Digital Labour #BukuSaku #IndoProgress
seen from Japan
seen from Russia
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore

seen from Singapore
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Russia
Digital Labour #BukuSaku #IndoProgress
Konsepsi nasionalisme yang anti penindasan, anti kolonial, nasionalisme yang luas, seluas udara, nasionalisme yang mengutamakan hajat hidup rakyat yang berada di atas tanah dan air ketimbang tanah dan air itu sendiri, dijungkir-balikkan sedemikian rupa. Nasionalisme mereka adalah NKRI harga mati, nasionalisme yang sempit, yang ugal-ugalan, yang militeris. Nasionalisme yang lebih suka membiarkan rakyatnya mati demi tanah dan airnya
tulisan “NKRI = Nasionalisme - Militeris” oleh Coen Husain Pontoh, diakses dari situs Indoprogress http://indoprogress.com/2015/12/nkri-nasionalisme-militeris/?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+indoprogress-feed+%28IndoPROGRESS%29 tanggal 7 Desember 2015 pukul 09.55 WIB
ANDA pasti sudah tahu cerita ini. Mahasiswa berencana mendemo Presiden Jokowi. Bersamaan dengan itu, berembus kencang isu di media: sosial demo ini bertujuan menggulingkan Jokowi. Ini akan dilakukan dalam rangka memperingati hari Reformasi. Namun isu yang sudah terbangun sejak awal … Continued
Rentang pemikiran Marxisme & Agama sebagai Candu Rakyat
Rentang pemikiran Marxisme & Agama sebagai Candu Rakyat
PENGGALAN kalimat Marx yang paling terkenal dan sekaligus menjadi slogan atas dirinya yaitu ‘agama adalah candu rakyat’, mungkin saja telah menjadi saripati dari apa yang ditemukannya mengenai Komunisme. Kemudian, apakah ada celah akan suatu pemahaman dan analisa yang menyatukan peran-peran agama dan marxisme dalam sejarah gerakan sosial ini?
Yang perlu diketahui mengenai ungkapan ‘agama adalah…
View On WordPress
TERJADI disensus di kalangan gerakan kiri Indonesia menyikapi Jokowi. Secara sangat general, setidaknya tiga posisi telah diajukan:[1] Mendukung Jokowi, bukan demi Jokowi melainkan demi merealisasikan agenda rakyat pekerja dan mewujudkan sosialisme melalui perebutan kekuasaan politik. Strateginya adalah memanfaatkan populisme, menginstrumentalisasikan … <a href="http://indoprogress.com/2014/03/notabilia-dan-fragmen-fragmen-tentang-gerakan-kiri-dan-jokowi/">Continued</a>
Dalam tulisan ini, ada pendapat yang menarik bagi saya, "Jokowi bukan sosok yang lahir dari rahim perjuangan rakyat pekerja. Jokowi ditemukan ‘di tengah jalan,’ "
Kaum kiri berpendapat Jokowi adalah sosok populis yang sebenarnya tidak merepresentasikan amat kepentingan mereka. Namun, memilih Jokowi-- yang belum teruji ruh sosialisnya-- adalah sebagai salah satu bentuk pengamanan agar rezim kuasi-fasis tidak terjadi di Indonesia (yang pada akhirnya mengancam hajat kaum pekerja).
INDOPROGRESS| Selamat Datang Mahasiswa Baru
oleh Dian Purba
Postera crescam laude, saya akan bekerja untuk generasi mendatang (Semboyan Universitas Melbourne)
SEJUJURNYA, saya jenuh menulis tentang mahasiswa dengan cara-cara yang biasa. Saya ingin menulis sesuatu yang lain, untuk menyambut sekelompok pemuda beruntung ini. Saya berusaha membabarkannya dengan bahasa sederhana dan sekutil santai.
INDOPROGRESS| Teror Seksual
11 JULI 2011
oleh Lilik H.S., Anggota Klub Feminis-Queer Menulis, Jakarta
DI BANTAENG, Sulawesi Selatan, seorang bayi perempuan berusia 8 bulan diculik dan diperkosa! NF, si bocah malang itu, diculik tengah malam pada 28 Mei 2011. Setelah 13 jam kemudian, ia ditemukan oleh seorang nelayan dalam kondisi terikat di sebuah perahu kosong. Darah mengucur dari alat vitalnya.
