Bangunan sebuah karya
Kita semua belajar dari pertualangan intelektual manusia selama berabad-abad. Iterasi, inovasi hingga disrupsi saat ini adalah hasil dari tangga penemuan-penemuan pendahulu. Para seniman dunia sebagian besar berkarya dengan melihat karya-karya yg ada sebelumnya lalu menjadikannya lebih baik.
Jika pemikiran filsuf Islam Al-Farabi dipengaruhi oleh plato, maka plato dipengaruhi oleh Socrates, Socrates oleh kaum Sofis, kaum Sofis oleh Heraklitus.
Manusia saling mempengaruhi antar lintas generasi di segala bidang. China saling mempengaruhi dalam perkembangan bisnis mereka, Jepang saling mempengaruhi kedisiplinan mereka, dan Indonesia saling mempengaruhi membentuk budaya gotong royongnya. Elon Musk bersama Tesla dan X-Spacenya, harus berterima kasih pada Toyota, Suzuki, Mercedes Benz, Pekerja Aspal, Thales sebagai penemu aktivitas listrik, dan masyarakat Amerika yang memaksa jiwa kompetisinya terus berinovasi dan mendisrupsi.
Pemikiran semacam ini sudah lama dibahas seperti Erich From dalam bukunya " Memiliki dan Mengada", juga seniman Salvador Dali pernah berkata " Mereka yang tidak ingin meniru sesuatu, tidak akan menghasilkan apa-apa ". Olehnya itu, kata " Memiliki " sudah agak pantas untuk manusia; yang berarti bersifat tidak murni dan sementara. Sebaliknya, " Menciptakan " hanya untuk Tuhan.
Melalui tulisan ini, aku mengobati diriku yang berusaha memunculkan rasa sombong atas kepemilikan sebuah karya.












