Marlina
Halo teman, (memangnya ada yang nyapa balik? :3) Sekarang saya kuliah memasuki semester delapan. Whaaaat? Semester delapaaan? Ahh, biasa aja kali. Palingan juga pusing skripsi. Haha… mana jembatan? Manaaaaaa? *emot nangis Ahhh, lebai. Baiklah, sesuai janji saya semester kemarin kalau saya akan bercerita tentang sahabat-sahabat hebat saya. Perlu diketahui teman-teman kalau semua orang itu hebat, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. So, tetaplah bangga dengan apa yang kalian miliki. But remember, jangan jadikan kebanggaan kalian berevolusi menjadi kesombongan. Ingat kata pepatah, dimana bumi dipijak di situlah langit dijinjing. Artinya apa ya? Abaikan please! Pokoknya begitu lah ya, supaya agak kerenan dikit. By the way, speak-speak sebentar. Hari ini, tanggal 13 Februari 2015 pukul 11.05, daerah Depok, Jawa Barat mulai turun hujan. Hawanya dingin seperti di puncak Bogor, kalau di daerah Karanganyar ya seperti di Tawangmangu. Teman saya masih ada yang tidur, parah ya? Bismillah enggak. Sepuluh menit kemudian hujan reda, tiba-tiba jadi cerah. Lima menit kemudian mendung lagi. Pukul 11.35 mulai turun hujan, tapi hujannya cantik kaya salju. Beberapa detik kemudian sirna, beberapa detik kemudian lagi hujan cantik, dan begitu seterusnya hingga waktunya hujan deras tiba. What the *sensor! Mari kita mulai. Sahabat saya yang satu ini suka kuah mi rebus, mi apa ajalah. Selalu merasa dirinya itu gendut, padahal pipi doang yang gendut, badan mah kerempeng. Nggak juga sih. Paling cinta sama yang namanya pendidikan, apalagi sama anak-anak. Gampang tidur dimana saja dan kapan saja. Suka ketawa lihat film action berdarah, katanya sih buat antisipasi rasa takut. Paling keren nih ya, Master of Deadline. Siapa dia? Iya, benar sekali. Marlina. Siapa yang jawab? Hayooo ngaku! *padahal di judul sudah ada Saya kenal Marlina tiga setengah tahun yang lalu, dialah teman seperjuangan saya di jurusan Jepang. Kami sama-sama mahasiswa kampong dari daerah Klaten, Jawa Tengah. Dia di Klaten ujung utara, saya di Klaten ujung selatan. Kami sama-sama anak perbatasan yang bersekolah di SMA daerah seberang batas. Bingung? Intinya kami bersekolah di SMA kabupaten Sukoharjo. Puaaas?
Marlina bersekolah di SMA N 1 Kartasura dan saya di SMA N 1 Sukoharjo. Yang belum tahu nih ya, Kartasura itu masuk kabupaten Sukoharjo, bukan Solo. Oke? Jadi, bagi kalian anak Kartasura. Walaupun kalian lebih dekat ke Solo daripada Sukoharjo, jangan abaikan Sukoharjo. Jangan jadi kacang yang lupa akan kulitnya. Berbanggalah! Pertama saya kenal Marlina ketika ia menghubungi saya lewat SMS. Yang paling membekas di ingatan saya tentang pesannya adalah ketika ia mengatakan bahwa dia itu lemot, telmi, lola, yah itulah, dan meminta saya untuk memakluminya. Kemudian saya searching dia lewat akun facebook miliknya. Saya berpikir, kelihatannya nggak telmi-telmi amat kalau dilihat dari wajahnya, kaya orang pinter mah. Eh, pas ketemu di UI, ndilalah benar apa yang dia katakan. TELMI, seperti saya. Wajahnya tidak membuktikan kalau dia actually pintar. Btw, pintar itu luas ya maknanya, kalau udah terkontaminasi dengan telmi mah, mau cantik, cakep, pintar, keabadian itu sirna. Huaaah… Saya dan Marlina berjuang bersama-sama di kampus perjuangan, Universitas Indonesia *ceritanya bangga. Mulai dari kuliah, organisasi, kepanitiaan, dan kehidupan. Persahabatan yang kami jalani pun penuh dengan lika-liku kaya orang pacaran. Banyak orang bilang kita itu anak kembar karena kemana-mana selalu berdua. Sifat kita juga hampir sama, kesukaan juga hampir sama, pokoknya gitu deh. Kita sama tapi beda. Sahabat saya yang satu ini keren sekali, ingin