Jiwa yang Terabaikan
Manusia adalah mahluk yang telah diciptakan oleh Allah dengan sebaik baiknya. Sebagaimana dalam (QS. At-Tin: 4) "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya." Hal ini mengingatkan bahwa Allah telah memberikan karunia berupa akal pikiran yang salah satunya dapat digunakan untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah melalui dirinya. Selain itu, segala keterbatasan yang ada dalam diri manusia hakikatnya untuk menyadari bahwa kesempurnaan Hanyalah milik Allah. Selama ini yang selalu diusahakan manusia hanyalah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya saja, tanpa memperhatikan unsur lain yang ada dalam dirinya. Kebutuhan fisik yang orientasinya hanya kepuasan untuk menuruti hawa nafsu yang tak berujung. Kepuasan nafsu yang tak mengenal makanan, minuman, pakaian, harta, dan aksesoris fisik lainnya apakah halal ataukah haram? maslahat ataukah mudharat? Hal seperti inilah yang membuat manusia lupa akan hal-hal yang dibutuhkan oleh unsur penting yang ada dalam dirinya yaitu jiwa. Sehingga jiwa yang ada dalam dirinya terabaikan, hanya demi membangun topeng atau fisik belaka. Renungkanlah..
Berapa persenkah konsumsi untuk kebutuhan fisik?
Berapa persenkah konsumsi untuk kebutuhan jiwa?
Tanyakanlah pada diri, lebih banyak fisik ataukah jiwa? Padahal jiwa lah yang hakikatnya dapat mengantarkan seseorang kepada RabbNya, Allah. Jiwa lah yang sejatinya akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Sebagai seorang Muslim, tentunya meyakini bahwa dunia ini sementara, begitupun dengan fisik atau jasad manusia yang pada akhirnya akan hancur. Sebagaimana Allah telah menyebutkan dalam QS. Al-Hadid: 20 tentang hakikat kehidupan dunia seperti tanaman yang tumbuh mengagumkan lalu seiring waktu akan layu menguning.
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (QS. Al-Hadid:20)
Marilah kita renungkan makna dari ayat tersebut, tiada lain untuk mengingatkan bahwa fisik yang selama ini dibangun oleh manusia akan sirna. Lain halnya dengan jiwa atau ruh yang sejatinya akan sampai pada RabbNya.
Karena Allah merindukan jiwa jiwa yang tenang. Jiwa-jiwa yang di dalamnya selalu diliputi keikhlasan dalam beramal. Jiwa-jiwa yang mengaharapkan keridhaanNya. Jiwa-jiwa yang merindukan perjumpaan dengan RabbNya.
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27-30)
Alangkah baiknya seorang Muslim selalu merawat dirinya dengan seimbang yang memenuhi kebutuhan fisiknya sesuai dengan syariah tanpa mengabaikan kebutuhan jiwanya. Memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berlandaskan prinsip tauhid. Pemenuhan kebutuhan hidup yang tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Contohnya seperti aktivitas makan selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, juga diniatkan untuk menguatkan ibadah. Selain itu mencari ilmu sebagai nutrisi bagi akal dan jiwa. Karena ilmu adalah pupuk iman dan pemandu amal. Dengan demikian, keputusan seorang Muslim dalam berkonsumsi tidak lagi berdasarkan rasionalitas dan self interest, namun rasionalitas yang terbingkai dalam kerangka syariah serta adanya kepedulian sosial. Hal ini termasuk "Consumption In Islamic Perspective" yang mengatur bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya berdasarkan maqashid syariah.
Ahad, 11 Muharam 1439 H/ 1 Oktober 2017


















