Untuk mengukur sebuah madrasah atau pesantren sudah berbasis cinta atau belum, tak memerlukan _assesment tool_ yang rumit. Kita tinggal duduk di salah satu sudutnya, amati dan rasakan iklim dan atmosfirnya. Lihat bagaimana pola interaksi orang-orangnya, bagaimana menata sandal dan sepatunya, bagaimana pengelolaan sampahnya, bagaimana taman dan kebunnya. Karena cinta bukan dijelaskan, tapi dirasakan.
pagi ini mencoba lebih sadar bahwa peran di rumah adalah ibu yang dicipta dengan fitur feminin 😌 emosi seperti bunglon terima terima terima beri akses jalan untuk keluar pergi hilang dalam hembusan nafas yg mengepul seperti asap abu-abu 😮💨😌
Hari ini, Minggu, 3 Juli 2022 aku ikut sebuah webinar tentang kesehatan mental. Dulu kukira kesehatan mental itu ya biasa-biasa saja tidak ada istimewanya. Ternyata itu salah, kesehatan mental juga tidak kalah penting, karena apabila mental kita tidak sehat akan berpengaruh juga ke kesehatan fisik.
Kali ini, narasumbernya adalah seorang psikologi klinis, mba Asiska Danim Indranata, M.Psi., Psikolog, yang ternyata satu almamater denganku di Universitas Islam Indonesia.
Sebelum webinar dimulai, kita diminta untuk mengisi sebuah kuisioner tentang sejauh mana kita memahami diri sendiri. Aku mengisinya tentu saja, dan sepertinya aku termasuk di golongan orang yang masih setengah-setengah bisa memahami diri sendiri.
Mba Asiska menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan adanya permasalahan di kesehatan mental kita semua, antara lain : pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan (bahasa gaulnya sekarang inner child) , lalu ada permasalahan yang memang berasal dari dalam diri ini, adanya konflik dengan orang lain, dan standar sosial yang sering kita lihat di media sosial.
Aku sempat menutup diri dan berusaha off dari media sosial. Namun, untuk saat ini belum bisa, aku masih butuh berinteraksi dengan kawan, masih butuh info-info terkini yang sedang terjadi, masih butuh info terkait parenting atau kesehatan anak dari media sosial yang aku ikuti. Hanya saja sekarang sudah mulai bisa menerima apa saja yang sekiranya lewat di beranda media sosialku.
Namun, setelah mendengar sharing dari mba Asiska, aku jadi lebih paham dan bisa menata pikiran, apa yang harus kulakukan jika mengalami gangguan di kesehatan mentalku ini. Apa yang aku lakukan jika ada trigger yang lewat, yang membuatku "meledak".
Beliau menyampaikan, langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah self acceptance , yakni menerima, mengakui, dan menghargai pencapaian maupun keterbatasan diri.
Terima saja semua yang terjadi, dan mengakui, ya memang aku ada masalah, ya memang aku belum bisa menerima keadaan ini. Namun jangan lupa untuk mengapresiasi apa yang sudah kita lakukan dan kita capai sampai saat ini. Selain itu juga kita terima, bahwa tidak semua hal bisa kita lakukan. Sadar bahwa kita adalah individu yang punya banyak keterbatasan.
Yang kedua adalah self forgiveness, mulai berproses untuk melepas segala bentuk kebencian dan rasa sakit hati terhadap kesalahan atau pelanggaran diri sendiri.
Mulai coba untuk diungkapkan, bisa dengan cerita, atau menulis. Lalu mulailah untuk memutuskan apa yang akan dilakukan, aku harus apa ya, aku mulai dari mana ya. Selanjutnya lakukan hal tersebut, misalnya mungkin aku mulai dengan afimarsi ke diri, atau mulai perlahan-lahan memaafkan seseorang yang pernah menyakiti hati, dsb. Dan yang terakhir adalah kita bisa memaknai hal-hal yang terjadi memang karena kita adalah orang terpilih yang bisa melewatinya.
Dan yang ketiga, adalah self love, yaitu mencintai diri sendiri dengan menyadari, menghargai, percaya, dan peduli dengan diri kita sendiri.
Setelah kita bisa memaknai, tinggal kita berterima kasih dengan diri kita. Bahwa sudah berjuang dan berusaha sekuat mungkin untuk bisa memahami dan melewati semua hal yang mungkin kita anggap berat.
Ketika semuanya sudah kita lakukan tapi kok sepertinya tetap butuh bantuan, ya jangan sungkan untuk langsung menghubungi profesional. Karena jika kita menunda-nunda, justru akan semakin sakit dan hidup pun tak tenang.
Senang sekali bisa ikut di webinar kali ini, bertemu dengan teman-teman baru, ya walaupun aku off camera karena sedang membersamai anakku yang bermain.
Teruntuk diriku sendiri.
Terima kasih karena telah bertahan hingga detik ini.
Terima kasih karena telah berusaha menjalani peranmu sebagai istri dan ibu dengan sepenuh hati.
Terima kasih karena telah menjadi perempuan yang terus berusaha memperbaiki diri.
Terima kasih karena telah berjuang memaafkan apapun yang membuatmu sakit.
Diriku,
Maaf jika ego masih mengecewakan.
Tetap semangat, ada keluarga kecilmu yang menemani.
Semoga Allah selalu melindungi.
