Triadi
Triadi itu seperti hologram tiga dimensi.
Tahu?.
Sekarang biarkan ku bercerita kecil.
Dahulu, Entah kapan itu, Ada seorang anak abu-abu lucu. Ditemani sahabatnya si biru.
Abu-abu dan biru suka berpetualang. Menjelajah dunia lalu pulang. Tersenyum kocak membawa kisah tentang kasih atau kekonyolan di bumi tempat pijak kaki.
Biru adalah warna yang tegas. Lalu abu-abu adalah warna yang lemas. Biru punya peran yang jelas, menjadi laut misalkan. Atau redupkan pekat dan seketika jadi langit luas. Tapi abu-abu hanya jadi abu. Itu.
Bertahun kemudian abu-abu bersentuhan dengan banyak warna lain. Lalu menyerap pelan warna merah, kuning, hitam, putih, dan abu-abu yang sama namun tak serupa.
Sekarang, Saat ini diceritakan, Abu-abu bukanlah abu-abu yang dulu.
Coba lihat dari kanan, Pemandangan dari ekspresi nakal setiap hari tak tertahankan. Lalu coba lihat dari kiri, Gradasi hasil padu putih dan hitam, tertawa lalu tenggelam, makin terlihat menjadi-jadi. Namun untuk sekejap, Intiplah apa yang kau lihat dari bawah, Titik hitam pekat seolah mau menyembunyikan diri terlihat malu-malu melekat.
Triadi. Tetap abu-abu saat tampak depan. Namun,
Tahu?
Dia portrait hologram kehidupan.
***
(This poetry dedicated to my close friend, Ilham Triadi.)








