Berhenti Mencari Nyaman dan Menikmati Rasa Bosan
Kita mencari kenyamanan di tempat lain, karena hidup kita ga nyaman.
Kita mengira distraksi semacam itu adalah sebuah solusi. Mungkin ini saatnya kita mengakui; kalau bukan ini jalan keluarnya,
kalau selama ini kita salah.
-Ardhi Mohammad dalam Whatâs So Wrong About Your Life?
Postingan ini mungkin bisa jadi tanggapan dari postingan @slythereeen tentang âRedefine Comfort Zoneâ, karena aku pun pernah mempermasalahkan hal yang sama. Bertanya dalam diri, âMemang apa salahnya tinggal di zona nyaman jika kita tetap bisa berkembang? Apakah comfort zone selalu berlawanan dengan growth zone?â
Tulisan ini cuma opini, jadi harap maklum ya kalau sotoy hehe. Aku coba mengurai pertanyaan yang saling bersinggungan dan cari jawaban juga kesimpulan yang bisa jadi tak jauh dari permukaan. Haha apasih Aal. Langsung deh, akan ada beberapa hal yang kucoba uraikan, semoga ada titik temunya ya :)
1. Naluri mencari kenyamanan
Sering kali kita diberi contoh âkeluar dari zona nyamanâ dengan kasus orang yang sudah memiliki pekerjaan yang menjanjikan dengan penghasilan berkecukupan, namun ia memilih keluar untuk membangun daerahnya atau mengambil peran di bidang kemanusiaan. Hal-hal idealis yang diperjuangkan seseorang di tengah pragmatisnya hidup. Lantas apa di tempat barunya nanti ia akan terus berjuang tanpa merasakan kenyamanan? Bukankah bisa jadi kenyamanannya berubah dan berpindah? Berubah sehingga ia harus mendefinisikan ulang dan berpindah sehingga ada banyak hal yang harus disesuaikan. Dulu, di posisinya yang lama ia juga tetap bertumbuh, mengejar segala hal yang menurutnya berarti, dulu. Namun pada satu titik dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa bukan itu yang dicari, sehingga pada akhirnya ia memperjuangkan nilai dibanding angka semata. See? Kita akan selalu mencari kenyamanan, jadi wajar saja jika kita memilih ataupun berpindah. Karena segalanya sangat dinamis, nyaman pun datang dan pergi, untuk urusan mempertahankan itu beda lagi ya (:
2. Nyaman itu diciptakan, bukan dicari
Anggaplah kita setuju kalau kita sama-sama mencari kenyamanan (kita siapa sih Al? wkwk). Kita mencari kenyamanan karena butuh, kan? Namun pada kenyataannya tempat yang nyaman tidak akan selalu berisi hal yang menyenangkan. Ini tentang mengubah perspektif, bahwa nyaman itu diciptakan, bukan dicari. Jika kita mencari nyaman untuk bahagia, coba ingat kata Kale, âBahagia itu tanggung jawab masing-masingâ. Jadi, jangan menggantungkan diri pada hal yang tidak pasti dan mudah berganti hiyaa. Kalau kata ustadz di mesjid dekat rumah tadi subuh, âKebahagiaanku tidak ditentukan oleh tempatkuâ. Beliau juga mengingatkan lagi kisah Buya Hamka yang tetap bisa berkarya di dalam penjara. Bener sih, kalau Buya Hamka butuh kondisi nyaman buat nulis, misal pengennya nulis di cafe demi wifi gratis dan konten Instastory, hm pasti ilmu dan nasehat beliau ga bakal nyampe ke kita hari ini hehe.
