Impor Migas Indonesia Meningkat 8,13%, Didorong oleh Kebutuhan Minyak Menengah dan Hasil MinyakJakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia pada kuartal I 2024 telah mencapai US$ 9 miliar, atau setara dengan Rp 145,8 triliun (kurs Rp 16.200 per US$). Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 8,13% dibandingkan periode yang sama tahun 2023, di mana nilai impor migas tercatat sebesar US$ 8,33 miliar.Dalam periode Januari-Maret 2024, impor migas Indonesia didominasi oleh impor minyak mentah yang mencapai US$ 2,4 miliar dan impor hasil minyak sebesar US$ 6,6 miliar. Total impor migas tersebut menyumbang sekitar 16,4% dari total impor Indonesia selama periode tersebut, yang tercatat sebesar US$ 54,89 miliar atau Rp 889 triliun. Selebihnya, sebesar US$ 45,89 miliar merupakan impor non-migas.Pada bulan Maret 2024 saja, impor migas Indonesia mencapai US$ 3,33 miliar, naik 11,64% dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 2,98 miliar. Peningkatan ini menandakan adanya peningkatan kebutuhan migas dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan sektor industri, transportasi, dan kelistrikan.Sumber Impor Migas IndonesiaMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan bahwa sebagian besar impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia berasal dari Singapura, Malaysia, dan India. Sedangkan untuk impor minyak mentah, Indonesia memperoleh pasokan dari Arab Saudi dan negara-negara Afrika seperti Nigeria."Kita juga impor BBM dari tiga negara seperti Singapura, Malaysia, dan India. Ini harus diantisipasi karena sumber-sumber tersebut merupakan kilang di Singapura, Malaysia, dan India. Geopolitik ini memang berpengaruh," kata Arifin, seperti dikutip pada Selasa (23/4/2024).Sementara itu, impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) Indonesia berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS).Ketergantungan Impor MigasArifin menegaskan bahwa produksi minyak dalam negeri saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan domestik yang mencapai 1,44 juta barel per hari (bph). Produksi minyak nasional rata-rata hanya berkisar di angka 600 ribu bph, sehingga dibutuhkan impor minyak sebesar 840 ribu bph. Impor ini terdiri dari BBM sebesar 600 ribu bph dan minyak mentah sebesar 240 ribu bph.Data BPS juga menunjukkan bahwa pada tahun 2022, impor minyak bumi Indonesia didominasi oleh Singapura dengan nilai sebesar US$ 10,3 miliar dan berat bersih 10,9 juta ton. Diikuti oleh Malaysia dengan nilai US$ 6,2 miliar dan berat bersih 6,7 ton. Kemudian Arab Saudi dan Nigeria juga menjadi pemasok utama minyak bumi Indonesia.Secara keseluruhan, Indonesia mengimpor minyak bumi pada tahun 2022 sebanyak 47,74 juta ton atau setara dengan US$ 40,41 miliar (Rp 656,76 triliun). Ketergantungan Indonesia terhadap impor migas ini menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi untuk ketahanan energi nasional.
















