Tentang Panggilan "Bu"
Suatu siang di tengah persiapan pertemuan rutin organisasi profesi, aku iseng tanya ke ibu, "Kalau seragam ini dan bawahan hitam, pakai jilbab apa ya, Buk?"
Ibuk yang sedang duduk di depan laptop, sudah bisa dipastikan lagi nge-game, tapi beliau jawab, "Jilbab segi empat aja, biar nggak kayak ibu2..”
Tapi ini hari jum'at, undangan jam 12. Pasti ada edisi sholat nya, kan males kalo ribet nata ulang jilbab. Entah kenapa semenjak keluar dari RSIA GS, aku jadi males pakai jilban segi empat.
"Emang kenapa kalo ibuk2?", jawabku sambil bongkar tumpukan jilbab. Nyariin jilbab instan merk "R" warna soft yellow, kuning sangat muda agak pastel gitu.
Ibu masih nge-game, tapi jawab lagi, "Temen sekantor ibuk yang umurnya hampir sama ibuk aja gak mau pakai jilbab instan. Gak mau kayak ibu2 katanya.."
Padahal, profesi ibuk dan temannya adalah guru. Sehari-hari sepanjang hidup mereka, mereka dipanggil dengan sebutan "Bu". Aku heran kenapa itu jadi masalah?
"Kenapa gak mau? Kalau aku bangga dipanggil "Bu"", jawabku sambil lalu, buru2 pakai sepatu lalu berpamitan ke ibuk.
Di jalan, tiba2 kepikiran.. Ya, Allah semoga perkataanku tadi nggak menyakiti hati atau membuat sedih ibuk. Itu tadi antara sengaja dan sedikit curcol. Sengaja, supaya ibuk tambah kuat. Supaya ibuk tau kalau anaknya kuat. Dan semoga ibuk tau, kalau ibuk lah satu2nya orang yang akan selalu berhasil meruntuhkan kekuatan, kepercayaan, dan apapun yang pernah ku bangun sedikit demi sedikit, sampai aku akhirnya jadi "good girl" yang nurutin semua kata2 bahkan tindakan dan kebiasaan kecilnya. Begitu juga sebaliknya kalau ibu rasa aku benar walaupun aku ragu, beliau juga satu2nya yang akan selalu berhasil menguatkanku untuk berjuang habis2an sampai akhir. Hebat ya? Power seorang Ibu..
Ibuk buatku sudah lebih dari sekedar sahabat. Nggak ada yang lebih memahami aku lebih dari beliau.. Tapi di sisi lain, beliau juga adalah sisi rapuhku.. Saat beliau sakit, sedih atau menangis. Aku pun merasakannya. Aku sampai berpikir, di persalinanku selanjutnya, apa ibu bisa hadir? Itu seperti simalakama. Aku butuh support nya tapi aku takut ibuk malah terlalu khawatir dan mengacau semuanya..
Curcol..
Sejak gadis, tubuhku udah bongsor dan emang sering dipanggil dengan sebutan "Bu" oleh mereka yang berpapasan denganku di jalan. Aku senyum aja, aku selalu janji pada diri sendiri kalau aku tidak akan protes atau mengeluh setelahnya. Aku yakin kalau sebutan itu adalah doa.. Karena aku tau, tidak semua orang bisa merasakannya. Contohnya, guru sd kesayanganku. Almarhumah Ibu Hartini, B.A.. Beliau meninggal karena serangan kanker payudara di usia paruh baya, dengan status gadis.
Banyak yang menganggap menjadi Ibu itu kehormatan dan kebanggaan tertinggi seorang wanita. Sampai2 segala cara rela dilakukan untuk dapat merasakannya, iya kan? Sampai sekarang, aku masih percaya kalau panggilan itu salah satu bentuk doa. Harapanku tentunya tidak hanya sekedar jadi ibu tapi ibu terbaik bagi anak2ku. Semoga suatu saat dikabulkan oleh Yang Maha Mengabulkan doa. Aaamiin.










