MALANGTODAY.NET - Kalau sekarang sekolah rumah tangga mungkin lebih banyak diperuntukkan bagi calon pekerja rumah tangga, maka tidak halnya dengan era tahun 1900-an. Saat itu, sekolah rumah tangga atau yang lebih mereka kenal sebagai Huishoudschool diperuntukkan bagi perempuan di Hindia-Belanda (sebutan untuk Indonesia sebelum merdeka), baik yang lajang atau para isteri muda. Ternyata, sekolah rumah tangga itu pertama kali didirikan pada tahun 1918 di Yogyakarta dan Bandung. Pelajaran yang disampaikam meliputi tata cara belajar mencuci, menjahit pakaian, menyetrika, dan memasak. Selanjutnya, sekolah serupa pun terus berkembang di berbagai daerah seperti Madiun, Betawi (Jakarta), dan Sumatera. [caption id="attachment_73275" align="aligncenter" width="450"] Potret kelas memasak di Huishoudschool (sekolah rumahtangga) di Sumatera Barat pasa 8 Agustus 1934 (Pedoman Isteri, Agustus 1934: 117)[/caption] Dalam surat kabar Pedoman Isteri yang terbit pada tahun 1934, sekolah yang khusus bagi para perempuan itu didirikan karena banyaknya keluhan dari ibu rumah tangga yang merasa anak gadisnya tidak pandai dalam mengurus urusan rumah tangga. "Selain itu juga banyak keluhan dari para istri muda yang tidak mempunyai pengalaman dalam mengurus rumah tangga mereka," tulis R.D Toemenggoeng dalam Pidato Pembukaan Sekolah Rumah Tangga Fort De Kock yang diterbitkan Pedoman Istri pada tahun 1934. Masih dalam surat kabar yang sama, perkembangan Sekolah Rumah Tangga pertama yang didirikan di Bandung dan Yogyakarta tak semua berjalan mulus. Di Bandung, sangat sedikit perempuan yang tertarik dan mau sekolah di Huishoudschool. Karena mereka memilih untuk bisa berkarir dalam berbagai perusahaan. Berbeda dengan yang terjadi di Yogyakarya, dimana jumlah muridnya terus bertambah. Sejak didirikan pada tahun 1918, kelas ditambah ada tahun 1921. Muridnya pun kebanyakan berasal dari keluarga berada. Sementara Huishoudschool yang ada di Bandung terpaksa ditutup pada tahun 1923. [caption id="attachment_73278" align="aligncenter" width="450"] Potret para tamu yang hadir dalam acara pembukaan Huishoudschool (sekolah rumahtangga) di Sumatera Barat pasa 8 Agustus 1934 (Pedoman Isteri, Agustus 1934: 117)[/caption] Tak hanya di Jawa, sekolah serupa juga di bangun di Sumatera, tepatnya di Medan dan yang ke dua di Sumatera Barat. Respon yang cukup baik pun ditunjukkan setelah adanya peresmian sekolah tersebut. Sekitar 90 pendaftar pun melakukan registrasi di hari pertama pendaftaran sekolah yang dibuka di Sumatera Barat itu. "Saya banyak mendengar keluh kesah dari para istri muda yang baru saja menikah. Di mana mereka diwajibkan menjadi pemimpin rumah tangga dan merasa bahwa mengurus urusan rumah tangga sangatlah tidak mudah," tulis R.D Toemenggoeng dalam surat kabar Pedoman Isteri (Agustus 1934). Sebagian besar pengajarnya kala itu berasal dari warga negara Eropa. Sehingga, besar kemungkinan apa yang diajarkan itu merupakan kebiasaan yang ada di Eropa. Tak heran, jika pada masa itu juga berkembang beragam kebutuhan dapur seperti kompor yang menggantikan fungsi tungku api.(pit/zuk)