Walking through the Wilderness
4 tahun yang lalu saat baru pindah ke Taiwan, aku menemukan notes menarik yang ditulis seorang kawan yang saat itu sedang dalam proses menyelesaikan penulisan disertasinya di bidang Teologi di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan. Judul notesnya adalah “Berjalan di Padang Gurun Kehidupan”.
Inilah kutipan notesnya yang kurasa sangat relevan untuk siapa saja yang sedang berjuang menyelesaikan tugas belajarnya di negeri orang.
BERJALAN DI PADANG GURUN KEHIDUPAN!
Kemarin siang dalam percakapan di kelas "Field Education", kami diminta membayangkan kehidupan kami seperti sebuah buku cerita yang sedang kami tulis.
Pertanyaan pertama dosen kami adalah sudah berapa bab yang kalian tulis? Pertanyaan kedua beliau, kira-kira apa judul bab yang sedang kalian tulis sekarang? Satu persatu kami diminta menjelaskan. Tiba giliran saya, dengan tenang saya katakan, judul bab saya sekarang: "Berjalan di Padang Gurun!" Spontan dosen saya tersenyum dan kawan-kawan saya tertawa lalu bertanya mengapa? Apakah Korea seperti padang gurun buatmu? Itu pertanyaan lanjutan mereka... Ini penjelasan singkat saya:
Saya tidak memilih duduk atau tinggal, tapi saya memilih berjalan. Karena toh satu waktu saya harus kembali ke negeri saya. Berjalan juga bagi saya menunjukkan sebuah tindakan aktif. Tindakan yang harus saya lakukan supaya hidup ini terus berlanjut.
Padang gurun adalah tempat di mana saya berada sekarang, Korea Selatan. Tetapi padang gurun yang saya maksudkan bukanlah seperti gambaran umum: kering, tandus dan tidak banyak harapan. Mungkin itu sebabnya semua kawan-kawan saya (yang notabene adalah orang Korea bertanya serius tentang hal ini). Lebih dari semua ciri-ciri fisik di atas, padang gurun bagi saya punya beberapa makna yang dalam:
Pertama, sunyi/sepi. Kalau harus jujur, rasa kesepian selalu menghinggapi setiap orang yang jauh dari tanah kelahirannya. Jauh dari keluarga, sanak saudara, sahabat dan kerabat. Tapi bukankah dalam kesunyian itu kita dimampukan untuk berefleksi secara tenang, menemukan siapa kita ketika terpisah jauh dari semua yang kita kasihi. Dan ketika kita sampai pada titik pusat perenungan itu, bukankah kesunyian itu berbicara lebiiiiiiiiiih banyak lagi tentang siapa kita. Menggugah kesadaran-ku, ke-aku-an-ku. Ya, sunyi dan sepi harus saya hadapi, saya tidak punya pilihan lain. Ini adalah kesempatan emas untuk membiarkan diri merasakan keterpisahan itu, tetapi sekaligus berharap pada air yang menyegarkan di padang gurun ini.
Kedua, padang gurun, meminjam istilah Maria Harris, adalah tempat di mana (saya) mencapai turning point dan tak tahu harus kemana. Merasa seorang diri di tengah-tengah belantara. Dengan apa yang saya punya, dengan apa yang ada di sekeliling saya berusaha untuk bisa survive. “Berkreasi”, menciptakan sesuatu untuk kehidupan.
Alasan ketika, sederhana namun nyata benar bahwa berbagai tantangan padang gurun melatih saya menjadi semakin tangguh dan mandiri. Itu saja yang bisa saya jelaskan dan SELESAI!
Hmmm, berharap bab selanjutnya dari buku kehidupan saya ini bisa ditulis. Mungkin judulnya akan berganti menjadi “Berjalan di Taman Bunga” atau “Berjalan di tengah Keramaian Kota” atau mungkin “Berjalan di Hutan Belantara”.. hahahaha....Tapi entah apalah judulnya nanti, saya menikmati berjalan di padang gurun kehidupan saya saat ini. Sungguh sangat saya nikmati. Terima kasih Tuhan, membiarkan saya menapaki perjalanan panjang ini. Terima kasih untuk terus menjadi teman seperjalanan saya. GandenganMu erat saya rasakan selalu :)