Sore itu tidak benar-benar berbeda, hanya saja langit seperti menahan sesuatu. Jingganya jatuh perlahan, tidak seterang biasanya, seolah sengaja meredam diri agar tidak terlalu menyilaukan mata yang sedang belajar menerima.
Angin lewat dengan langkah pelan. Membawa kabar yang tidak diucapkan keras-keras, tapi cukup jelas untuk membuat hati mengerti bahwa ada sesuatu yang sedang berubah, diam-diam, tanpa banyak perlawanan.
Aku berdiri di batas yang tak terlihat, antara yang pernah begitu luas dan yang kini mulai mengecil. Dulu, semuanya terasa tak bertepi. Datang dan pergi tanpa pernah benar-benar hilang. Ada riak, ada suara, ada rasa yang tak pernah habis diceritakan.
Tapi sore itu mengajarkan hal lain. Bahwa bahkan yang paling luas pun bisa memilih berhenti. Bahwa yang pernah terasa tak tergantikan, suatu hari bisa melepas dirinya sendiri, tanpa perlu alasan yang dijelaskan panjang.
Tidak ada yang benar-benar pergi dengan gaduh. Justru yang paling terasa adalah saat semuanya perlahan mereda tanpa suara, tanpa tanda. Hanya perubahan kecil yang, entah bagaimana, terasa sangat besar.
Mungkin setelah ini, yang tersisa bukan lagi gelombang yang sama. Bukan lagi rasa yang dulu kita kenal dengan begitu jelas. Akan ada versi yang lebih tenang, lebih diam, lebih… asing, meski masih membawa bentuk yang sama.
Dan anehnya, di tengah semua itu, tidak sepenuhnya dingin. Ada sisa hangat yang tertinggal, seperti cahaya sore yang tak pernah benar-benar pergi, hanya bergeser pelan ke tempat yang tak lagi bisa kita jangkau.
Aku tidak tahu akan seperti apa nanti. Apakah yang dulu luas itu akan tetap bisa dikenali, atau justru berubah menjadi sesuatu yang baru, yang tak lagi menyisakan jejak yang sama.
Yang aku tahu, sore itu tidak meminta untuk dimengerti sepenuhnya. Ia hanya ingin diterima seadanya. Seperti sesuatu yang perlahan surut, bukan untuk menghilang, tapi untuk mengajarkan bahwa tidak semua yang berkurang berarti kehilangan.