Belajar Menebar #22: Memandang yang Jauh
Saya suka sekali memandang langit. Luas, bersih, menenangkan. Asal jangan mendung. Saya suka di tempat tinggi dan luas karena bisa mandang langit lebih leluasa.
Suatu ketika saya naik gunung, em, bukit sih. Ntah memang cuma bukit atau hanya karena nama daerah. Entah nama desa atau kelurahan atau kecamatannya, Iffa lupa. Tapi di Kalimantan sih kayaknya ngga ada gunung.
Bukitnya kan tinggi, saya kira saya bakal puas lihat langit. Nyatanya enggak. Sampai puncak pandangan saya teralihkan oleh pemandangan indah di bawah sana. Lampu lampu yang ramai saat malam (karena naiknya malam), pemandangan sawah yang cantik membentang.
Rumput tetangga lebih hijau. Saat di bawah suka mandang ke atas. Sudah diatas mandangnya malah ke bawah. Ya sama kayak hidup. Suka ngelihat ke orang lain, kelihatannya lebih baik, lebih seru, lebih bagus. Maunya kayak begitu. Sudah dikasih begitu, maunya kayak begini. Yang jauh dimata suka kelihatan lebih indah. Bikin lupa sama apa yang ada didekat kita.
Pas sudah berlalu barulah tersadar, apa yang sudah dilewatkan. Pas sudah turun barulah ingat, betapa dekatnya tadi dengan langit.








