A Star In My Heart (Part I)
Aku menoleh ke arah luar jendela. Kota seoul saat ini sedang basah, hujan deras menggguyur di kota seoul. Saat ini aku hanya menoleh ke arah luar jendela memikirkan sesuatu.
Cahaya selepas hujan yang masuk melalui jendela terasa hangat menerpa wajahnya yang kini basah...
Melalui mata yang tenggelam oleh air mata, aku melangkah ke depan jendela… menatap jatuhan kelopak bunga yang mekar di musim semi. Angin yang membawanya menari turun, memberi kehidupan pada sungai di bawahnya. Kemanakah sungai itu akan membawanya?
Sama halnya dengan diriku yang entah akan pergi ke mana?
suara tempat tidur yang sedikit tergoyang menandakan bahwa namjachinguku sudah terbangun. Kulihat sebentar ke arahnya, ia sedang berusaha bangun dan menyandarkan tubuhnya.
“kau sudah lama terbangun?” tanya ki bum namjachinguku. Aku diam tanpa merespon pertanyaannya. Dia mendekat dan memelukku dari belakang, tapi aku segera melepaskan pelukannya.
“kau masih marah? Ayolah, ini hanya salah paham. Aku tidak melakukan apapun. Dia hanya memintaku untuk bertemu” ki bum merayuku dan menjelaskan kembali tentang perdebatan kami semalam yang belum selesai hingga saat ini.
“sudahlah ! kau tahu aku benci hal sperti ini bukan? Kau sama sekali tidak menghargaiku. Katakan bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Jangan lakukan hal ini padaku. Kau tahu bagaimana aku mencintaimu bukan? Lalu mengapa kau membuat hatiku hancur seperti ini?” amarahku masih saja tersimpan, ki bum saling berhubungan di telepon dengan mantan kekasihnya tanpa sepengetahuanku. Bagaimana mungkin aku tidak cemburu akan hal itu
“lalu bagaimana denganmu? Kau bahkan pernah dekat bersama namja lain tanpa sepengetahuanku!” kali ini ki bum juga terbawa suasana. kurasa Perdebatan semalam akan berlanjut.
“kau sedang mencoba mencari alasan untuk membela diri sekarang? Hahh?”
“aku hanya berkata apa yang sebenarnya terjadi!”
“apakah saat ini kau mencoba membalas perlakuanku dulu padamu?!!”
“untuk apa? Untuk apa aku membalasmu?! Kau tahu? Aku lelah padamu! Kau selalu membuat hal kecil menjadi masalah besar dalam hubungan kita!! Pergilah! Lakukan apa yang kau mau!” ki bum benar-benar sangat marah kali ini. Aku yang juga masih dalam keadaan diluar kendali tidak bisa menahan diri.
“baiklah!! Aku sudah tau. Kau memang sudah tidak mencintaiku lagi! Kenapa kau tidak mengatakan ini dari dulu!! Kita berakhir!!!” kataku dan kemudian ki bum pergi meninggalkan apartemenku.
semenjak perdebatan hebat itu. Aku dan ki bum akhirnya mengakhiri hubungan kami. Aku memilih keluar negeri agar dapat melupakannya.
aku membuka jendela menuju teras apartemenku, tak ada pemandangan sungai kecil yang dulu selalu terbingkai oleh jendela kecilnya di tempat dulu ketika ki bum bersamaku.
Malam ini hujan musim semi.
aku teringat pada peristiwa beberapa tahun lalu tentang bagaimana aku menangis dengan menggenggam sebuah apel di tanganku, memikirkan rasa manis yang pernah aku lalui bersama kekasihku.
Apakah ini drama haru dan airmata?
Perasaannya selama 42 bulan ini belum sirna, saat beberapa tahun lalu aku mencuri waktu meninggalkan Rusia untuk melangkah ke tempat di mana aku meninggalkan bagian kecil hatiku yang rusak, aku hanya bisa menatapnya di kejauhan
aku bohong besar jika saat ke kembali ke korea aku tidak mempunyai perasaan ingin berjumpa pada mantan kekasihku. Selama 42 bulan berakhirnya hubungan kami, aku benar-benar tidak bisa mencintai namja lain.
