Saya Belum Pernah Pacaran.
Suatu hari saat pelajaran agama, Pak Guru bertanya pada muridnya. Sebuah pertanyaan yang di masa sekarang ini mungkin terbilang tidak penting, aneh, bahkan lucu. Ya, itu terbukti dari respon para murid kelas 12 (3 SMA) yang tertawa dan menunjukan wajah heran setelah mendengar pertanyaan itu. Namun, Pak Guru tidak merasa kecewa bahkan merasa sangat bahagia telah menanyakan pertanyaan itu. Karena ia bukan hanya mendapat sebuah jawaban melainkan juga sebuah pelajaran berharga dari seorang muridnya.
“Saya mau kalian jujur, siapa disini yang belum pernah pacaran? Angkat tangan!”
Dari 30 murid di kelas itu, hanya ada satu orang siswi yang dengan penuh percaya diri mengangkat tangannya. Hal ini sontak membuat semua temannya melihat kearahnya. Siswi ini tetap mengangkat tangannya dan tersenyum membalas semua pandangan teman-temannya.
“Cuma satu? Yang lainnya sudah pernah pacaran semua?” tanya Pak Guru lagi. Jumlah tangan yang terangkat tidak bertambah.
“Ya, kamu boleh turunkan tanganmu. Siapa namamu?” “Mawar, Pak” “Kamu belum pernah pacaran sekalipun?” “Alhamdulillah belum, Pak”
Terdengar sayup-sayup suara dari teman-temannya “Bohong tuh..” “Masa sih gak pernah pacaran” “Bener kok, kita diajarin dari kecil kalau bohong itu dosa. Saya nggak mau dapet dosa.”
“Eh bener dia nggak bohong, saya percaya dia gak pernah pacaran, dia mah orang baik-baik” seorang siswi yang duduk di sebelah Mawar ikut bicara. “Jadi, yang udah pernah pacaran termasuk kamu bukan orang baik-baik?” tannggap Pak Guru. “Eh bukan gitu juga, Pak. Maksud saya Mawar tuh anaknya alim dan islami banget gituu..” bela siswi tersebut Pak Guru tersenyum.
“Apa kamu mau atau berniat suatu saat nanti pacaran?” tanya Pak Guru sambil berjalan mendekati tempat duduk Mawar. “Nggak mau, Pak. Ayah saya melarang keras soal pacaran.” “Tapi kan kamu bisa pacarannya sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketauan Ayah kamu. Kamu bisa tanya bagaimana caranya ke teman-teman kamu yang lain. Kamu nggak akan kena marah ayah kamu kalau nggak ketauan” “Ayah saya nggak tau, tapi Allah pasti tau. Kan Bapak juga sering bilang Allah Maha Melihat.” Mawar menghela napas kemudian melanjutkan penjelasannya, “Lagian yang saya takuti bukan kemarahan ayah, ayah juga nggak pernah bilang kalau ayah bakal marah kalau tau saya pacaran. Yang saya takuti itu kemarahan Allah. Saya nggak mau nanti Allah marahin ayah dihari kiamat. Ayah selalu bilang ke saya kalau saya itu amanah dari Allah yang nantinya Allah minta pertanggungjawabannya diakhirat. Ayah juga bilang kalau hal tersulit dalam hidupnya itu adalah menjaga anak perempuannya, makannya ayah selalu minta bantuan saya supaya saya menjaga diri saya dari hal-hal yang Allah larang biar nanti Allah bangga sama ayah karna ayah udah ngejalanin tugasnya dengan baik. Saya sayang sama ayah, ayah udah ngelakuin banyak pengorbanan buat saya dari saya kecil dan sampai kapan pun ayah rela ngelakuin apapun buat saya. Masa saya nggak mau berkorban buat ayah yang sebenernya bukan suatu hal yg susah atau berat malahan bermanfaat buat saya sendiri.”
Sadar kalau ia sudah berbicara terlalu panjang, ia berhenti berbicara. Semua teman-temannya memperhatikan dia. Begitu juga Pak Guru dengan senyumnya yang terus terukir dibibirnya bahkan kini matanya nulai berkaca-kaca.
“Lanjutkan Mawar, Bapak yakin kamu belum seleaai, tolong lanjutkan”
Mawar tersenyum malu, namun akhirnya ia melanjutkan, “Pacaran itu mendekati zina dan Allah melarang kita mendekati zina. Sebenernya Allah ngelarang kita pacaran karna Allah sayang sama hambanya. Nggak rugi sama sekali kok nggak pacaran, justru untung. Nyelametin kita sama orang tua kita dari murka Allah , trus kita jadi terlindung dari hal-hal yang gak kita mau, kita juga jadi gak pernab sakig hati karna cowok, gak galau-galauan atau baper-baperan juga”
“Tapi kamu pernah kan ngerasain jatuh cinta atau suka gitu sama cowok?” Tanya seorang teman perempuan Mawar lainnya. “Pernah, benerapa kali. Saya normal kok..” “Terus gimana? cowok itu tau gak kamu sika sama dia?” “Ya nggak gimana-gimana, gak tau karna saya juga gak pernah menunjukan, biar jadi rahasia saya sama Allah.” “Pernah nggak ada cowok yang deketin kamu terus nyatain kalau dia sayang sama kamu?” “Belim pernah, ya mungkin karena saya selalu jaga jarak kalau berhubungan sama cowok hehehe.”
Semua terdiam sejenak.
“Subhanallah. Bapak bangga sama kamu dan bapak yakin ayah kamu juga pasti sangat bangga punya putri seperti kamu. Bapak juga percaya Allah bangga sama ayah kamu karna beliau berhasil mendidik kamu dengan baik. r. Terima kasih karna kamu sudah membantu saya membeli pelajaran penting untuk teman-teman kamu dikelas ini, bahkan kamu juga sudah memberi sebuah pelajaran berharg untuk diri saya sendiri dari kata-kata yang kamu ucapkan. Semoga Allah selalu melindungi dan memberi rezeki buat kamu dan keluarga kamu ya, Mawar.” Ucap Pak Guru dengan matanya yang masih berkaca-kaca.
“Aamiin, teeima kasih atas do'anya, Pak. Dan bapak nggak perlu berterima kasih ke saya karna bukan saya yang memberi pelajaran itu, saya cuma menjadi perantara semua berasal dari Allah. ” balas Mawar.
Pak guru kembali tersenyum.
ps. ini hanya sebuah karangan namun bisa saja jadi kenyataan.














