apa pun yang kita tulis, Tuhan itu “ngintip” lho. Hahaha nggak deng, Dia memang Maha Tahu. Maka, percuma kalo kita berusaha untuk menutupi hal-hal apa pun. Tapi, Dia itu memang temen curhat paling enak, paling seru, paling yahud pokoknya. Nyaman rasanya, mengetahui, bahwa selalu ada sosok yang setiap saat bisa kita datengin, dan siap untuk mendengarkan.
Okay, berhubungan dengan diary, aku punya cerita begini. Jauh sebelum aku bertemu dengan si pacar, aku pernah iseng nulis 10 kriteria cowok pilihan. Iya, aku pernah. Oh my God. Please aku jangan diketawain. :))
Dan, mau tahu? Ketika aku melihat pada diri si pacar, nggak ada satu pun yang meleset dari semua kriteria itu. Bahkan, beberapa kriteria tambahan si pacar yang dari Tuhan begitu sesuai dan tepat bagiku. Coba bayangin, deh, bahwa jauh jauh jauh jauh sebelum aku bikin kriteria itu, Tuhan sudah ciptain seseorang yang Dia tahu bisa handle aku secara jasmani dan rohani. Tuhan sudah ciptain seseorang yang Dia tahu, bakalan aku butuhin banget.
No, aku bukan pengen nyombong atau lebay. Tapi, semakin ke sini, aku semakin dibuatNya sadar, bahwa si pacar adalah satu-satunya sosok paling pas yang Dia ciptakan buat aku. Ketemunya aku sama pacar pun terbilang unik. Aku di bekasi, dia di bintaro. Aku sejak tahun 2013 awal memilih untuk bergereja di gerejanya, sekitar 3 bulan kemudian kami diperkenalkan, 5 bulan kemudian saling mengaku perasaan masing-masing, 3 bulan selanjutnya resmi pacaran.
Maksudku, betapa semuanya akan begitu indah, kalo kita mau ngikutin rencananya Tuhan. Mau ikut ke mana Tuhan membawa langkah kaki kita. Mau bersedia ngikutin “cara main”nya Tuhan. Mau punya hati yang “Tuhan, biar keinginanMu yang jadi dalam hidupku”. Berapa kali kita memilih untuk mengambil jalan sendiri, mengambil jalan pintas hanya supaya semuanya terjadi menurut waktu dan keinginannya kita? Apa jadinya? Semuanya hanya akan membuat perjalanan menjadi lebih panjang, dan butuh waktu juga lho untuk kembali ke track semula.
Sekarang, aku dan pacar dihadapkan pada hubungan jarak jauh, berbeda benua. Hampir genap setahun dua bulan nggak ketemu, 4 juni besok. Sedih, kangen, nggak kuat, pengen nyerah, pasti ada. Tapi, mengingat betapa semuanya akan indah kalau kami mau terus taat pada perintah dan rencanaNya, membuat semuanya menjadi layak untuk diperjuangkan.
Dan ya, aku bersyukur, aku waktu itu tanpa sadar menunggunya dan tidak gegabah. Hingga ke setahun ke depan pun, aku juga akan taat menanti, hingga Tuhan mempertemukan kami kembali.
Saat kita ada pada posisi menunggu, bersabarlah, dan jangan bimbang. Hingga pada saatnya nanti, kita akan tahu, bahwa semuanya akan masuk akal, semua layak untuk diperjuangkan, dan semua perjuangan berarti.