Aku menyesal dengan perdebatan yang kami lakukan beberapa tahun lalu, kenapa saat itu aku harus terbawa emosiku? Seharusnya aku mendengarkannnya dan mengalah padanya. Banyak pertanyaan karena penyesalan yang menyelubungi pikiran dan hatiku akan hal itu.
aku memandangi sebuah bingkai foto di atas meja, sebuah senyum sepasang kekasih yang sangat bahagia terlihat di balik bingkai itu. Aku mengambilnya ‘ki bum-ah,,, masihkah kau mengingatku? Aku tidak bisa melupakanmu? Aku sudah kembali ke korea sekarang. Kau tahu apa yg ku inginkan? Aku ingin bertemu denganmu. Tapi mungkin saat ini kau sudah hidup berbahagia bersama yeoja lain’ batinku. Aku meletakkan bingkai foto itu di dadaku, seakan aku sedang memelukknya. Ku menundukkan wajahku berusaha menahan sakit yang sedang ku alami selama 42 bulan ini
Kakiku melangkah dengan ringan di terotoar kota, memakai rok mini, tas kecil, sepatu boots panjang, juga mantel yang tebal dan panjang hingga hampir menutupi rok yang aku kenakan. Menghirup dan menikmati setiap hembusan angin yang sangat sejuk. Hingga langkahku terhenti di depan sebuah cafe ice cream. Aku kembali teringat ketika aku bersama ki bum selalu datang ke tempat ini, aku sangat menyukai ice cream di cafe ini. Ki bum bahkan selalu membawakan aku ice cream setiap hari.
aku kembali melangkahkan kakiku, menuju sebuah taman. tiba-tiba langkahku terhenti, kulihat namja yang berjarak sekitar 5 meter dariku juga terdiam di tempatnya sedang berdiri saat ini. Kami saling memandangi satu sama lain dengan waktu yang sedikit lama.
Duduk di kursi taman itu yang berada di bawah pohon bersama namja tadi. Aku benar-benar tidak percaya ini adalah suatu kebetulan.
“kau sudah lama berada di sini?” tanya namja itu yang tidak lain adalah kim ki bum mantan kekasihku
“baru sekitar 2 minggu” jawabku canggung. Aku benar-benar tidak dapat berkata-kata karena bahagia bertemu dengannya.
“bagaimana di rusia? Apakah itu menyenangkan?” tanya ki bum, ku lihat ia tersenyum manis padaku. Senyuman itu, itu sungguh membuat hatiku berdebar sangat kencang.
“hhmmpp,,, aku hanya mencoba menikmati setiap waktu yang aku lalui disana” aku dan ki bum berbincang-bincang tentang banyak hal.kami juga sedikit sudah tidak canggung lagi.
“apa kau memiliki kekasih sekarang?” pertanyaan ki bum membuatku shock, apa yang membuatnya langsung bertanya seperti itu. Aku menggelengkan kepalaku dan kembali bertanya padanya “bagaimana denganmu?”
ki bum terdiam sejenak, kami saling memandang satu sama lain, ia diam, ia masih terus diam, jika ia tidak menjawabku, ini berarti bahwa dia menjawab dia sudah memiliki kekeasih.
“ji eun ah” ki bum memanggilku yang dari tadi sudah menatap ke arahnya, nadanya terdengar pelan dan serius.”selama 3 tahun lebih ini, kau tahu apa yang kulakukan dan kurasakan ketika kau pergi jauh dari pandanganku? Aku adalah seorang namja. Tapi aku selalu meneteskan air mata ketika aku mengingatmu dan merindukanmu. Apa yang harus kulakukan? Kau terlalu jauh. Setiap aku terbangun di pagi hari, aku hanya melihat kalender dikamarku. Berharap waktu cepat berlalu dan membawaku bertemu denganmu. Aku ingin memulai hidup baru untuk melupakanmu, sama sepertimu yang ingin melupakanku dengan pergi kerusia.tapi itu sama sekai tidak berhasil, aku dekat dengan beberapa yeoja dalam setahun, tapi hatiku tertutup. Sepertinya ia tidak membiarkan orang lain masuk kedalamnya. Hingga akhirnya aku berhenti dan terus menunggumu. Kau tahu bagaimana aku menahan sakit karena merindukanmu? Aku bahkan terkadang tidak kuat merasakannya” kata ki bum tulus padaku. Matanya telihat mulai berkaca-kaca. Aku mengeggam tangannya yang kosong
“aku juga sakit karena jauh denganmu. Aku berusaha melupakanmu dengan pergi kerusia. Tapi memory tentang kita. Itu terlalu kuat di dalam hatiku. Ia menguasaiku, apapun yang ku lakukan kau selalu ada dlam pikiranku, kau seperti nafasku. Aku akan mati jika aku melupakanmu. Beberapa tahun menahan sakit karena merindukanmu, beraktifitas bersama bayang-bayangmu. Itu benar-benar membuatku menderita. Aku............” belum selesai aku berbicara, ki bum segera menarikku dan memelukku. Pundakku terasa basah. Ia memelukku semakin erat, tubuhnya tergerak seperti orang yang sedang cegukan menahan suara tangisnya.
