Inggit Sumber Kekuatan Terbesar Soekarno
Membaca biografi ini bukan membuat saya berfokus pada Soekarno sebagai tokoh utama yang diceritakan, melainkan saya banyak terinspirasi oleh perempuan2 hebat dibelakang Soekarno terutama Inggit Garnasi, istri kedua Soekarno. Membaca buku ini membuat saya agak geregetan sendiri mengucap “kenapa Soekarno setega itu” dan “kenapa Inggit sekuat dan seikhlas itu”. Tahun 1921 di umur 20 tahun Soekarno diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil, Technische Hooge School, yang saat ini adalah ITB. Tahun 1923 Soekarno menikahi Inggit Garnasih. Debut politik pertama Soekarno dimulai dibangku perkuliahannya ketika ia mendirikan Klub Studi Umum dan rutin menulis di “Indonesia Moeda” penerbitan milik Klub. Tulisan pertamanya berjudul “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme”. Kemudian Soekarno berjasa mengilhami Sumpah Pemuda, menjadi personifikasi Satu Indonesia, hingga akhirnya ia ditangkap yang dalam persidangannya ia berpidato “Indonesia Menggugat” untuk selanjutnya ia diasingkan. Semua masa2 itu ia lewatkan bersama Inggit. Dibalik penampilan Soekarno yang sangat percaya diri, langkah yang tegap, suara yang mengguntur, Soekarno adalah pribadi yang rapuh. Sebagai orang yang percaya memindahkan gunung dengan kata2, Soekarno membutuhkan dukungan total dari lingkungan. Dialah Inggit, janda yang lebih tua umurnya 12 tahun dari Soekarno, merupakan sumber semangat yang menyala dan selalu menemani Soekarno di masa2 sulit. Tanpa Inggit, Soekarno barangkali benar-benar habis saat di tahan di Penjara Sukamiskin dan Ende dibunuh oleh kesendirian. Sayangnya Inggit tidak bisa memberi Soekarno anak hingga akhirnya Soekarno berpaling pada Fatmawati. Inggit hanya mengantarkannya ke Gerbang Kemerdekaan dan tidak ikut masuk Istana Presiden menjadi Ibu Negara, cukuplah Inggit menjadi sumber kekuatan Soekarno saat masa pergerakan sebelum kemerdekaan.










