Tanah Bumbu: Surga Kecil di Tepi Kalsel
Bumi Kalimantan selalu memiliki daya tariknya sendiri. Begitu banyak keanekaragaman hayati yang ada dan belum banyak yang dieksplorasi oleh manusia. Mulai dari tanaman, buah-buahan, hingga lokasi wisata/potensi jasa lingkungan. Nah, menjelang Hari Keanekaragaman Hayati 2019, saya mau bercerita sedikit nih tentang keanekaragaman hayati yang membuat saya takjub berada di Pulau Borneo. Pengalaman pertama saya berkunjung ke Kalimantan adalah di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Lalu apa yang istimewa di Tanah Bumbu?
Mandin Damar
Salah satu potensi jasa lingkungan yang pernah saya temui adalah Air terjun Mandin Damar di Desa Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Mengapa Mandin Damar? Beberapa hal yang membuat saya takjub dengan air terjun ini adalah lokasinya yang masih asri, tenang, plus airnya jernih! Dijamin betah berlama-lama disini. Jika sudah sampai sini jangan sampai nggak mandi ya! Dijamin nyesel, atau… hati-hati nanti pulangnya kehujanan. Karena kali pertama berkunjung dan beberapa orang dari tim memutuskan tidak mandi, kemudian tim kami kehujanan saat pulang hehe.
Perjalanan menuju lokasi bisa ditempuh selama empat jam dari pusat kabupaten, kemudian akan ada petunjuk jalan untuk memasuki kawasan, kurang lebih sejauh enam kilometer yang bisa dilalui mobil atau kendaraan bermotor. Belum cukup disitu saja, untuk memasuki lokasi air terjun masih harus menempuh jarak satu kilometer lagi melalui jalan setapak. Bisa dengan jalan kaki atau pakai trail jika ada.
Our team!
Capek? Enggaaaak… Enggak salah! Apalagi bagi saya yang jarang berjalan jauh hehehe. Tapi pemandangan yang ditawarkan setelah itu dijamin tidak akan bikin menyesal. Lokasi di depan air terjun merupakan dataran yang lapang, sangat cocok untuk bersantai. Oya! Banyak ikan-ikan kecil juga di sana.
Tapi harap berhati-hati juga ya, Air terjun setinggi kurang lebih 10 meter ini terdapat bagian yang diperkirakan punya kedalaman lima meter. Cukup dalam bagi saya yang tak pandai berenang hehe.
Mengenal Budidaya Lebah Madu Kelulut
Berapa jenis lebah madu yang sobat ketahui?? Sebelumnya saya sendiri cuma tau yang ada di iklan-iklan itu hehehehe. Beruntung sekali saya bisa sampai di Kalimantan, mengenal berbagai macam lebah yang mampu menghasilkan madu. Disini ada yang namanya Madu Kelulut. Dihasilkan dari lebah kelulut atau dikenal dengan nama ilmiah Trigona sp.
Beginilah kenampakannya-
Sudah pernah lihat? Pasti lihat di tembok atau di pintu rumah hehehe. Tapi bukan lho, ini adalah lebah yang berbeda. Lalu, bagaimana rasa madunya? Selama ini yang kita tau dari madu yang sering dibeli pasti rasanya manis ya? Tapi kalau madu yang dihasilkan dari Trigona ini bias beraneka ragam rasanya: Manis, Asam, pahit. Rame ya? Hehe.
Rasa madu yang berbeda ini bergantung pada jenis makanan yang tersedia. Karena disana tumbuh-tumbuhan ada beraneka ragam, makanya rasanya pun bias berbeda pula. Ada yang menghisap nectar dari bunga pohon karet, pohon mangrove, dan banyak lagi yang tentunya akan berpengaruh terhadap rasanya.
Sudah ada bayangan bagaimana rasanya? Mewakili ya?
Saat ini, Madu Keluliut sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Khasiatnya pun tak kalah hebat dari madu manis yang sering kita beli, apalagi ini adalah madu alami, benar-benar tanpa campuran. Kalau ragu akan keasliannya, bisa dibeli di petani langsung. Penasaran? jangan lupa mencoba jika berkunjung ke Tanah Bumbu ya hehehehe
Bekantan
Bekantan, dengan nama ilmiah Nasalis larvatus, adalah ikon khas Pulau Kalimantan, wabil khusus Kalimantan Selatan. Hewan ini adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Hewan ini juga termasuk hewan yang dilindungi lhoh.