mempunyai skill apa saja dan harus pintar di bidang apa saja. Karena menurutnya untuk melahirkan generasi bangsa, kita yang nantinya menjadi ibu haruslah menjadi ibu yang pintar bagi anaknya. Kepandaian anak menurun dari ibunya, sedangkan fisik anak menurun dari ayahnya. Ya, itu konsep hidup biologis yang dipercaya olehnya. Saya juga jadi termotivasi untuk menjadi pandai, pandai apa saja. Karena nanti saat menjadi ibu, kita bisA saja menjadi guru untuk anak, dokter untuk suami dan anak, tukang pijit buat suami dan anak, koki buat keluarga, dll. So, bagi calon ibu, jangan mau dengan pandangan hidup kasur, cuci, dapur. Kalian adalah induk dari penerus bangsa, jadilah ibu yang pintar! Bismillah. Untuk kesibukan yang dijalani sekarang, sedang sibuk skripsi. Haha… Bukanlah Marlina kalau hanya sibuk dengan kuliah dan buku-buku. Tak lupa untuk mengabdikan diri pastinya. Ngabdi dimana? Di tanah airlah teman-teman. Bismillah, sedang menuju ke dunia peangabdian selanjutnya. Doakan ya teman-teman. Baru dua minggu yang lalu ia pulang dari Sukabumi. Ngapain? Jalan-jalan? Bukanlaaah! Ia pulang dari mengabdikan diri, yaitu menjadi pengajar di daerah yang susah dijangkau baik kaki maupun sinyal. Ia menjadi pengajar GUIM 4 (Gerakan UI Mengajar), GUIM ini macam-macam kaya Indonesia Mengajar. Bisa dibilang anak atau cucunya IM. Mau tau kisahnya bagaimana? Hubungi dia aja lewat akun facebook, twitter, line, atau instagramnya. Marlina Ayuningtias, pasti ketemu deh! Sebelumnya juga dia ikut K2N UI 2014. Marlina di tempatkan di Long Loreh, Kalimantan. Jangan salah nih, K2N UI itu beda dari KKN di Universitas lain. Kita yang mengikuti K2N UI harus melewati proses seleksi yang panjang dan pendaftar tidak semuanya diterima. Keren nggak tuh? Jadi, anak K2N UI itu memang benar-benar yang sukarela dan mau mengabdi ke masyarakat, mengamalakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ke-3. Kemudian, K2N UI itu berasaskan problems solving based not programs solving based. Track record lainnya ada nggak? Waah, banyak sekali. Sebelum mengabdikan diri ke masyarakat, diolahlah dulu skillnya di organisasi kampus. Mulai dari Pandu Budaya angkatan 8 (organ gerakan mahasiswa), Anggota Koperasi Mahasiswa FIB UI, Himpunan Mahasiswa Japanologi (2012-2014), Staf dan Kabiro Kestari Badan Eksekutif Mahasiswa FIB UI (2012-2013), dll. Kepanitiaan juga banyak loh Sist, Bro. Mau tahu banyak lagi? Hubungi Marlina yah, atau cek media sosial yang digunakan. Haha… Bagaimana dengan perkuliahannya? Apakah nilainya buruk karena ia terlalu banyak mengikuti kegiatan? Oh..jelas tidaaaak. IPK tiga koma pokoknya, komanya berapa? Sarip ya sarip… pamali bilang IPK. Dia juga suka menulis loh guys, tulisannya keren-keren, tapi sayang dia kadang-kadang malu memperlihatkan tulisannya, padahal pernah dapat penghargaan juga loh atas hasil karya tulisannya. Mau tahu tulisannya? Sharing tulisan dengannya? Boleh kok boleh, tapi bayar royalty ke saya yaaa…hahaha. Maaf bohong. Hubungi saja lewat akun yang sudah saya sebutkan sebelumnya. :) Saya bangga sekali mempunyai sahabat seperti dia, banyak hal yang saya pelajari darinya pula. Best Friend. Oke. Cukup sekian dulu cerita mengenai sahabat super saya. Tentunya masih banyak lagi hal-hal yang belum saya ceritakan tentang siapa sih sebenarnya sahabat super saya ini. Mau tahu lebih lanjut? Hubungi akunnya, hahaha… Semoga ada hal yang dapat dipetik dari cerita saya mengenai sahabat-sahabat super saya. Next, siapa yaa? Bismillah, pokoknya tetap ada sesorang yang saya ceritakan, yang menginspirasi, yang keren, gokil, gilaaa, anak UI juga. Hahaha…
See you on the other story :)
















