Only One (part II)
Sitting face to face awkwardly, we ask after each other with tiny bits of life.
When our conversations dried up, a quite stillness prevails.
It makes us freezed….
Hujan sudah berhenti saat Krystal sampai di halte dekat café tempatnya berjanji untuk bertemu dengan Kai. Dilangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah café yang bernuansa minimalis. Segalanya berwarna cokelat, warna kesukaannya, perkakasnya terbuat dari kayu, dan ada perapian yang cocok untuk menghangatkan diri dimusim dingin.
Krystal tidak perlu susah-susah mencari Kai, café itu sepi, Kai duduk membelakanginya di meja favorite mereka, disudut dekat dengan perapian. Krystal berjalan mendekat. Lalu tanpa diduganya, Kai memutar kepalanya. Pandangan mereka bertemu.
“Soojung-ah, akhirnya kau datang juga”
*****
Sebuah kenyataan yang tidak bisa diterka. Setelah hari itu, mereka menjadi lebih dekat. Disuatu hari yang dingin Krystal dan Kai berlari-lari memasuki halte bis, takut kehujanan.
“Yak Jonginnie, mengapa kau bisa kalah cepat dengan yeoja kurus sepertiku?” krystal menjulurkan lidahnya.
“Tentu saja aku kalah, kau itu sebenarnya namja” Krystal mengerucutkan bibirnya. Ia tak pernah suka jika Kai mengatainya namja.
“Soojungie, kau marah?” Krystal pura-pura tidak mendengar. Memandang berkeliling, kecuali ke arah Kai.
“Jangan marah Soojungie, jebal” Kai memegang bahu Krystal. Krystal berusaha melepasnya. Kai menghela napas panjang. “Kenapa kau cepat sekali marah jika aku mengataimu namja?” Krystal balik memandangnya.
“Kenapa kau selalu menganggapku namja? Aku ini yeoja, aku normal, aku masih menyukai namja. Tapi kau masih saja selalu memanggilku namja.”
“Baiklah, aku tidak akan menganggapmu namja lagi” Kai menunjukkan sign V dengan jarinya.
“Jinjja?”
“Ne. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Kau harus tahu, kau namja yang imut” Krystal meninju bahu Kai. “Auh, sakit sekali.”
“Kau jangan mengeluh seperti yeoja” Krystal menertawakan Kai. Kai ikut tertawa bersamanya. Tawa yang teredam bunyi hujan.
“Lihat, busnya sudah datang!!” Pekik Krystal. Benar saja, sebuah bus berwarna putih mulai mendekati halte tempat mereka menunggu. Kai dan Krystal berdiri bersamaan. Krystal melangkahkan kakinya dengan bersemangat. Tapi Kai menariknya kembali. Krystal memandangnya penuh tanya.
“Kenapa kau ini? Jangan sampai kita ketinggalan bus. Palli”
“Yak Soojungie, jangan biarkan hujan mengenaimu. Aku tidak ingin kau sakit” Dengan satu tarikan tangannya, Krystal merapat dengan tubuh Kai. Lalu Kai menaruh satu tangannya diatas kepala Krystal. Jantung Krystal berdegup. Bersama, mereka masuk kedalam bus.
We would have nothing to do with each other here
One of the two would remain with tears
You seem to make a great effort to do not offend my mind
And read my countenance…. But I don’t like this kind of attitude
So I’ll let you go….
“Kau akan benar-benar akan pergi?” Krystal memandang Kai dengan perasaan pedih. Kai menundukkan kepalanya. Tidak kuasa memandang Krystal. Ia tahu Krystal akan menangis, sebentar lagi, dalam hitungan detik, jika mata mereka saling menatap.
“Soojungie… Mianhae. Aku harus pergi untuk masa depanku” Hanya itu kalimat yang dapat keluar dari tenggorokannya. Krystal mengusap airmata yang perlahan-lahan mulai membasahi pipinya.
“Ini bukan salahmu. Ini salahku, tidak seharusnya aku seperti ini, aku sudah berusaha melupakannya, tidak memperdulikannya, tapi tetap saja, aku tetap dibayang-bayangi dirimu.” Kai mengangkat wajahnya, memandang Krystal dengan pandangan penuh tanya.
“Apa maksudmu?” Krystal menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Bahkan Kai tidak mengetahuinya sama sekali.
“Apa aku harus mengatakannya dengan jelas? Aku mencintaimu Jonginnie” Dan airmata itu semakin deras mengalir membasahi pipinya. Kai tertegun. Tidak pernah menyangka ini sama sekali. “Lebih baik aku pergi sekarang” Dan Krystal berdiri dari duduknya.
“Soojung-ah” Kai ikut berdiri.
“Jangan menahanku, itu akan menyakitiku. Arrasso?” Kai membeku ditempatnya. “Annyeonghi gyeseyo Kim Jongin-ssi” Krystal menganggukkan kepalanya, dan berlalu dari depan Kai, yang masih membeku.
I am hurt and hurt, and like a fool, but I think I have to say good bye…
When can I get you out of my head, One or two day, one month, or maybe a few years…
And someday, in your memories, I would not exist anymore…
Because you would get me out of your head…
Good bye my love, Even this time we break up, You’re the only one…
~The End~
Author: @Hyyka published by: @minhoshineeina The winner of #MinhoFFcontest at @minhoshineeina








