Mencita-citakan IRT, really?
Aku ingin berbagi pandangan sekaligus merapikannya dalam postingan kali ini; terkait perempuan, cita-cita, dan cinta (?). Ya ini akan jadi tulisan sok tau seperti biasanya, mungkin bisa jadi bahan diskusi atau renungan bagi yang membacanya. Let’s start, bismillah..
Obrolan terkait rencana pascakampus mungkin sudah dari lama jadi topik menarik bagiku dan teman-teman di banyak lingkaran diskusi, makin kesini makin terasa kan betapa banyak yang harus dipersiapkan sebelum menghadapi sesuatu yang baru. Tiap kali menyusun lifeplan rasanya selalu mentok dan dibenturkan dengan pernyataan dari diri sendiri “tapi kan kalau udah nikah belum tentu bisa gini. Entar keluarganya gimana?” Namun tersadarkan kembali, mimpi kan bebas kenapa malah ngebatasin diri sama hal yang belum terjadi? Akhirnya karena memang ada deadline dari program pembinaan, jadilah lifeplan untuk 5 tahun dan 10-30 tahun ke depan berhasil disusun walaupun masih banyak kolom yang bolong bolong. Ternyata imajinasi liarku tidak sampai untuk mengkhayal begitu detail sampai 30 tahun ke depan hehe.
Tapi setuju ga sih kehidupan rumah tangga tuh pasti bakal life changing banget. Kita harus terbiasa mengendalikan gas dan rem selama ngejalaninnya (wedew sok tau banget Aliya haha). Oke balik lagi, perbincangan tentang perempuan dan masa depannya ini pernah jadi diskusi di grup yang isinya para ukhti ukhti lintas kampus yang awalnya berangkat dari keresahan seorang teman, khawatir dengan menikah jadi membatasi ruang kontribusinya buat masyarakat. Trus ramelah itu grup yang biasanya cuma jadi lalu lintas jarkoman, selain ngasih pendapat aku juga tertarik sama beberapa pernyataan dari temen-temen lain yang kurang lebih kaya gini,
“Aku sih prinsipnya asal suami ridho sama apa yang aku lakuin” “Kalau aku emang mau jadi ibu rumah tangga, fokus ke keluarga dulu sambil juga tetap berkontribusi buat masyarakat” “Lagian perempuan tuh emang lebih suka di rumah ga sih?”
Jujur aku salut sekaligus heran sih dengan temen-temen yang udah ikhlas buat berniat jadi ibu rumah tangga. Karena di bayanganku dari dulu nanti aku kalau udah dewasa pengennya kesana kemari gitu, ga kebayang kalau cuma di rumah aja. But at that time I realized I haven’t got the AHA moment. Aku sadar masih ada yang belum kupahami dan penasaranku belum terpuaskan, walaupun aku sadar gimana pentingnya peran ibu dalam keluarga, tapi aku masih belum nerima “di rumah aja” tiap hari itu gimana gituloh :”)
Long story short, akhir bulan lalu aku ikut materi dari Bunda Elly Risman tentang inner child trus pas sesi tanya jawab ada yang nanya kurang lebih kaya gini “Bunda, gimana caranya jadi wanita yang bekerja kaya Bunda tapi tetap bisa ngurus keluarga dengan baik?” dan jawaban dari Bunda Elly bikin kaget sih karena intonasi suaranya jadi lebih naik dari sebelumnya. “Siapa yang bilang saya bekerja?” trus beliau nunjukin tabel kondisi “umur jiwa” anak dengan berbagai kondisi peran orang tua (yang kerja dua-duanya atau cuma salah satu). Ah bahasan ini seru, nanti tunggu podcastnya ya hehe bakal panjang banget soalnya. Intinya, Bunda Elly ga setuju dengan kalau ibu tuh bekerja, ibu itu ya perannya ngurus anak.
Setelah itu aku dapetin Aha Moment dan bisa menyimpulkan bahwasanya “ketidakinginan seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga itu karena ketakutannya menjadi tidak produktif, tidak bisa mengaktualisasikan dirinya”. Walaupun pasti ada banyak alasan lain di luar itu, tapi setidaknya itu mewakili alasanku hehe. Nyatanya kita aaja yang pandangannya terlalu sempit menilai ibu rumah tangga. Padahal banyak banget proses aktualisasi diri yang bakal kita lewatin kalau kita bener-bener jalanin peran itu semaksimal mungkin, apalagi dalam ngerawat dan membesarkan anak ya. Kemarin nemu tuh postingan di IG proses aktualisasi diri ketika parenting, tapi lupa akun mana yang ngepos hehe.
Trus aku juga akhir-akhir ini sering nontonin video para IRT youtuber wkwk apalagi yang kontennya minimalist aestethic dari mbak mbak kosan atau mamah muda Korea hehe ya mayan lah jadi inspirasi cita-cita baru. Next aku bikin list rekomendasi deh para anak atau ibu rumah tangga yang bisa tetep produktif walau #dirumahaja. Lagipula pandemi ini bikin aku nyadar sih, ternyata aku tidak se-keluyuran (apasih istilahnya?) yang aku pikirkan, hei aku bisa berbulan-bulan di rumah aja dan tetap waras wkwk ada jenuhnya sih, tapi hal ini yang bikin jadi lebih bersyukur tiap kali jalan-jalan deket aja udah seneng hehe. Maybe pandemic makes us simplifying happiness.
Yang aku sadari juga ternyata ga masalah kalau harus terus di rumah, asalkan pikiran dan aktivitas kita bebas bereksplorasi, daripada kerja kantoran tapi ngerjain yang itu itu aja jauh lebih stress kan ya? Eh tapi tiap orang beda beda sih. Pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa aku ga butuh rencana karir, tapi yang mau aku rancang adalah rencana belajar dan berkarya. Hiyaa keren ga tuh? wkwk skip.
Oke segitu dulu igauanku, kalau ada hal menarik terkait bahasan ini yang bisa dibagikan boleh banget yaa buat nambah insight aku yang sotau hehe. See you!
Bonus scene ‘my twin’ di Little Women :3 line lengkapnya gini “Just because my dreams are different than yours, it doesn’t mean they’re unimportant” -Meg March













