Menyoal viral medsos tentang beredarnya video Bapak Presiden RI dan anak SD yang salah menyebutkan nama ikan. Aku jadi keingetan ikan versi lain.
Ikan ini versi mama. Dan sepertinya juga versi mama-mama lain di wilayah Sumatera. Lazimnya sih manggil mamak kalo di Sumatera ya, terutama Medan dan pelosoknya. Gatau kenapa mama ku ga pernah mau dipanggil mamak.
Jadi, cerita ikan dalam konteks tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan adanya perbedaan makna, namun TST (tahu sama tahu). Kalau biasanya kita kenal ikan berkembang biak di dalam air. Beda sama mama. Baginya, Ikan adalah lauk-pauk yang dimakan bersama nasi.
Apapun lauknya, semua wajib di embel-embeli ikan di depannya. Seperti misalnya mama sediakan lauk siang ini tempe atau tahu. Tetaplah beliau mengatakan, “Ndang makan yan. Nanti ikan tempenya abis, kau merajok.”
Jadi kalo dulu di rumah mama sedang rajin masak, kita satu rumah udah pasti kebawa-bawa bahasa ibu yang ini.
*ceritanya pulang sekolah*
“Makan yan, ndang pigi (pergi) les (kursus).”
“Apa ikannya ma?”
“Mama masak ikan ayam itu.”
“Mantap!”
Oh iya, ya mama dulu rajin banget masak (sebelum sibuk jadi ibu-ibu Dharma Wanita, PKK, BKKBN, Binaan UMKM, Penjahit Tahunan, Koordinator Bank Sampah, Penyuluh Manfaat Barang-barang Bekas, BKMT, dan lainnya sampai sekarang tenaga nya expired jadi kudu istirahat total di rumah). Paling seneng masak yang eksperimen malah. Di rumah lain belum ada, kita udah ngerasain duluan dan tentunya ‘agak’ beda. Hihihi
Namanya juga eksperimen yha. Kadang-kadang mama masak sambal teri bukan pake cabai merah tapi cabai rawit hijau yang bumbunya digiling manual pake ulekan terus ditumis dan dikuahin. Ah, ya Allah racikan eksperimen ini, legend.
Belum lagi kalo lagi eksperimen bikin kue lebaran. Seisi rumah wajib rasain kalo engga bakal ngambek hihihi. Alhamdulillah kue nya mama walau gosong dan kelebihan gula 1/2 kg masih bisa bikin kita bahagia. Ketawa tiada henti sepanjang hari.
Jadi, setelah kuliah dan melanglang buana ke daerah-daerah luar Sumatera baru ngeh pas makan di warteg-warteg kok beli lauk bilangnya langsung “Ayam Goreng” “Tempe” gitu. Gak ada embel-embel ikan di depannya.
Terus mikir...
Ikan Ayam. Sejak kapan ayam bisa berenang?
Gakpapa lah, Ma. Apapun sebutannya yang penting kita TST. Karena Laswell bilang juga kok kalo esensi komunikasi itu yang penting memiliki kesamaan arti dan makna. Selagi sama-sama ngerti, kenapa engga?