Sayangnya, selama di Tanah Bumbu saya juga belum pernah melihat secara langsung hewan ini. Kabarnya memang hewan ini sangat pemalu, seperti sayaaa hehehehehe. Jadi, saya cuma foto dengan patungnya saja. Lihat deh hidungnya, lucu ya! Serasa mau mencet hehe. Patung ini berada di Banjarmasin ya. Taraaa!
Kabarnya, belum afdol jika ke Banjarmasin tapi belum foto dengan patung ini hehe
Sumber Rempah-rempah
Sudah pernah melihat buah kemiri secara langsung? Ini adalah salah satu hal yang sangat membuat saya begitu excited! Baru pertama kalinya saya melihat pohon kemiri, buahnya, bahkan proses pengupasan hingga menjadi kemiri yang dijual seperti di pasaran.
Menariknya, yang sering dibeli di pasar, apalagi di Pulau Jawa, nggak ada apa-apanya! Cuma seperti remahannya doaaaang. Di sini, kemirinya besar-besar dan utuh. Tak pernah sebahagia ini saya melihat bumbu dapur hehe.
Oya, selain Kemiri ada juga Kayu Manis. Saya berkesempatan melihat pohon induk kayu manis yang besarnya Mashaa Allah, juga hingga proses menjadi kayu manis kering. Kayu manis pun juga ada standar ukurannya lhoh, bukan Cuma remah-remahan belaka. Layaknya kualitas premium, kayu manis biasanya berukuran panjang 40 cm, tidak bengkok, dan benar-benar halus. Sekali lagi, nggak seperti yang kita (khususnya saya) beli di pasaran. Benar-benar mantap!
Buah-buahan
Bicara soal buah-buahan di Kalimantan tak ada habisnya. Saya pun tak ingat banyak karna memang begitu banyaaaaak. Apalagi di Pulau Jawa sudah tidak pernah menemuinya. Satu-satu sesuai yang saya ingat ya.. Here we goo...
Buah Mentega. Bentuknya mirip seperti apel. Rasanya manis agak sepat dan punya bau yang khas.
Kalangkala. Pernah makan satu kali dalam bentuk urap. Iya URAP. Rasanya seperti alpukat.
Kapul. Buahnya mirip manggis dan rasanya manis.
Langsat. Rasanya seperti duku.
Jambu Agung. Rasanya asaaaaaaam, ukurannya lebih besar dibanding jambu air yang pernah saya lihat.
Maritam. Seperti rambutan, karena masih satu famili namun durinya tebal. Rasanya manis agak masam
Tiwadak. Buahnya seperti nangka
Rambai. Mirip langsat.
Ramania. Rasanya asam-manis.
Sepertinya itu saja yang saya ingat hehe. Ada yang pernah dengar nama-nama buah tersebut? Kalau penasaran cari di gugel aja yak!
Saya merasa sangat bersyukur punya kesempatan berkunjung ke Tanah Bumbu. Meskipun belum semuanya khatam karna kalau mau khatam harus menetap disana mungkin ya hehehe. Tapi saya berniat akan mengunjungi Kalimantan lagi dan tidak melulu di Tanah Bumbu.
Satu daerah saja begitu luar biasa wisata alamnya, banyak sekali air terjun, gua, bukit yang belum dieksplorasi. Harapannya, ke depan akan ada akses kelola untuk wisata alam yang dibarengi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Tujuannya agar supaya warga masyarakat hingga wisatawan dapat mengakses lokasi wisata tersebut dan potensi wisata dapat berkembang sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan ekonomi warga sekitar.
Selain itu, perlu juga adanya perlindungan hewan serta tumbuhan untuk menjaga ekosistem di Kaliamatan khususnya ekosistem hutan yang semakin lama semakin menipis karena perambahan hingga kebakaran hutan. Mengingat banyaknya tumbuh-tumbuan, buah-buahan langka yang hanya ada di Kalimantan serta hewan-hewan seperti Bekantan, Orangutan, Monyet, dan hewan-hewan endemik lain yang hidup dan bergantung pada ekosistem hutan di Kalimantan, khususnya Tanah Bumbu.
Dalam Rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati 2019, mari bersama-sama kita turut serta menjaga alam sekitar dengan memulai dari hal-hal kecil seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai terlebih jika sedang berwisata alam, kemudian menggantinya dengan membawa wadah sendiri yang dapat digunakan kembali.Tak lupa, menghindari membuang sampah sembarangan, dan mengambil sampah yang ada jika menemui sampah berserakan di lokasi wisata alam.
Mari bersama-sama jaga alam kita untuk Indonesia yang lebih hijau. Salam Lestari!