“kembali padaku. Kumohon. Aku benar-benar mencintaimu. Bahkan jika kau menyuruhku untuk berlutut, itu akan kulakukan asalkan kau kembali padaku.” Kata ki bum di tengah isak tangisnya. Air mataku sudah tidak bisa untuk ku bendung, ini terlalu manis, air mataku keluar membanjiri pipiku. Aku menangis bukan karena aku tersakiti, ini karena aku bahagia. akuperlahan melingkarkan tanganku di tubuh ki bum dan memeluknya dengan erat, tangisanku semakin menjadi-jadi.kememejamkan mataku merasakan kehangatan dipelukan namja yang sangat aku cintai ini.
2 minggu semenjak kami kembali menjalin hubungan. Kami berjanji untuk tidak menyakiti satu sama lain dan tidak akan membuat kami terpisah. Dia datang ke apartemenku setiap hari, aku selalu membuat makanan di waktu jam makan dan kami makan bersama. Kami sering berbincang dan tertawa bersama, seperti yang sering dia lakukan dulu, dia sangat senang menggelitiki pinggangku dan membuatku tertawa lepas menahan geli juga berusaha melepaskan tangannya yang menggelitiki pinggangku.
suatu hari kami pergi kesebuah tempat untuk bersenang-senang.
“kau ingin bermain roller coaster?” ajak ki bum
“ani.. aku takut” jawabku menggeleng dengan cepat. Ki bum menggenggam tangaku erat dan berkata “ada aku” ia tersenyum sangat manis, aku kembali tersenyum dan kamipun pergi bermain permainan itu. Ia terus menggenggam tanganku. Aku dan ki bum teriak hampir bersamaan di setiap kami berada di roller coaster itu.
kami kemudian pergi ketempat sebuah aksessoris. Aku memasangkan sebuah handbands lucu yang memiliki telinga kelinci padanya, ia melepaskan hairband itu dan menggelengkan kepalanya bertanda ia tidak mau, dia lucu dengan ekspresi seperti itu, tapi aku memaksanya memasang hairbands itu dan kamipun sama-sama memakai hairbands.
kemudian kami pergi ke tempat ice cream dan membeli dua ice cream, kami menyantap ice cream itu tanpa ki bum melepas genggaman tangannya padaku.
“aahhh,, ice creamku” seruku pelan melihat ice creamku yang kini sudah berada di tanah.
“ya! Ya! Pabo yeoja. Mengapa kau menjatuhkannya?” ejek ki bum. Aku memanyunkan bibirku.
“aku tidak menjatuhkannya” ki bum kemudian mencubit hidungku. “aaaaaa,, Appo!!” seruku
“ini ambillah” kata ki bum tersenyum sambil menyodorkan ice creamnya padaku. Aku tersenyum dan kami menyantap ice cream itu bersama-sama. Kami juga pergi kesebuah kolam air mancur kecil. Ia membasahiku dengan memercikkan air dikolam itu padaku, akhirnya kamipun perang air di sertai tawa bahagia kami.
Hari-hariku benar-benar baik ketika kembali bersamanya.
dddrrtt,,,, ddrrtt,, ddrrtt,,, ponselku berbunyi, aku segera menekan tombol hijau dilayar ponsel itu
“kau bebas malam ini?” tanya ki bum dari seberang sana to the point
“baiklah, jam berapa kau datang”
“aku akan menjemputmu jam 7. Kau harus berdandan cantik yeobo. Annyeong” kata ki bum dan langsung memutuskan perakapan kami. Yeobo??? Apa yang baru saja dia katakan. Aku tertawa kecil dalam hati. Namja aneh. Ckckckckkk
malampun tiba. Aku berdandan secantik mungkin,
iapun datang ke apartemenku.
“omo! Omo! Aku belum pernah melihatmu secantik ini” kata ki bum mengejekku.
“cchh,,, kau berlebihan, kajja” kataku
kami kemudian pergi di sebuah pantai, sesampainya di sana ia menutup mataku dengan kedua tangannya dan mengarahkan jalanku.
“apa ini? Mengapa kau harus menutup mataku?” tanyaku heran
“diamlah, kita hampir sampai, kau hanya perlu mengikutiku. arrachi?”
