Pernahkah kalian mendengar nama Ikan Jendil? Ikan yang banyak ditemui di sepanjang sungai brantas dan sungai bengawan solo ini ternyata cukup populer loh!
Ikan yang memiliki nama latin Clupisoma Sinensis ini menjadi konsumsi favorit masyarakat jawa khususnya yang berada di sepanjang bantaran sungai tempat ikan ini berkembang biak. Menurut pengakuan masyarakat, ikan jendil memiliki rasa yang unik, gurih dan lezat, serta memiliki kadar lemak yang lebih sedikit dibandingkan ikan air tawar lain yang ada di sungai, tak heran ikan ini jadi primadona.
Bentuknya yang mirip seperti ikan patin membuat sebagian orang terkadang bingung membedakannya. Ikan Jendil cenderung memiliki tubuh yang lebih panjang dan sedikit kecil. Terdapat ciri-ciri khusus yaitu di sekujur tubuhnya dipenuhi lendir dan dominan berwarna hijau dan putih, tidak memiliki sisik serta berekor runcing.
Ikan jendil biasa hidup pada air mengalir dengan kedalaman 2-3 meter. Dapat dipancing dengan umpan ulat daun, jangkrik, umpan buatan, hingga cacing. Banyak yang mengatakan bahwa ikan air tawar ini tengah diambang kepunahan sama seperti kawannya yang lain, ikan rengkik. Melalui habitatnya di sungai brantas banyak warga yang mengaku mulai jarang menemui ikan tersebut. Cara penangkapan ikan dengan cara setrum yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab memang mempermudah proses penangkapan ikan dan mendapat hasil yang lebih melimpah. Namun di sisi lain hal tersebut juga membahayakan bibit ikan lain yang masih kecil serta merusak ekosistem yang ada di dalamnya.
Jika dibiarkan, tak hanya populasi ikan jendil saja yang terancam, tetapi ikan yang lain juga akan mulai mengalami kelangkaan. Mari bersama menjaga kelestarian sungai beserta makhluk yang ada di dalamnya dengan tidak melakukan eksploitasi melalui cara yang salah.