Berita tersebut pertama kali dilansir oleh Metrotvnews.com pada akhir Mei 2011. Membaca judulnya saja sudah membuat gemetar. Tak kuasa membayangkan bagaimana remuknya hati sang ibu, Sulastri, saat bayi yang sedang terlelap di sisinya itu tiba-tiba raib, dan esok harinya ditemukan dalam kondisi demikian mengenaskan.
Peristiwa keji ini sontak memicu amarah warga Kabupaten Bantaeng. Lebih dari 3.000 orang menggelar aksi mendesak polisi segera menuntaskan kasus penculikan sekaligus pemerkosaan anak yang marak terjadi di kabupaten tersebut (Metrotvnews.com, 6 Juni). Sebagai informasi, dalam beberapa bulan terakhir, terjadi beberapa kasus penculikan anak di daerah tersebut. Namun kasus terakhir yang menimpa bayi inilah yang paling menghebohkan lantaran disertai indikasi pemerkosaan.
Sayang, kejadian miris ini tak terlalu bergaung di media massa, hanya koran-koran lokal dan sebuah televisi nasional yang memberitakan. Media lainnya lebih riuh oleh berita tentang M. Nazaruddin dan Nunun Nurbaetie, dua tersangka korupsi yang kabur ke luar negeri. Media juga lebih tertarik membombardir publik dengan sakit radang payudara Malinda Dee, karyawan Citibank yang membobol Rp 17 miliar uang nasabahnya.
Berita di luar nalar manusia ini sayup-sayup menerobos relung nurani lewat ruang jejaring sosial. Semua orang mendidih hatinya. Tak sanggup menalar, bagaimana seorang manusia dapat melakukan tindak biadab seperti itu. Sebagai bentuk simpati, beberapa ibu memelopori menggalang dukungan melalui Twitter dengan hashtag#charity4Nurfadilah. Beberapa dari mereka juga datang langsung ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, tempat si bayi dirawat dan mengupayakan penanganan yang lebih memadai.
Peristiwa ini sekaligus menjungkirbalikkan bermacam stigma diskriminatif yang kadung melekat di masyarakat bahwa dalam kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan, perempuanlah yang kerap dipersalahkan. ‘Oh, pantas, dia berbaju seksi,’ atau ‘Dianya sih yang menggoda!’ Saat korban melaporkan ke kepolisian pun serta-merta akan diberondong dengan pertanyaan yang tak kalah menyakitkan dibanding pemerkosaan itu sendiri. Belum lagi berhadapan dengan “kejam”-nya pemberitaan media, yang acap kali tidak sensitif terhadap perempuan korban. Kini, masih berlakukah stigma ‘perempuan penggoda,’ ketika seorang bayi tanpa daya pun diperkosa?
Ragil Nugroho:
Timor Leste yang lebih muda usianya dari kita mungkin lebih beradab. Negara itu membentuk Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi [CAVR] Timor Leste. Segala bentuk kekerasan, pembunuhan, perkosaan yang terjadi di negara tersebut sejak invansi tentara dan rezim Orba ditindaklanjuti. Mereka pun menghasilkan laporan berjudul Chega!. Tak main-main, laporan tersebut setebal 5.000 halaman lebih. Sebanyak 7.668 kesaksian korban, saksi, dan pelaku pelanggar kemanusiaan direkam. Sekarang, Chega! telah menjadi dokumen resmi negara. Itulah yang menjadi landasan untuk melakukan rekonsialiasi. Hukum dan keadilan ditegakkan. Itulah yang dihendaki Pram.
Dalam pidatonya, Aniceto Guterres Lopes, ketua CAVR, menyatakan: ‘Mengapa Timor Leste memilih menghadapi masa lalunya yang sulit? …bisa saja Timor Leste tidak melakukan apa-apa atau memilih memaafkan dan melupakan. Tetapi bangsa kita memilih bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia masa lalu…’ Itulah Timor Leste, lebih menghargai kemanusiaan daripada bangsa kita.
Read More (?)