kami terhenti. Perlahan ki bum melepaskan tangannya yang menutup mataku. Aku perlahan membuka mataku dan ketika aku melihat apa yang berada di depanku, itu benar-benar membuatku terkejut. Dia membuat sebuah dinner romantis, pohon-pohon bersinar warna-warni karena lampu yang memenuhi pohon-pohon itu, ia melingkari lilin menjadi berbentuk LOVE di sekitar meja dinner kami, dia juga mengukir namaku dan namanya dengan lilin-lilin itu. Ki bum yang berada di belakangku langsung memelukku dari belakang
“apa kau menyukainya?” tanya ki bum
“aku sangat menyukainya” jawabku gembira. Dia kemudian mengajakku menyantap makanan di meja itu. Beberapa lama kemudian. Kami berjalan di pinggiran pantai itu, saling menggenggam tangan, suasana sngat romantis. Bintang bertaburan sangat banyak dilangit, suara ombak yang datang secara bergantian terdengar begitu merdu. Kami menikmati suasana di setiap langkah kami. Tiba-tiba langkahku terhenti karena ki bum juga berhenti
“ada apa? Kenapa kau berhenti? Apa kau sudah bosan terus berjalan disini? Kalau begitu, mari kita ketempat lain” kataku tersenyum pada ki bum, ku lihat ki bum mengambil sesuatu dari kantong saku celananya.
ia kemudian turun dan membentuk tubuhnya menjadi setengah berdiri. Ia menaikkan tangannya ke atas dan menyodorkan sebuah kotak kecil padaku.
“maukah kau menikah denganku” tanya ki bum sangat tulus menaikkan wajahnya untuk menatapku. Aku benar-benar terkejut bahagia. senyum mengembang diwajahku. Akupun mengambil kotak itu yang berarti ‘iya’ ki bum kemudian berdiri dan mengambil cincin didalam kotak kecil yang aku pegang, ia memasangkan cincin itu di jari manisku, dan kemudian mencium keningku.
“saat ini, aku bahkan lebih bahagia dibanding siapapun” kata ki bum dengan senyumannya dan menatapku. Akupun membalas senyumannya
“ini adalah berarti kita tidak akan berpisah lagi bukan? Jika iya, aku sangat bahagia saat ini” kataku, kamipun saling berpelukan.
”Berjanjilah jangan pernah pergi lagi. Tetaplah di sampingku” kataku karena takut kehilangan ki bum lagi.
“sebelum kau berkata tentang ini sekarang. Sebelumnya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dariku” ki bum memelukku semakin erat. Angin dingin yang berhembus saat itu tidak kurasakan sama skali. Aku terpaku dlam hangatnya berada di pelukan kekasih yang sangat aku cintai ini.
malam itu sungguh sangat berharga bagiku. Moment yang ki bum berikan padaku itu tidak akan dapat aku lupakan. Ki bum-ah,, gomawo, jeongmal gomawo. Kau hadir dalam kehidupanku dan membuatku hidup bahagia seperti ini. Aku berjanji akan membahagiakanmu sebisaku mungkin. Aku tidak akan mengecewakanmu.
keluargaku bersama keluarga ki bum telah mengadakan pertemuan dan menggelar acara pertunangan. Saat ini mereka sedang membicarakan tentang acara pernikahan kami yang akan dilangsungkan 2 minggu lagi. Hari bahagia itu semakin dekat aku dan ki bum sudah sangat tidak sabar ingin memiliki secara utuh satu sama lain, sehingga kami dapat hidup bahagia selamanya.
“aku sangat bahagia hari itu segera datang.” Kata kibum yang memelukku dari belakang ketika kami sedang asik bersantai di balkon apartemenku. Aku menyandarkan punggungku pada tubuh ki bum yang memelukku dari belakang.
“aku juga. Ini adalah hari yang sudah lama aku nantikan. Kita akan hidup bersama dalam suatu ikatan yang sah. Aku akan memilikimu seutuhnya, begitupun denganmu. Aku sangat bahagia” kataku dan ki bum tersenyum
“ya! Coba lihat, bintang itu sangat terang” kata ki bum menunjuk ke arah langit
“mmm” aku menganggung cepat “dia yang paling terang di antara semua bintang dilangit saat ini” lanjutku
“seseorang pernah berkata padaku jika ada jiwa yang sudah pergi meninggalkan dunia ini, dia akan menjadi bagian dari bintang-bintang dilangit. dan jika kau merindukannya atau ingin bertemu dengannya. Kau hanya perlu melihat ke arah langit seperti saat ini, dan temukan bintang paling terang di langit. Itu adalah dia, orang yang kau rindukan itu” jelas ki bum.
“jinjja?? Aku baru tahu kalau ada hal seperti ini”
“pabo!! Darimana saja kau? Ini adalah hal umum di masyarakat”
“bohong!!” kataku mengejek ki bum.
‘kau mengejekku saat ini?” Ki bum tersenyum evil dan menggelitikan pinggangku. Spontan aku tertawa karena geli.
“ya! Ya! Ya! Geli, hahahaa lepaskan aku!” seruku di tengah-tengah tawaku. Ki bum terus menggelitikku
Author credit @ikha_taemints
published by @minhoshineeina
the winner of #minhoffcontest @minhoshineeina