Inginnya melingkarkan tanganku ke tubuhnya yang hangat dan empu
Menumpukan segala asa dan lelah yang terasa sepanjang hari
Tapi apa daya, tanganku hanya mampu memeluk harap dan udara kosong
Inginnya menyebut namanya dengan bibirku, mendengarkan aku memanggil namanya
Mengatakan betapa sayang dan cintaku padanya, mengungkapkan betapa beruntung ku menemukannya diantara lautan manusia ini
Namun tidak ada suara yang keluar dari bibir, hanya lirih terdengar suara-suara dari dalam hati
Berharap kau mendengarnya meski dalam hening sekalipun
Inginnya tangan ini menggenggam tanganmu
Mengisi rongga-rongga kosong yang ada disitu, yang menunggu diisi dan mengharapkan kehadiran seseorang
Sayangnya, inginku tak sama denganmu. Bukan tanganku yang ingin kau genggam dan kau beri rasa aman dalam setiap sentuhannya, melainkan tangannya
Inginnya hatimu untukku, meski hanya beberapa bagian kecil
Berharap semoga dengan rongga-rongga kecil tersebut lama-lama menjadi besar, semakin besar
Tapi dia berhasil meluluhlantakkan hatimu yang beku, menyiramkan hangat ke sebuah lubang besar yang dingin, hingga meluap dan membasahi seluruh hatimu yang kering kerontang
Akupun ikut tersapu oleh hangatnya, seiring dengan mencairnya hatimu yang bukan karenaku