3. Memperluas zona nyaman
Trus gimana ceritanya nyiptain nyaman sendiri? Ya ini balik lagi ke awal sih, apa definisi nyaman bagi kita masing-masing. Mungkin ada yang nyamannya leyeh leyeh di kasur seharian, tapi ada juga yang nyamannya nyelesain TTS berbuku-buku wkwk masih ada yang main TTS ga sih (?) Ga cuma kondisi sesaat, ada juga yang nyaman sama keadaan di hidupnya, jadi ga masalah kalau terus di zona itu, makanya ga ada niatan buat ngubah hidupnya, terima aja gitu hidupnya pas-pasan. Mungkin kita kalau ngeliat hidup orang-orang kaya ngerasa nikmat banget ya hidupnya, makan enak, tidur nyenyak, duit banyak.
Walaupun emang ga senikmat itu sih, contohnya aja Bae Gyu Ri yang tinggal jadi CEO bisnis entertainment punya orang tuanya malah nyari âhiburanâ pengen kerja bareng Ji Soo yang kerjaannya ilegal pfft yang gagal paham bisa tonton Extracurricular hehe pertama kalinya tuh aku nonton drakor 10 episode langsung abis. Nah trus kenapa Bae Gyu Ri sama Oh Ji Soo? Kalau dari ceritanya kan Ji Soo itu hidupnya berat ya, harus ngehidupin diri sendiri, bapaknya ga bener malah nyuri tabungan dari bisnis gelapnya, âekskulânya pfft. Padahal cita-cita dia âcumaâ pengen lulus SMA, kuliah, kerja, punya keluarga sendiri yang bahagia, ga kaya Gyu Ri yang seolah-olah cuma jadiin bisnisnya ini sebagai mainan pelampiasan stress dia dari tekanan keluarga. Mereka berdua ga bener-bener keluar dari zona mereka sih, tapi mereka memperluas zona mereka dengan cari tantangan, walaupun malah ngedatangin masalah. Hehe mungkin ini contohnya ga pas sih wkwk intinya tiap kondisi tuh pasti ada ga nyamannya, tinggal balik lagi ke diri kita, mau tetep disitu terus atau cari hal baru dan temukan nyaman baru hiyaa, ga cuma normal aja yang baru gitukan.
Mungkin kita lebih familiar sama analogi ikan yang berenang di kolam ikan sama yang di laut lepas kali ya. Ikan yang tinggalnya di kolam ikan mah enak, makan dikasih sama orang yang ngerawatnya, arusnya juga segitu gitu aja. Jadi keinget ikan-ikan kesayangan ibuku yang dipanggil âNakâ pfft aku ketambahan adek banyak deh. Nah ikan-ikan itu hidupnya ya disitu-situ aja, ancamannya dikit, hidupnya aman tentram damai sentosa. Ga kaya Nemo, Martin, Dory yang hidupnya di laut lepas trus bisa ngejelajah banyak tempat ketemu banyak jenis ikan, hewan lain sampai manusia. Pasti pengalaman mereka lebih kaya kan ya? Hidupnya juga ga gitu-gitu aja dan mereka nyaman ngejalaninnya hehe. Eniwei, ini relate sama bahasan di #TukarIsiKepala episode 11, belum diedit sih podcastnya, entar kalau mau dengerin, langsung aja ya ke Podcast Almosphere hehe
4. Mengakali dan menikmati rasa bosan
Nah kalau bahasan kali ini beda lagi sih, tapi masih nyambung lah ya sama yang bikin nyaman. Pasti di kondisi pandemi gini wajar banget ngerasa bosan, rasanya semua hal yang bisa dilakuin udah semua dicoba tapi tetep aja bosan. Hm tergantung sih, killing time nya ngapain, kalau cuma mindless scrolling, namatin tontonan, main game teruus kaya gitu berulang-ulang wajar kali ya kalau ga puas. Balik lagi ke quote di awal;
Kita mengira distraksi semacam itu adalah sebuah solusiÂ
Nah ini sih, kita cenderung tidak ingin bosan. Kita ga suka nunggu antrian, jadi sambil nunggu kita main hape. Kalau main hapenya emang karena ada urusan sih gapapa gitu ya, tapi kalau mindless malah jadi buang waktu kan. Menurutku mending ngelamun sih haha jadiin tiap jeda waktu buat mikirin hal-hal penting bagi kita, sesekali halu gapapa kok wkwk. Manfaat dari suka ngelamun ini katanya bikin kita jadi lebih kreatif. Malah ada penelitian yang bilang kalau orang yang ngelewatin tahap bosen cenderung lebih kreatif karena mereka berusaha lebih keras buat mikirin solusi biar bisa ngelakuin hal baru. Aku salut sih sama temen-temen yang jadi banyak ngelakuin hal baru di pandemi ini, belajar skill baru, mulai jualan, nyiapin hal-hal yang mau dikejar. Banyak deh yang tetap berprogres walaupun sekarang dunia lagi ngejeda, hiyaa selamat berproses!