Di tengah semakin tingginya jumlah perempuan masuk ke ranah publik, muncul fenomena arus balik, yakni perempuan yang memilih berkarir sebagai ibu rumah tangga, meski mereka telah mencapai gelar sarjana, master, bahkan doktor dan profesor.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa keputusan perempuan menjadi ibu rumah tangga lebih didasarkan pada alasan kecukupan ekonomi, pengasuhan anak, dan atau tuntutan suami. Rasionalitas sering kali hanya dilekatkan pada perempuan berpendidikan tinggi yang menjadi wanita karier atau bekerja di sektor publik.
Sedangkan perempuan yang berpendidikan tinggi namun lebih memilih menjadi ibu rumah tangga atau bekerja di sektor domestik dinilai tidak berharga dan menyianyiakan pendidikannya. Padahal, keputusan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dipegang oleh si perempuan ini. Karena apa pun keputusannya, dia masih bisa belajar dan berkarya dari rumah.
Keputusan sama yang kubuat saat akan menikah. Dengan bulat tekad, aku memilih untuk mengikuti suami dan menjadi ibu rumah tangga. Mungkin suatu saat nanti aku akan bekerja lagi di sektor publik, entah kapan. Namun, yang jelas sekarang ini dengan aku menjadi ibu rumah tangga, aku juga masih bisa berkarya.
Jika aku masih bekerja mungkin aku tidak akan bisa sepenuhnya mencurahkan perhatianku ke anak, mungkin aku tidak akan sempat menulis buku antologi, dan bahkan mungkin aku tidak sempat untuk mencoba hal baru seperti berbisnis.
Semua sudah digariskan, mari kita syukuri dan jalani dengan ikhlas.
Apoteker, Sebuah Profesi Yang Tak Pernah Aku Impikan
Apoteker, adalah sebuah profesi yang aku kenal setelah masuk ke dunia perkuliahan. Lucu ya, karena aku tahu profesi ini setelah masuk ke jurusan farmasi di kampusku, Universitas Islam Indonesia, tahun 2010 silam.
Melansir dari KBBI, Apoteker adalah seseorang ahli dalam ilmu obat-obatan.Pengertian lebih lengkapnya, Apoteker adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab
dalam meracik dan menjelaskan mengenai obat-obatan kepada pasien di rumah sakit, klinik, dan apotek.
Tidak hanya obat untuk sakit, seorang Apoteker juga harus mendalami ranah kosmetik
dan obat tradisional yang cukup beragam.
Setelah mengambil jurusan perkuliahan sebagai Sarjana Farmasi,
seorang apoteker harus menjalani rangkaian tes Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI)
dan membacakan sumpah jabatan sebagai rangkaian kesiapan apoteker dalam bekerja.
Sebagai seorang Apoteker, ada 10 kompetensi dasar yang harus dimiliki, yaitu :
Praktek kefarmasian secara profesional dan etik
Optimalisasi penggunaan sediaan farmasi
Dispensing sediaan farmasi dan alat kesehatan
Pemberian informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan
Formulasi dan produksi sediaan farmasi
Upaya preventif dan promotif kesehatan masyarakat
Pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan
Komunikasi efektif
Ketrampilan organisasi dan hubungan interpersonal
Peningkatan kompetensi diri
Banyak juga ya, tapi semua itu sudah dipelajari saat kuliah farmasi dan lebih mendalam saat profesi Apoteker.
Setelah disumpah, dulu aku bekerja di sebuah Apotek BUMN dan menjadi apoteker penanggung jawab di sana. Pekerjaanku saat itu sangat menantang karena notabene aku seorang fresh graduate,dan langsung dipercaya untuk memegang sebuah apotek.
Namun, dengan seiring berjalannya waktu, akhirnya aku lulus juga di tahun ke 4 aku bekerja di sana. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan, tidak hanya ilmu tentang kefarmasian, namun ilmu tentang bisnis, komunikasi, dan leadership juga aku dapatkan.
Setelah aku menikah dan ikut suami di perantauan, aku belum berpraktek kembali. Banyak pertimbangan, salah satunya adalah aku ingin fokus terlebih dahulu untuk mengurus anak dan keluarga.
Namun jangan salah, ilmu-ilmu yang aku dapatkan tentu saja masih sangat berguna dan selalu aku terapkan sekarang. Berbagai webinar atau buku-buku tentang kefarmasian juga masih sempat aku baca
di sela-sela me-time ku saat malam hari.
Ternyata semua itu menjadi kebutuhan saat ini. Sekarang ketika menjadi ibu, aku sangat menyadari bahwa setiap hari kita butuh belajar lebih banyak ilmu. Semakin hari rasanya ada saja yang kita temui dan kita belum paham apa ilmunya.
Contoh kecil saja, ketika anakku demam dan harus minum obat penurun demam. Tiba-tiba saja dia muntah ketika 5 menit setelah pemberian obat.
Apa yang harus kulakukan setelah itu?
Apakah perlu obatnya diminumkan lagi?
Kalau iya, berapa dosisnya?
Hal-hal detail seperti ini mungkin akan terlewat dan lupa saat kita belajar di bangku kuliah. Namun, ketika kita menghadapinya langsung, kita butuh dan harus paham ilmunya. Untuk itu, sampai detik ini pun aku masih terus belajar. Sesekali bangga dengan diri sendiri yang awalnya tidak tahu profesi ini, sekarang justru sangat terbantu karena pernah mengenyam pendidikan ini.
Rencana Allah memang yang terbaik.
Apoteker, sebuah profesi yang tak pernah aku impikan, menjadikanku seseorang yang mudah bersyukur.