Train #pic #gym #me #foco #mirror #IHateSelfie #lol #nopainnogain #good #cool #instagood #instampic #instancool #Instagram (em Smart Fit Santa Cruz)

seen from Ukraine

seen from Italy

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Russia

seen from Russia
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from Germany

seen from Tunisia

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from India
Train #pic #gym #me #foco #mirror #IHateSelfie #lol #nopainnogain #good #cool #instagood #instampic #instancool #Instagram (em Smart Fit Santa Cruz)
Aku Benci Selfie!
Selfie belakangan dan kedepannya, aku selalu berpikir itu adalah perilaku yang menjijikkan. Aku mengarahkan kamera ponsel ke muka manyun sok imut lalu cekrik jadi. Itu hanya bayanganku. Pasti semua orang tidak bisa membayangkan bagaimana aku berselfie, iya kan? Kenyataannya aku memang tidak pernah berselfie hahahaa.
Aku tidak tahu megapa, tapi selfie itu menjijikkan. Bukankah sudah cukup argumen untuk mengatakan selfie itu tidak baik? Mulai dari psikis yang bisa membuat pelakunya narsis abis hingga keselamatan pelaku itu tersendiri. Baru-baru ini ada orang meninggal di Malaysia dan India gara-gara selfie. Buankah itu konyol?
Selfie memang proses pengambilan gambar oleh seseorang dengan dikerjakan sendiri. Mengambil gambar diri sendiri. Bergaya lucu, imut, galak, bijaksana, atau dingin kemudian cekrek. Dari prosesnya saja sudah menggelikan. Apalagi yang melihat. Coba bayangkan kalian yang berselfie, bayangkan kalian sedang bergaya kemudian aku pelototin aksi kalian? Aku jamiin seribu tigaratus dua puluh empat persen kalian pasti akan malu. Lho to? Kalian saja sudah malu kok. Wes to itu nggilani.
Sekarang lihat hasilnya. Bagaimana biasanya bentuk-bentuk fotonya? Ya sama menggelikannya seperti tadi. DI sebuah frame ada satu wajah dengan pose beraneka menjijikan tadi, manyun, merem, melet atau sok cool. Padahal itu tidak cool. Kalau itu tidak boleh dibilang jelek atau jijik, trus apa? Apakah itu seni? Hanya seni yang boleh kabur dalam hal jelek ga jelek. Tapi semua pegiat seni aku jamin tidak akan setuju bila selfie itu kegiatan yang nyeni.
Pasti sudah banyak argumen di berita-berita mengenai dampak kesehatan jiwa. Itu benar lho temanku. Pertama, dari prosesnya yang menjijikkan itu kalian menikmati hasilnya. Lak yo tambah menjijikkan. Hahahaha tidak itu hanya tuduhan sepihakku. Yang benar adalah semakin banyak atau sering berselfie, pelakunya akan ketagihan. Dengan gaya seperti itu, si pelaku menginginkan hasil yang lebih baik lagi. Dampak besarnya ya seseorang akan kehabisan banyak waktu untuk berfoto.
Selain itu, berfoto juga membutuhkan properti yang bagus kan? Artinya gimmick yang mendukung. Sebelumnya ingat ya selfie itu tidak nyeni. Tapi mahalnya hampir kayak seni. Saat ketagihan dan mengingiinkan foto yang lebih baik, properti seperti baju, kamera itu sendiri, objek berfoto, daaan tempat!! Hasrat berselfie memaksa pelaku untuk memperbaiki penampilan terus menerus (itu salah? enggak lah njing, tapi kalau berlebihan dan tujuannya itu). Dari sisi ekonomi saja selfie itu membahayakan uang. Berapa uang yang bisa digunakan untuk hal yang lebih penting? membeli buku misalnya.
Selanjutnya adalah tempat. Barangkali fenomena foto “kapan kita ke sini?” belakangan ini cukup santer beredar di sosial media. Mengajak orang lain berkunjung ke suatu tempat (kafe atau tempat wisata biasanya) bisa dipromosikan lewat selfie. Bukankah itu menguntungkan bagi bisnis pariwisata? WOoo jelasss.. Tapi apakah orang-orang tadi hanya berwisata? Tidak juga. Itu adalah tindakan masokis yang membahayakan. Terkena dampak iming-iming selfie dari seorang teman kemudian terhipnotis melakukan hal yang jika alasanya berwisata sangat dipertanyakan motifnya.Aku akan menyebut yang terseret ini sebagai “korban” tindak kejahatan foto. Secara tidak sadar, korban-korban ini telah melakukan tindak konsumsi. Bila itu hanya untuk berfoto, itu sangat berlebihan. Beranikah kalian berwisata tanpa kamera?
Sekarang adalah medianya sendiri, KAMERA. Perkembangan teknologi memang harus terjadi, tak terkecuali dalam dunia foto. Setiap orang pasti berkeinginan untuk memiliki hasil foto yang bagus. Foto yang bagus dihasilkan dari kamera yang canggih. Dari situ saja sudah mengarah ke tindak konsumsi kan? Tentu, tapi aku tidak ingin membicarakannya lagi.
Perkembangan teknologi fotografi pada akhirnya telah mendukung semua orang untuk bisa memiliki kamera. Bisa berfoto, minimal dari kamera ponsel lah. Efek negatif dari teknologi? Pasti, teknologi kan memang begitu. Oke lupakan itu. Aku mau bilang kalau kamera adalah alat, jangan disalahkan. Manusianya! Bila kamera digunakan untuk mencipta, dalam hal ini berselfie, pantaskah selfie disebut karya? Anggap saja dunia sudah bergeser dan berkesimpulan bahwa selfie itu karya. Sekarang, apakah selfie merupakan refleksi dari kecerdasan manusia? Modaro!
Begitu bencinya aku sama selfie sampai tulisanku agak jahat dan berakal kan? Makanya. Selfie aku pikir akan menjadi hal yang wajar beberapa tahun ke depan. itu tidak bisa dibendung. Yang terpenting jangan berlebihan. Jangan sampai ada korban-korban konyol gara-gara selfie. Eh bukanya aku menyebut pelaku selfie itu korban? Berarti ini apa dong? Superkorban? Mahakorban? Hmmm modaro!
nb: sampai nanti aku akan membenci selfie. aku ingin membuli selfie lagi. mau belajar dulu sebelum membulinya lagi. biar nanti argumennya berlogika dan ilmiah.
#trowback le me,le annoying face #KeSabahKeKita #TravelPorn #SelfieKepalaHotakKo #ihateselfie #inotamodel #BajuMelay #TradisionalClothes #OOTD #POTD #Sialfie (at TH HOTEL Kota Kinabalu)
"I come from a land down under Where beer does flow and men chunder Can't you hear, can't you hear the thunder You better run, you better take cover." Men At Work - Down Under #Sialfie #TravelPorn #CutiCuti #ihateselfie #inotamodel #Hipster #HikayatMatNijam #Holiday (at KLIA, Departure Hall, Level 5)
selfie, with serina #Ihateselfie