5. Menentukan level kebahagiaan hidup
Duh ini kenapa judulnya jadi berat gitu ya hehe tapi masih bisa nyambung sih sama sebelum-sebelumnya, soalnya mau dibuat dua part juga nanggung, yauda lanjut deh ya. Martin Seligman, seorang psikologis yang menulis buku Authentic Happiness bilang kalau ada tiga bentuk kebahagiaan yang dicari manusia dalam hidupnya, yaituÂ
Hidup penuh kesenangan (pleasant life)Â
Hidup bermakna (meaningful life)
Beda dari tiap level kebahagiaan itu ada pada fokus yang dikejarnya. Level pertama bisa terpenuhi kalau kita udah dapetin hal-hal yang bikin kita seneng, tapi biasanya sifatnya materialistik, ngikutin standar manusia, misal sekolah-kuliah-kerja-nikah-kaya-bahagia, template biasa gitu kan ya? wkwk. Kalau level kedua ya sama juga tapi kita jadi lebih mikirin aspek lain, misalnya kebahagiaan jasmani, rohani, juga sosial buat dapetin hidup aman, tentram, damai, sentosa. Kalau level ketiga ada lagi yang dipikirin, yaitu makna dan tujuan hidupnya. Jadi ngejalanin hidupnya lebih mindful gitu kan, tau alasan dari tiap hal yang dilakuinnya, juga punya keinginan buat hidup lebih berarti. Punya bakat jadi altruis lah ya, jadi ga cuma mikirin kebahagiaan diri sendiri tapi juga membahagiakan orang banyak.
Seseorang bisa nikmatin ademnya duduk di bawah pohon gede hari ini, karena dia udah nanam benih duluan dari jauh-jauh hari. -gatherich
Kutipan di atas mungkin sering diartiin kaya karma kali ya kalau negatifnya, apa yang kita tanam = apa yang kita tuai. Mungkin kadang kita ngerasa buat dapetin hidup bermakna itu berat, belum lagi kalau harus mikirin hidup orang lain, maslahat umat wedew berat sekali~ padahal hidup sendiri aja banyak yang harus dibenerin pfft tapi ya gapapa, kita kan emang hidup ga buat diri sendiri. Ada istilah Sanskritnya, Mudita; perasaan senang, simpatik ngeliat orang lain bahagia tanpa iri hati. Inget kata Aurora, âBumi gak hanya berputar untuk kita. Jadi jangan egoisâ Lagian kayanya orang yang hidupnya meaningful dan mindful juga bosannya bukan karena hal receh deh. Mereka selalu tau apa yang harus dilakuin, jadi ga bakal nyampe bosan hidup. Duh jangan deh ya.
p.s : Duduk di bangku taman dengan segelas iced vanilla latte sembari mendengarkan musik lofi menikmati langit biru dan hamparan hijau huwaa nyaman~ @Silverlake Vineyard, Chon Buri, Thailand 2018
Terima kasih sudah membaca sampai sini, kalau ada hal yang mau ditambah atau dikurangi, berkabar aja ya! Selamat menikmati hidup dan memaknainya~